Pasar otomotif roda dua di Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan performa yang cukup impresif, di mana Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) melaporkan angka penjualan domestik mencapai 577.763 unit sepanjang bulan Januari. Pencapaian ini menandai pertumbuhan sebesar 3,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, didorong oleh stabilitas suku bunga acuan serta tingginya minat masyarakat terhadap skema pembiayaan kredit yang tetap kompetitif. Meskipun angka ini masih berada di bawah rekor Januari 2024 yang sempat menyentuh angka 592.658 unit, tren positif di awal tahun ini memberikan sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan penyesuaian kebijakan fiskal daerah yang mulai diberlakukan secara serentak pada awal tahun anggaran ini.
Peningkatan volume penjualan sebesar 3,11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisi 560.301 unit pada Januari 2025 menjadi 577.763 unit pada Januari 2026 mencerminkan ketangguhan sektor otomotif sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Keberhasilan ini tidak lepas dari kondisi makroekonomi yang relatif kondusif, terutama dengan dipertahankannya suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan moneter yang stabil ini menjadi katalisator utama bagi lembaga pembiayaan atau leasing untuk menawarkan tenor dan bunga yang menarik bagi calon konsumen. Mengingat sebagian besar transaksi sepeda motor di Indonesia dilakukan melalui jalur kredit, stabilitas suku bunga menjadi variabel krusial yang menentukan fluktuasi permintaan di pasar. Para pelaku industri melihat bahwa kepercayaan diri konsumen untuk mengambil kewajiban jangka panjang masih cukup tinggi, didukung oleh penyerapan tenaga kerja di sektor formal yang mulai membaik pasca-transisi ekonomi tahun lalu.
Dinamika Pasar Domestik dan Tantangan Kebijakan Fiskal 2026
Meskipun mencatatkan pertumbuhan positif di awal tahun, industri sepeda motor nasional tidak lantas terbebas dari hambatan. Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, menggarisbawahi adanya potensi hambatan dari sisi regulasi perpajakan daerah. Pemberlakuan sistem “opsen” atau pajak tambahan yang diterapkan oleh sejumlah pemerintah daerah di awal tahun 2026 dikhawatirkan dapat mengoreksi laju pertumbuhan penjualan. Pajak tambahan ini berisiko menaikkan harga on-the-road (OTR) kendaraan, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah sebagai segmen pasar terbesar. AISI terus melakukan komunikasi intensif dengan pemerintah agar kenaikan opsen ini dibarengi dengan pemberian insentif lain, seperti peniadaan kenaikan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) atau kemudahan administrasi lainnya, guna menjaga agar beban finansial konsumen tidak melonjak secara drastis yang dapat memicu penurunan permintaan secara mendadak.
Selain faktor kebijakan fiskal, kondisi geopolitik global dan fluktuasi harga komoditas juga menjadi variabel yang dipantau ketat oleh para produsen. Ketegangan di berbagai belahan dunia seringkali berdampak pada rantai pasok komponen impor dan harga energi, yang secara tidak langsung memengaruhi biaya produksi dan logistik. Di sisi lain, faktor alam seperti kondisi cuaca yang ekstrem juga memiliki korelasi unik dengan angka penjualan di Indonesia. Curah hujan yang tinggi atau bencana banjir di wilayah sentral ekonomi seringkali menghambat distribusi unit ke diler-diler serta menurunkan niat beli konsumen secara temporer. Oleh karena itu, AISI memproyeksikan target penjualan tahunan yang cukup konservatif namun realistis, yakni berada di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit untuk sepanjang tahun 2026, menyesuaikan dengan dinamika ekonomi yang masih penuh dengan ketidakpastian.
