Sebuah investigasi mendalam yang melibatkan otoritas transportasi nasional dan kementerian terkait akhirnya mengungkap tabir misteri di balik insiden terbakarnya sebuah unit Jetour T2 di ruas Tol Jagorawi. Penyelidikan komprehensif yang dipimpin bersama oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), serta melibatkan PT Jetour Sales Indonesia, telah menyimpulkan bahwa kecelakaan tersebut bukanlah disebabkan oleh kegagalan produk, melainkan oleh serangkaian faktor yang berkaitan dengan dinamika benturan ekstrem. Hasil investigasi ini menegaskan kembali komitmen Jetour dalam menghadirkan kendaraan yang aman dan memenuhi standar regulasi global, sekaligus memberikan transparansi kepada publik mengenai kejadian yang sempat menimbulkan kekhawatiran.
Fungsi Keselamatan Kendaraan Berjalan Optimal di Tengah Benturan Keras
Salah satu temuan krusial dari investigasi yang dilakukan oleh Kemenhub dan KNKT adalah bahwa seluruh sistem keselamatan pada unit Jetour T2 yang mengalami insiden berfungsi dengan sangat baik, sesuai dengan desain dan standar yang telah ditetapkan. Dalam momen benturan yang keras, perangkat keselamatan pasif seperti kantung udara (airbag) dilaporkan mengembang secara penuh dan efektif, memberikan perlindungan maksimal bagi penumpang. Lebih lanjut, struktur bodi kendaraan terbukti sangat kokoh, mampu menahan dampak benturan yang signifikan tanpa mengalami terguling. Hal ini menunjukkan integritas struktural yang luar biasa, yang pada akhirnya memastikan bahwa pintu kendaraan tetap dapat dibuka secara normal pasca-kecelakaan, sebuah indikator penting dari kemampuan kendaraan untuk memberikan akses keluar yang aman bagi penumpangnya dalam situasi darurat.
Kinerja sistem keselamatan ini tidak hanya terbatas pada airbag dan integritas struktural. Laporan investigasi juga menyoroti bahwa seluruh aspek keselamatan kendaraan bekerja sesuai dengan rancangan. Kondisi ini secara tegas membuktikan bahwa Jetour T2 memenuhi persyaratan keselamatan dan regulasi yang berlaku, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pengujian yang dilakukan oleh badan independen seperti Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor Bekasi, yang juga turut hadir dalam audiensi investigasi, semakin memperkuat klaim bahwa kendaraan ini telah melewati serangkaian evaluasi ketat sebelum dinyatakan layak jalan. Hal ini memberikan kepercayaan tambahan kepada konsumen mengenai standar keamanan yang ditawarkan oleh Jetour.
Analisis Teknis Ungkap Benturan Samping Ekstrem Sebagai Pemicu Utama
Analisis teknis yang mendalam oleh para ahli dari KNKT dan Kemenhub secara definitif mengidentifikasi bahwa insiden yang terjadi bukanlah tabrakan dari belakang, melainkan sebuah benturan samping (side impact) yang sangat ekstrem. Dalam kejadian ini, Jetour T2 mengalami dampak yang sangat kuat pada sisi sampingnya, menyebabkan kerusakan parah pada kedua roda, baik di bagian depan maupun belakang. Tingkat kerusakan ini begitu parah hingga kendaraan sempat terangkat dari permukaan jalan dan terseret di sepanjang guardrail pembatas tol. Skenario ini merupakan bukti nyata dari kekuatan benturan yang dialami oleh kendaraan tersebut.
Gesekan yang terjadi antara bagian bawah kendaraan dengan permukaan aspal serta guardrail selama proses terseret tersebut menjadi faktor krusial yang memicu terjadinya percikan api. Gesekan berintensitas tinggi ini, diperparah dengan kerusakan struktural yang sudah terjadi, menciptakan kondisi yang memungkinkan timbulnya panas berlebih. Meskipun sistem keselamatan kendaraan secara keseluruhan berfungsi normal, dinamika benturan yang luar biasa ini menciptakan serangkaian peristiwa sekunder yang akhirnya berujung pada insiden kebakaran. Penting untuk dicatat bahwa analisis ini sepenuhnya didasarkan pada data teknis dan rekayasa kecelakaan, bukan pada asumsi atau spekulasi.
Proses Terbakarnya Kendaraan Akibat Benturan Berulang dan Gesekan Intens
Moh Ranggy Radiansyah, Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kronologi terbakarnya kendaraan pasca-benturan keras. Ia menguraikan bahwa ketika kendaraan terlempar ke udara dan kemudian mendarat kembali, terjadi benturan ekstrem pada bagian bawah kendaraan. Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa struktur roda kiri depan dan belakang telah mengalami kerusakan berat akibat dampak awal kecelakaan. Benturan berulang dan keras inilah yang menciptakan kondisi kritis.
Dalam situasi benturan dengan energi yang sangat besar, gesekan yang terjadi antara komponen mobil dengan permukaan jalan dapat dengan mudah menimbulkan percikan api. Lebih lanjut, Ranggy menjelaskan bahwa area bawah kendaraan, termasuk tangki bahan bakar, berada tepat di zona benturan yang parah. Percikan api yang dihasilkan dari gesekan tersebut kemudian berinteraksi dengan kondisi pasca-benturan yang sangat parah, menciptakan reaksi berantai yang akhirnya memicu timbulnya api. Pihak Jetour Sales Indonesia secara tegas menyatakan bahwa tidak ada indikasi adanya cacat produk bawaan (defect) atau kegagalan sistem pada unit Jetour T2 yang terlibat dalam insiden tersebut. Seluruh komponen kendaraan diyakini telah memenuhi standar keselamatan yang berlaku, dan kebakaran yang terjadi merupakan konsekuensi langsung dari tingkat keparahan kecelakaan itu sendiri.

















