Pasar modal Indonesia dilanda gelombang kekhawatiran yang signifikan pada pembukaan perdagangan Jumat, 6 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan merosot tajam, membuka sesi dengan angka 7.945, sebuah penurunan drastis sebesar 1,96% dari posisi penutupan hari sebelumnya. Penurunan ini, yang terjadi tepat pada jam perdagangan perdana pukul 09.00 WIB, tidak hanya mengikis keuntungan sebelumnya tetapi juga menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai faktor-faktor pemicu sentimen negatif yang begitu kuat. Data dari Stockbit mengkonfirmasi pelemahan ini, menunjukkan IHSG membuka diri pada level 7.945, yang berarti terkoreksi 1,96% dibandingkan penutupan di angka 8.104. Peristiwa ini memicu perhatian para pelaku pasar dan analis ekonomi, mengingat dampaknya yang berpotensi meluas terhadap kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi nasional. Kejatuhan ini juga bertepatan dengan pergerakan nilai tukar rupiah dan bursa saham regional, yang turut mempertegas gambaran pelemahan di pasar keuangan Asia secara umum.
Analisis Mendalam: Faktor Pemicu Pelemahan IHSG
Penurunan tajam IHSG pada pembukaan perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, tidak terjadi secara tiba-tiba. Analisis mendalam menunjukkan bahwa sentimen negatif yang membebani pasar berakar kuat pada beberapa faktor krusial, yang paling menonjol adalah revisi pandangan (outlook) utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody’s. Moody’s dilaporkan telah menurunkan outlook utang Indonesia dari ‘stabil’ menjadi ‘negatif’. Keputusan ini, meskipun rating utang Indonesia masih berada dalam kategori ‘investment grade’, secara signifikan mengirimkan sinyal peringatan kepada investor global mengenai potensi risiko fiskal dan ekonomi di masa depan. Penurunan outlook ini seringkali menjadi indikator awal sebelum adanya perubahan rating, sehingga menciptakan ketidakpastian dan mendorong investor untuk mengambil posisi yang lebih defensif.
Lebih lanjut, data perdagangan awal menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya berasal dari sentimen makroekonomi, tetapi juga dari pergerakan saham-saham unggulan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar dilaporkan mengalami pelemahan, yang secara langsung berkontribusi pada penurunan IHSG. Volume perdagangan pada awal sesi tercatat mencapai 5,22 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp2,45 triliun, yang dieksekusi melalui 263 ribu kali transaksi. Aktivitas ini, meskipun menunjukkan adanya likuiditas pasar, didominasi oleh aksi jual yang menekan indeks. Pada pukul 09.28 WIB, indeks saham tercatat turun 1,15% ke level 8.013, dengan level tertingginya di 8.025, menunjukkan adanya fluktuasi namun tren pelemahan tetap mendominasi. Bahkan, beberapa sumber menyebutkan IHSG sempat menyentuh level terendah di 7.888 pada awal perdagangan, menggambarkan volatilitas yang tinggi dan kekhawatiran pasar yang mendalam.
Perbandingan dengan data dari sumber lain memperkuat gambaran pelemahan ini. Okezone Economy melaporkan IHSG dibuka merosot tajam 1,96% ke level 7.945 pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026. IDXChannel juga mengkonfirmasi koreksi IHSG ke 7.945, dipicu oleh penurunan outlook utang Indonesia oleh Moody’s. Laporan dari RTI Infokom bahkan mencatat penurunan indeks sebesar 171 poin atau 2,11 persen, dengan IHSG sempat menyentuh level terendah di 7.888. Sementara itu, artikel lain menyebutkan IHSG melemah lebih dari dua persen pada awal perdagangan, dibayangi oleh outlook negatif Moody’s meskipun rating utang masih investment grade. Pada pukul 10.47 WIB, IHSG dilaporkan turun 2,14% atau 173,4 poin ke level 7.930. Data RTI Business pada sesi awal perdagangan menunjukkan 108 saham menguat, 623 saham melemah, dan 84 saham stagnan, mengindikasikan dominasi sentimen negatif yang signifikan.
Dampak Terhadap Nilai Tukar Rupiah dan Bursa Asia
Kekhawatiran yang melanda pasar saham Indonesia juga tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah. Pada pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau berada di level Rp16.821 per dolar AS. Angka ini dilaporkan tidak mengalami perubahan signifikan dari posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya, yang mengindikasikan adanya stabilitas relatif pada level tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa dalam konteks pelemahan IHSG dan sentimen negatif global, stabilitas rupiah ini bisa bersifat sementara. Ketidakpastian ekonomi dan perubahan outlook utang seringkali berujung pada tekanan terhadap mata uang domestik, meskipun dampaknya mungkin tertunda atau dimitigasi oleh faktor-faktor lain seperti intervensi bank sentral atau aliran dana asing yang masuk untuk tujuan lain.
Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia juga menunjukkan tren pelemahan yang senada, memperkuat narasi perlambatan ekonomi global atau kekhawatiran investor yang bersifat regional. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat mengalami penurunan sebesar 0,71%, berakhir di level 53.435. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga tidak luput dari tekanan, dengan penurunan sebesar 0,82% ke angka 26.628. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif yang dialami Indonesia bukanlah fenomena yang terisolasi, melainkan bagian dari dinamika pasar keuangan Asia yang lebih luas. Namun, perlu dicatat bahwa indeks SSE Composite di China dan indeks Straits Times di Singapura dilaporkan belum dibuka pada saat data tersebut dikumpulkan, sehingga gambaran pergerakan bursa Asia secara keseluruhan belum lengkap pada momen tersebut.
Prospek dan Implikasi Jangka Panjang
Penurunan tajam IHSG dan revisi outlook utang oleh Moody’s menimbulkan pertanyaan penting mengenai prospek jangka panjang pasar modal Indonesia. Sentimen negatif yang dipicu oleh penurunan outlook ini dapat berdampak pada biaya pinjaman pemerintah dan korporasi di masa depan, serta mengurangi daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi. Investor, baik domestik maupun asing, akan cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, memantau perkembangan kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah, serta sentimen global yang lebih luas. Stabilitas rupiah yang terlihat pada pembukaan perdagangan perlu terus dicermati, karena potensi pelemahan lebih lanjut tetap ada jika sentimen negatif berlanjut.
Dalam jangka pendek, pasar kemungkinan akan tetap volatil seiring dengan upaya pelaku pasar untuk mencerna informasi baru dan mengantisipasi langkah-langkah mitigasi dari pemerintah. Perhatian akan tertuju pada rilis data ekonomi mendatang, kebijakan moneter dan fiskal, serta perkembangan geopolitik global yang dapat mempengaruhi aliran investasi. Bagi investor, ini adalah momen untuk mengevaluasi kembali portofolio mereka, mengidentifikasi sektor-sektor yang lebih tahan terhadap gejolak, dan mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang yang berfokus pada fundamental yang kuat. Peran lembaga pemeringkat kredit seperti Moody’s dalam membentuk persepsi investor global sangatlah krusial, dan setiap perubahan pandangan mereka akan terus menjadi sorotan utama dalam lanskap ekonomi dan keuangan global.

















