Artis peran kenamaan, Aurelie Moeremans, baru-baru ini mengeluarkan sebuah pernyataan tegas terkait respons publik terhadap buku memoarnya yang sangat dinanti, “Broken Strings”. Dalam sebuah langkah proaktif yang menunjukkan kepedulian mendalam terhadap integritas karyanya dan kesejahteraan individu, Aurelie secara eksplisit meminta khalayak untuk tidak menyerang atau mem-bully karakter-karakter yang mungkin tergambar dalam bukunya, terutama jika tindakan tersebut hanya didasarkan pada spekulasi atau tebakan semata. Permintaan ini muncul di tengah gelombang antusiasme dan rasa ingin tahu publik yang tinggi terhadap detail-detail pribadi yang ia ungkapkan dalam memoar tersebut, sebuah fenomena yang seringkali menyertai penerbitan karya-karya autobiografi dari figur publik.
Pernyataan penting tersebut disampaikan Aurelie melalui broadcast channel eksklusifnya di Instagram, yang diberi nama “Broken Strings Circle”. Platform ini memungkinkan Aurelie untuk berkomunikasi langsung dan intim dengan para pengikutnya, menciptakan sebuah ruang diskusi yang lebih terkontrol dan personal. Melalui saluran ini, ia menyampaikan pesannya dengan nada yang tulus dan penuh permohonan. “Please ya teman-teman 🤍 Jangan mem-bully atau menyerang karakter di Broken Strings, apalagi kalau cuma berdasarkan tebakan. Belum tentu benar, dan jujur aku enggak enak bacanya. Kasihan!” ujarnya pada Jumat (16/1). Ungkapan ini tidak hanya mencerminkan kekhawatirannya terhadap potensi misinterpretasi dan serangan yang tidak berdasar, tetapi juga menunjukkan empati yang kuat terhadap individu yang mungkin menjadi sasaran spekulasi publik. Istilah “mem-bully” yang ia gunakan mengindikasikan bahwa ia melihat tindakan identifikasi dan serangan berbasis tebakan sebagai bentuk perundungan digital yang dapat menimbulkan dampak serius. Kekhawatiran akan “belum tentu benar” menyoroti bahaya informasi yang tidak terverifikasi, sementara pernyataan “enggak enak bacanya. Kasihan!” mengungkap beban emosional yang ia rasakan ketika melihat potensi kerusakan yang diakibatkan oleh spekulasi semacam itu.
Memahami Esensi “Broken Strings”: Pengalaman Grooming dan Pesan di Baliknya
Lebih lanjut, Aurelie Moeremans secara tegas mengarahkan perhatian publik untuk fokus pada inti cerita dan pesan yang ingin ia sampaikan melalui “Broken Strings”, bukan pada upaya identifikasi karakter. Dalam memoar ini, ia dengan berani membagikan pengalaman pribadinya yang menyakitkan sebagai korban grooming saat usianya baru menginjak 15 tahun. Pengalaman ini menjadi poros utama narasi, sebuah pengungkapan yang membutuhkan keberanian luar biasa dan memiliki relevansi sosial yang mendalam.
Untuk memahami sepenuhnya bobot cerita Aurelie, penting untuk mendalami apa itu grooming. Grooming adalah istilah yang merujuk pada kondisi ketika seorang anak atau remaja berada di bawah manipulasi psikologis yang sistematis oleh orang dewasa yang lebih tua, seringkali dengan tujuan eksploitasi seksual atau bentuk pelecehan lainnya. Proses ini biasanya dimulai dengan membangun hubungan kepercayaan dan persahabatan, secara bertahap mengisolasi korban dari sistem pendukungnya (keluarga, teman), menormalisasi perilaku yang tidak pantas, dan pada akhirnya, mempersiapkan korban untuk pelecehan. Pada usia 15 tahun, seseorang masih sangat rentan secara emosional dan psikologis, sehingga menjadi target empuk bagi predator yang terampil dalam memanipulasi. Efek jangka panjang dari grooming dapat sangat merusak, mencakup trauma psikologis yang mendalam, masalah kepercayaan, depresi, kecemasan, dan kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat di masa depan. Dengan membagikan kisahnya, Aurelie tidak hanya melakukan proses penyembuhan pribadi tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesadaran publik tentang bahaya dan tanda-tanda grooming, sebuah isu krusial yang seringkali tersembunyi dalam masyarakat. “Fokus ceritanya bukan ke sana, tapi ke pengalaman dan pesan yang ingin aku sampaikan,” tegas Aurelie, menggarisbawahi bahwa tujuan utamanya adalah edukasi dan empati, bukan sensasi atau pengungkapan identitas.
Batasan Empati dan Tanggung Jawab Digital dalam Diskusi Publik
Meskipun demikian, Aurelie Moeremans juga menunjukkan pemahaman akan kompleksitas penerbitan memoar yang melibatkan orang lain. Ia menyatakan bahwa apabila ada pihak-pihak yang secara sukarela mengaku sebagai karakter tertentu dalam bukunya, hal itu sepenuhnya menjadi urusan dan tanggung jawab mereka masing-masing. Pernyataan ini menunjukkan garis batas yang jelas antara spekulasi publik yang tidak bertanggung jawab dan pengakuan diri yang mungkin datang dari pihak terkait. Ini adalah nuansa penting yang membedakan antara tindakan yang didorong oleh rasa ingin tahu yang tidak sehat dengan potensi pengakuan atau penyesalan dari individu yang mungkin terlibat. Namun, ia kembali menekankan bahwa tindakan menebak-nebak identitas lalu menyerang secara membabi buta adalah hal yang sangat ia larang dan tidak ia inginkan.
“Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu kalian menyerang, please jangan. Terima kasih sudah menjaga ruang ini tetap aman dan penuh empati 🥺🤍” ucap Aurelie. Pesan penutup ini merupakan sebuah seruan untuk menciptakan dan mempertahankan sebuah “ruang aman” di dunia maya, sebuah lingkungan diskusi yang didasarkan pada empati, rasa hormat, dan pemahaman. Dalam konteks narasi personal yang melibatkan trauma seperti grooming













