Bagi banyak orang, eyeliner mungkin hanyalah bagian dari rutinitas riasan harian. Namun, bagi Zahra Hankir dan banyak perempuan di wilayah diaspora, kohl atau celak memiliki makna yang jauh lebih dalam. Berawal dari diskusi santai saat makan malam bersama rekan-rekannya dari Iran, Hankir mulai menelusuri jejak sejarah dan simbolisme di balik garis hitam yang menghiasi mata tersebut. Pemahaman ini mengungkap bahwa kohl bukan sekadar alat kecantikan, melainkan identitas yang kuat bagi perempuan minoritas di seluruh dunia.
Evolusi Eyeliner: Lebih dari Sekadar Estetika
Sejarah penggunaan kosmetik mata dapat ditarik kembali hingga ribuan tahun lalu ke peradaban besar di Mesir Kuno, Mesopotamia, dan Persia. Di Mesir Kuno, sekitar tahun 4000 SM, kohl sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Menariknya, penggunaan riasan ini tidak mengenal batas gender maupun kelas sosial; baik laki-laki maupun perempuan, dari rakyat jelata hingga bangsawan, semuanya mengenakan celak.
Fungsi kohl pada masa itu melampaui tujuan kecantikan. Masyarakat kuno menggunakannya sebagai sarana ritual spiritual dan perlindungan medis. Kohl diyakini mampu melindungi mata dari infeksi penyakit serta silau matahari yang menyengat di padang pasir. Begitu sakralnya benda ini, orang Mesir Kuno bahkan mengubur wadah kohl bersama jenazah agar dapat digunakan di alam baka.
Rahasia Kecantikan Mesopotamia dan Persia
Di wilayah Mesopotamia, riasan mata juga memegang peranan krusial dalam standar kecantikan. Temuan arkeologis menunjukkan penggunaan bahan-bahan seperti timbal sulfat untuk mempertegas garis mata. Para wanita Mesopotamia menyimpan kohl mereka dalam potongan tiram dan mengaplikasikannya menggunakan jarum yang terbuat dari gading atau perunggu. Hal ini membuktikan bahwa sejak zaman dahulu, manusia telah memiliki teknik yang kompleks dalam merawat diri dan mengekspresikan identitas melalui kosmetik.
Jika kita berbicara tentang “influencer” pertama dalam dunia eyeliner, Ratu Nefertiti adalah sosoknya. Patung ikonik Nefertiti yang ditemukan pada tahun 1912 oleh arkeolog Jerman, Ludwig Borchardt, menampilkan sang ratu dengan riasan mata yang sangat presisi. Alisnya melengkung sempurna dengan garis mata hitam pekat yang kontras, menciptakan tampilan yang penuh otoritas dan daya tarik.
Gaya riasan Nefertiti ini kemudian memicu tren di Eropa, khususnya di Jerman, di mana para perempuan mencoba meniru tampilan “eksotis” tersebut sebagai simbol pemberdayaan. Hingga hari ini, pengaruh Nefertiti tetap abadi melalui ribuan tutorial riasan di platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube yang berusaha mereplikasi ketajaman matanya.
Keberagaman Makna Eyeliner di Berbagai Belahan Dunia
Penelitian mendalam membawa kita melihat bagaimana eyeliner diadaptasi oleh berbagai budaya dengan makna yang unik. Meski aplikasinya berbeda, benang merahnya tetap sama: perlindungan dan identitas.
- Jepang: Para Geisha menggunakan eyeliner berwarna merah sebagai simbol perlindungan tradisional yang telah bertahan selama berabad-abad.
- Meksiko-Amerika: Dalam budaya Chola, eyeliner yang tebal merupakan bentuk perlawanan, kebanggaan budaya, dan pernyataan identitas yang tegas.
- Chad: Suku Wadabi, kelompok nomaden Fulani, memiliki tradisi unik di mana para pria bersaing dalam kontes kecantikan. Mereka menggunakan riasan mata untuk menarik perhatian juri perempuan.
- Yordania: Pria Badui di Petra mengenakan kohl tidak hanya untuk menghalau sinar matahari, tetapi juga sebagai penanda status lajang dan ritual menuju kedewasaan.
Di banyak kebudayaan Timur Tengah dan Asia Selatan, kohl juga sering diaplikasikan pada mata bayi dan anak-anak. Praktik ini didasari oleh kepercayaan bahwa celak dapat melindungi mereka dari “mata jahat” (evil eye) serta memperkuat penglihatan. Signifikansi budaya ini bahkan tercermin dalam nama-nama populer seperti Kajal atau Kahilain yang berakar dari istilah untuk eyeliner.
Warisan Budaya dan Pengakuan Dunia
Upaya untuk mendapatkan pengakuan UNESCO terhadap kohl dianggap sebagai langkah penting dalam menghargai warisan masyarakat di belahan bumi selatan. Selama berabad-abad, komunitas di Timur Tengah dan Afrika telah menjaga tradisi ini meskipun menghadapi tantangan kolonialisme dan upaya penghapusan budaya.
Bagi para penggunanya, mengenakan kohl adalah sebuah ritual yang hampir bersifat spiritual. Ini bukan sekadar menggambar garis di kelopak mata, melainkan cara untuk terhubung dengan leluhur dan sejarah panjang peradaban manusia. Dari meja rias modern hingga penggalian arkeologis di Mesir, eyeliner tetap menjadi simbol kecantikan yang tak lekang oleh waktu, menyatukan aspek kesehatan, kepercayaan, dan ekspresi diri dalam satu sapuan warna hitam pekat.


















