Sebuah penemuan paleontologi yang mengguncang pemahaman konvensional tentang sejarah evolusi dinosaurus baru-baru ini terungkap di Spanyol utara. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi secara formal spesies dinosaurus mungil seukuran ayam modern, yang kini dikenal dengan nama ilmiah Foskeia pelendonum. Fosil-fosil yang telah menjalani penelitian panjang sejak ditemukan pada tahun 1998 ini, bukan hanya sekadar menambah daftar spesies yang diketahui, melainkan juga secara fundamental mengubah pandangan para ahli mengenai garis keturunan evolusi, khususnya pada kelompok dinosaurus pemakan tumbuhan yang disebut ornithopoda. Penemuan ini, yang dipimpin oleh tim internasional ahli paleontologi, mengungkap bahwa anatomi Foskeia yang tak terduga telah “menulis ulang pohon evolusi,” sebagaimana diungkapkan oleh Penélope Cruzado-Caballero, seorang ahli paleontologi terkemuka dari Universidad de La Laguna di Spanyol. Dinosaurus kecil ini diyakini telah menjelajahi Bumi sekitar 125 juta tahun yang lalu, pada periode Kapur Awal, di wilayah yang kini dikenal sebagai Provinsi Burgos, Spanyol Utara, menawarkan jendela baru ke dalam keragaman dan adaptasi kehidupan prasejarah.
Spesies baru ini, Foskeia pelendonum, mendapatkan namanya dari gabungan kata Yunani kuno ‘Fos’ yang berarti cahaya, dan ‘pelendonum’ yang merujuk pada Pelendones, suku kuno yang pernah mendiami wilayah tempat fosil ini ditemukan. Dinosaurus herbivora ini termasuk dalam kelompok ornithopoda, sebuah ordo besar dinosaurus berparuh yang mencakup spesies seperti Iguanodon dan Hadrosaurus. Namun, yang membuat Foskeia begitu istimewa adalah ukurannya yang sangat kecil, hanya sekitar 25 hingga 30 sentimeter tingginya, menyerupai ukuran ayam modern. Meskipun demikian, penelitian mendalam menunjukkan bahwa dinosaurus ini memiliki tengkorak yang berevolusi secara tak terduga, jauh dari kesederhanaan yang mungkin diasosiasikan dengan ukuran tubuhnya. Penélope Cruzado-Caballero menekankan keanehan anatominya yang seolah memaksa para ilmuwan untuk meninjau kembali garis evolusi dinosaurus.
Mengungkap Keragaman Dinosaurus Mungil dan Tantangan Penemuan
Penemuan Foskeia pelendonum berasal dari kumpulan fosil yang ditemukan di Spanyol utara, mewakili setidaknya lima individu dinosaurus yang berbeda. Tim internasional, yang dipimpin oleh ahli paleontologi Paul-Emile Dieudonné dari Universitas Nasional Río Negro di Argentina, telah mendedikasikan waktu sejak tahun 2013 untuk meneliti dan menganalisis material fosil ini. Dieudonné menyoroti bahwa bagian paling menarik dari penemuan ini adalah potensi besar untuk menemukan lebih banyak material fosil, terutama dari dinosaurus berukuran kecil. “Dinosaurus berukuran kecil jauh lebih beragam daripada yang kita duga sebelumnya,” ungkap Dieudonné kepada BBC. Ia menambahkan, “Sebagian besar kelompok yang kita ketahui kemungkinan berasal dari dinosaurus berukuran kecil yang menjadi lebih besar seiring berjalannya waktu,” sebuah hipotesis yang mengubah paradigma tentang bagaimana kelompok dinosaurus berevolusi dan berkembang.