Kinerja Ekspor dan Kontribusi Komponen Otomotif Global
Sektor ekspor sepeda motor Indonesia juga menunjukkan performa yang sangat dinamis pada pembukaan tahun 2026. Data AISI menunjukkan bahwa pengiriman unit dalam bentuk utuh atau Completely Built Up (CBU) mencapai 52.924 unit pada Januari 2026. Angka ini mengalami lonjakan signifikan jika dibandingkan dengan Januari 2025 yang hanya mencatatkan ekspor sebanyak 40.878 unit. Kenaikan ekspor CBU ini membuktikan bahwa produk sepeda motor rakitan Indonesia semakin kompetitif dan memiliki standar kualitas yang diakui di pasar internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara, Amerika Latin, dan sebagian pasar Eropa. Keberhasilan ini juga menunjukkan efisiensi manufaktur yang terus meningkat di pabrik-pabrik besar dalam negeri yang kini menjadi basis produksi global untuk beberapa merek ternama.
Namun, tren yang sedikit berbeda terlihat pada kategori Completely Knocked Down (CKD). Pada Januari 2026, ekspor CKD tercatat sebanyak 673.703 unit, sedikit mengalami koreksi jika dibandingkan dengan perolehan Januari 2025 yang mencapai 674.701 unit. Meski menurun tipis, volume ekspor CKD tetap berada pada level yang masif, menunjukkan peran vital Indonesia sebagai pemasok komponen utama bagi pabrik-pabrik perakitan di negara lain. Sementara itu, lonjakan luar biasa terjadi pada kategori ekspor komponen atau part by part. Pada Januari 2026, jumlah komponen yang diekspor mencapai 12.475.225 unit, naik drastis dari angka 8.922.483 unit pada Januari tahun sebelumnya. Detail perbandingan kinerja ekspor dan domestik dapat dilihat pada tabel berikut:
| Kategori Penjualan/Ekspor | Januari 2025 (Unit) | Januari 2026 (Unit) | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Penjualan Domestik | 560.301 | 577.763 | +3,11% |
| Ekspor CBU | 40.878 | 52.924 | +29,47% |
| Ekspor CKD | 674.701 | 673.703 | -0,14% |
| Ekspor Part by Part | 8.922.483 | 12.475.225 | +39,81% |
Optimisme Industri di Tengah Fluktuasi Ekonomi dan Suku Bunga
Menatap sisa tahun 2026, optimisme industri tetap terjaga berkat dukungan kuat dari sektor jasa keuangan. Sigit Kumala menekankan bahwa peran lembaga pembiayaan sangat krusial dalam memitigasi potensi pelemahan daya beli. Dengan adanya kolaborasi antara produsen dan perusahaan leasing dalam bentuk promo uang muka rendah atau potongan angsuran, diharapkan target penjualan tahunan sebesar 6,4 juta hingga 6,7 juta unit dapat tercapai. AISI melihat bahwa pasar sepeda motor di Indonesia telah mencapai titik kedewasaan, di mana konsumen tidak hanya mencari kendaraan sebagai alat transportasi, tetapi juga mempertimbangkan nilai investasi, efisiensi bahan bakar, dan teknologi terbaru yang disematkan pada unit kendaraan.
Sebagai perbandingan jangka panjang, total ekspor sepanjang tahun 2025 yang lalu memberikan gambaran mengenai skala industri ini. Sepanjang 2025, ekspor CBU mencapai 544.133 unit, CKD sebanyak 8.139.894 unit, dan komponen part by part mencapai angka fantastis 138.455.487 unit. Dengan modal performa yang kuat di awal 2026, para pelaku industri berharap tren pertumbuhan ini dapat berlanjut secara konsisten. Fokus utama saat ini adalah menjaga keseimbangan antara memenuhi permintaan domestik yang terus tumbuh dengan memperluas penetrasi pasar global, sembari tetap waspada terhadap perubahan kebijakan moneter global yang mungkin memengaruhi suku bunga di masa depan. Sinergi antara kebijakan pemerintah, stabilitas keuangan, dan inovasi produk dari produsen akan menjadi kunci utama dalam mempertahankan momentum positif industri sepeda motor Indonesia di kancah internasional.

















