-
Indeks Nikkei 225 (N225) di Jepang: Berbeda dengan IHSG, indeks acuan Jepang ini justru menunjukkan penguatan sebesar 0,35 persen, mencapai posisi 54.003,89. Kenaikan Nikkei bisa jadi didorong oleh faktor-faktor domestik Jepang yang positif, seperti rilis data ekonomi yang menguntungkan atau kebijakan moneter yang akomodatif, atau bahkan aliran modal yang mencari tempat berlindung dari gejolak di pasar lain.
-
Indeks Hang Seng (HSI) di Hong Kong: Mengalami tekanan yang cukup signifikan, Hang Seng turun 1,13 persen ke level 26.580,28. Pelemahan ini mungkin terkait dengan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi Tiongkok, ketegangan geopolitik, atau isu-isu spesifik yang mempengaruhi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa Hong Kong.
-
Indeks Shanghai Composite (SSEC) di China: Menunjukkan sedikit penguatan sebesar 0,11 persen, mencapai 4.080,3. Kenaikan tipis ini mungkin mencerminkan upaya pemerintah Tiongkok untuk menstabilkan pasar atau adanya optimisme terbatas terhadap pemulihan ekonomi di tengah berbagai tantangan.
-
Indeks Straits Times Index (STI) di Singapura: Turut melemah sebesar 0,72 persen, ditutup pada level 4.920. Singapura, sebagai pusat keuangan regional, seringkali sensitif terhadap sentimen perdagangan global dan kinerja ekonomi negara-negara tetangga, sehingga pelemahannya sejalan dengan sentimen negatif di sebagian besar kawasan.
Perbedaan kinerja antara bursa-bursa Asia ini menunjukkan bahwa meskipun ada tren regional, setiap pasar juga memiliki faktor pendorong dan penekan domestik yang unik. Namun, secara keseluruhan, pelemahan di bursa-bursa utama seperti Hang Seng dan Straits Times Index, ditambah dengan tekanan pada rupiah, menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi IHSG. Investor di Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dengan seksama, karena dinamika regional dan global akan terus menjadi penentu utama arah pergerakan pasar ke depan.

