Namun, proses penemuan fosil dinosaurus berukuran kecil ini tidaklah mudah. Dieudonné menjelaskan bahwa fosil-fosil yang lebih kecil cenderung lebih rapuh dan jauh lebih sulit untuk ditemukan dibandingkan dengan sisa-sisa dinosaurus raksasa. “Sayangnya, material kecil jauh lebih mudah tercerai-berai… sedimen tulang-tulang kecil lebih mudah hilang,” jelasnya. Kerentanan ini membuat catatan fosil dinosaurus kecil menjadi sangat langka, sehingga setiap penemuan, seperti Foskeia, menjadi sangat berharga dan signifikan. Ahli paleontologi Koen Stein dari Vrije Universiteit Brussel di Belgia, salah satu penyusun studi tersebut, mengonfirmasi bahwa Foskeia adalah salah satu dinosaurus terkecil yang pernah ditemukan. “Saya pikir kita dapat dengan aman mengatakan bahwa [dinosaurus] ini mungkin termasuk yang terkecil, jika bukan yang terkecil, di benua Eropa,” kata Stein, bahkan membuka peluang untuk disebut sebagai dinosaurus terkecil di dunia berdasarkan temuan sejauh ini.
Evolusi Rhabdodontomorph dan Adaptasi Unik
Meskipun ukuran fosil yang kecil seringkali mengindikasikan individu yang masih muda, penelitian lebih lanjut terhadap Foskeia pelendonum menunjukkan hal sebaliknya. Setidaknya satu dari fosil yang ditemukan adalah dinosaurus dewasa, sebuah temuan penting yang mengonfirmasi bahwa ukuran kecil adalah karakteristik spesies ini, bukan hanya tahap pertumbuhan. Stein juga mengemukakan hipotesis menarik mengenai cara bergerak dinosaurus ini: saat masih muda, mereka mungkin berjalan dengan keempat kaki, dan kemudian beralih ke gaya berjalan bipedal (dua kaki) saat mencapai usia dewasa. Foskeia diidentifikasi sebagai rhabdodontomorph tertua yang diketahui, sebuah kelompok dalam ornithopoda. Dieudonné berspekulasi bahwa rhabdodontomorph “mungkin berukuran sangat kecil sejak awal,” sebuah adaptasi evolusi yang memungkinkan mereka untuk “menghindari pemangsa.” Ukuran kecil ini, menurutnya, “tidak sesuai untuk berlari jarak jauh, melainkan untuk mencari tempat persembunyian yang cepat,” menunjukkan strategi bertahan hidup yang unik di lingkungan prasejarah yang penuh ancaman.
Konsep “miniaturisasi tidak berarti kesederhanaan evolusi” ditekankan oleh ahli paleontologi Marcos Becerra dari Universidad Nacional de Córdoba di Argentina, yang menggarisbawahi bahwa meskipun kecil, Foskeia memiliki kompleksitas evolusi yang luar biasa. Salah satu fitur paling mencolok adalah susunan giginya yang khas, termasuk gigi depan yang mengarah ke depan “seperti trisula raksasa di tengahnya.” Selain giginya yang “agak aneh,” Stein juga menyoroti “morfologi tengkorak yang menarik” dari Foskeia. Fitur-fitur ini, menurutnya, “menunjukkan contoh lain dari eksperimen yang telah dilakukan evolusi,” di mana adaptasi unik muncul untuk mengatasi tantangan lingkungan dan gaya hidup tertentu.
Pencarian Berpuluh Tahun dan Terobosan Tengkorak
Perjalanan menuju identifikasi formal Foskeia pelendonum adalah kisah panjang yang membentang puluhan tahun. Sebagian besar fosil-fosil ini pertama kali ditemukan pada tahun 1998, dengan beberapa penemuan tambahan di tahun-tahun berikutnya dari lokasi yang sama. Namun, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menganalisis dan mengidentifikasinya secara definitif. Sosok kunci di balik penemuan awal situs ini dan pengumpulan sebagian besar sisa-sisa fosil adalah Fidel Torcida Fernández-Baldor, salah satu penulis studi dan seorang peneliti dari Museum Dinosaurus di Salas de los Infantes, Spanyol utara. “Sejak awal, kami tahu tulang-tulang ini luar biasa karena ukurannya yang sangat kecil,” kenang Torcida Fernández-Baldor, menyiratkan bahwa bahkan pada tahap awal, potensi signifikansi penemuan ini sudah dirasakan.













