JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif ambisius yang digagas pemerintah, diproyeksikan akan menjangkau puluhan juta warga Indonesia dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan bahwa program ini telah berhasil menyentuh sekitar 60 juta penerima manfaat, dengan target ambisius untuk memperluas jangkauannya hingga 82,9 juta orang pada tahun 2026. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga diproyeksikan akan menciptakan jutaan lapangan kerja baru dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi negara. Perkiraan anggaran yang besar, mencapai Rp 80 triliun per kuartal pada tahun 2026, mencerminkan skala dan prioritas pemerintah terhadap program strategis ini. Pertanyaan krusial yang muncul adalah bagaimana program MBG akan diimplementasikan, dampak ekonomi apa saja yang diharapkan, dan bagaimana anggaran sebesar itu akan dikelola secara efektif untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2028.
Skala Program Makan Bergizi Gratis dan Proyeksi Penerima Manfaat
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu pilar utama dalam strategi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam aspek gizi dan ekonomi. Airlangga Hartarto, dalam berbagai kesempatan, menegaskan bahwa program ini telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam menjangkau masyarakat. Saat ini, diperkirakan sekitar 60 juta individu telah merasakan manfaat langsung dari penyediaan makanan bergizi ini. Namun, ambisi pemerintah tidak berhenti di situ. Target yang lebih besar telah ditetapkan untuk tahun 2026, di mana program ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada 82,9 juta orang. Angka ini mencakup berbagai kelompok rentan, termasuk ibu hamil, balita, dan anak-anak usia sekolah, yang merupakan fokus utama untuk pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Untuk mencapai target penerima manfaat yang masif ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit. Diperkirakan, kebutuhan anggaran untuk program MBG pada tahun 2026 akan mencapai Rp 335 triliun secara keseluruhan. Angka ini akan didistribusikan secara bertahap, dengan perkiraan pengeluaran sekitar Rp 80 triliun setiap kuartalnya. Anggaran sebesar ini mengindikasikan keseriusan pemerintah dalam memastikan ketersediaan dan kualitas makanan yang disajikan, serta keberlanjutan program dalam jangka panjang. Dengan target 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2026, diperkirakan akan ada sekitar 21 miliar porsi makanan yang didistribusikan sepanjang tahun tersebut. Hal ini menunjukkan kompleksitas logistik dan operasional yang harus dikelola dengan cermat untuk memastikan program berjalan efektif.
Dampak Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja
Lebih dari sekadar program sosial, MBG dirancang sebagai instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Airlangga Hartarto mengemukakan bahwa setiap peningkatan 1 persen dalam pertumbuhan ekonomi berpotensi menyerap sekitar 400 ribu tenaga kerja. Dengan asumsi rantai pasok program MBG berjalan secara optimal, mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi makanan siap saji, program ini diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi diproyeksikan setara dengan peningkatan sekitar 7 persen. Ini merupakan angka yang sangat substansial, mengingat target pertumbuhan ekonomi nasional yang ambisius.
Optimisme pemerintah dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2028 sangat didukung oleh potensi program MBG. Airlangga memprediksi bahwa program ini memiliki kapasitas untuk menciptakan sekitar 3 juta lapangan kerja baru. Penciptaan lapangan kerja ini akan tersebar di berbagai sektor, mulai dari pertanian dan peternakan sebagai pemasok bahan baku, industri pengolahan makanan, sektor logistik dan distribusi, hingga tenaga kerja yang terlibat langsung dalam persiapan dan penyajian makanan. Efektivitas rantai pasok menjadi kunci utama dalam merealisasikan potensi penciptaan lapangan kerja ini. Dengan rantai pasok yang berjalan lancar dan efisien, program MBG tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui asupan gizi, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi jutaan individu dan keluarga.
Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045
Pemerintah, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen sebagai fondasi krusial untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu dari beberapa instrumen utama yang diharapkan dapat mendorong pencapaian target tersebut. Selain MBG, penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang diidentifikasi meliputi sektor jasa yang terus berkembang, industri manufaktur bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global, serta pengembangan sektor energi terbarukan yang ramah lingkungan. Inisiatif dalam pengembangan energi hidrogen dan semikonduktor juga menjadi sorotan sebagai sektor strategis yang akan mendorong inovasi dan daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.
Airlangga Hartarto juga menyoroti perbaikan indikator kesejahteraan masyarakat yang telah dicapai Indonesia, yang dinilainya sebagai bukti ketahanan ekonomi negara. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 8,5 persen, tingkat pengangguran turun menjadi 4,9 persen, dan rasio Gini yang mengukur ketimpangan pendapatan berada di angka 0,375. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, mencapai 75,9. Indikator-indikator ini mencerminkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi telah berdampak positif pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Koordinasi lintas sektor yang kuat diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga dan meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia, yang tercermin dalam berbagai indikator positif tersebut. Program MBG, dengan skala dan dampaknya, diharapkan akan semakin memperkuat fondasi ekonomi Indonesia dalam perjalanannya menuju kemakmuran pada tahun 2045.

















