Pasar modal Indonesia mengakhiri pekan dengan catatan kelam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan anjlok signifikan sebesar 2,08 persen pada penutupan perdagangan Jumat (6/2), terperosok ke level 7.935,26 poin. Penurunan tajam ini tidak hanya mencoreng kinerja indeks utama, tetapi juga memicu kekhawatiran di kalangan investor mengenai kesehatan ekonomi domestik. Analisis mendalam terhadap pergerakan pasar, sentimen negatif yang memayungi, serta dampaknya terhadap aset-aset terkait menjadi krusial untuk memahami dinamika yang terjadi. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apa yang menyebabkan kejatuhan IHSG ini, bagaimana dampaknya terhadap investor dan perekonomian, serta bagaimana prospek pasar ke depan?
Penutupan perdagangan Jumat (6/2) menandai akhir pekan yang penuh gejolak bagi pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami pelemahan drastis, mengakhiri sesi perdagangan di zona merah dengan penurunan sebesar 2,08 persen. Angka ini setara dengan hilangnya 168,61 poin dari nilai sebelumnya, membawa IHSG bertengger di level 7.935,26. Pergerakan IHSG sepanjang hari menunjukkan tren penurunan yang konsisten, terdorong oleh tekanan jual yang meluas di berbagai sektor. Data perdagangan mencatat bahwa dari total saham yang diperdagangkan, mayoritas mengalami koreksi. Sebanyak 646 saham dilaporkan turun, sementara hanya 107 saham yang mampu menguat, dan 68 saham lainnya bertahan pada posisinya tanpa perubahan. Kondisi ini mengindikasikan sentimen negatif yang dominan di pasar.
Lebih lanjut, indeks LQ45, yang mencerminkan pergerakan 45 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tertinggi, juga tidak luput dari imbas pelemahan ini. Indeks LQ45 ditutup turun 1,66 persen, mencapai angka 815,581. Meskipun penurunannya relatif lebih moderat dibandingkan IHSG secara keseluruhan, ini tetap menjadi sinyal peringatan mengenai kondisi fundamental perusahaan-perusahaan unggulan di bursa. Volume dan frekuensi transaksi pada hari itu juga memberikan gambaran tentang aktivitas pasar. Total frekuensi saham yang ditransaksikan mencapai 2,24 juta kali, menunjukkan tingginya partisipasi investor dalam melakukan jual beli. Sementara itu, total volume perdagangan mencapai 35,58 miliar saham, dengan nilai transaksi yang terbilang besar, yakni Rp 19,7 triliun. Angka transaksi yang tinggi ini, meskipun diiringi pelemahan, bisa jadi mencerminkan aksi jual yang masif dari sebagian investor yang mencoba membatasi kerugian atau mengambil keuntungan sebelum akhir pekan.
Sentimen Negatif Memayungi Pasar: Pemangkasan Peringkat Kredit Menjadi Pemicu Utama
Pelemahan tajam IHSG pada Jumat (6/2) tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh serangkaian sentimen negatif yang mulai membayangi pasar sejak beberapa waktu sebelumnya. Faktor utama yang secara langsung memberikan tekanan adalah pemangkasan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat internasional terkemuka, Moody’s Investors Service. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (5/2), sehari sebelum penutupan perdagangan yang penuh gejolak. Pemangkasan outlook ini merupakan sinyal peringatan serius mengenai prospek ekonomi Indonesia di mata lembaga global. Moody’s biasanya melakukan pemangkasan outlook ketika melihat adanya peningkatan risiko terhadap kemampuan suatu negara dalam memenuhi kewajiban utangnya atau menjaga stabilitas ekonominya dalam jangka menengah hingga panjang. Hal ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti ketidakpastian kebijakan fiskal, perlambatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan defisit anggaran, atau ketidakstabilan politik.
Dampak dari pemangkasan outlook peringkat kredit ini sangat signifikan terhadap persepsi investor asing maupun domestik. Investor cenderung menghindari aset-aset dari negara yang peringkat kreditnya dipertanyakan, karena dianggap memiliki risiko yang lebih tinggi. Penurunan peringkat kredit dapat berimplikasi pada biaya pinjaman yang lebih mahal bagi pemerintah dan perusahaan Indonesia di pasar internasional, serta dapat mengurangi aliran investasi asing langsung (FDI) maupun portofolio. Dalam konteks pasar saham, sentimen negatif ini mendorong aksi jual yang masif, terutama dari investor asing yang memiliki mobilitas modal lebih tinggi. Mereka cenderung lebih cepat merespons perubahan fundamental dan sentimen pasar global. Pemangkasan outlook oleh Moody’s ini secara efektif mengirimkan sinyal negatif ke pasar global mengenai kesehatan ekonomi Indonesia, yang kemudian diterjemahkan oleh para pelaku pasar dengan melakukan panic selling terhadap aset-aset berdenominasi Rupiah, termasuk saham.
Lebih lanjut, sentimen negatif ini juga tercermin pada pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Mengutip data dari Bloomberg, pada sore hari penutupan perdagangan Jumat (6/2), nilai tukar Rupiah tercatat melemah. Mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 34 poin atau setara dengan 0,20 persen, diperdagangkan pada level Rp 16.876 per Dolar AS. Pelemahan Rupiah ini merupakan indikator lain dari ketidakpastian ekonomi dan sentimen negatif yang sedang berlangsung. Ketika kepercayaan investor terhadap suatu negara menurun, cenderung terjadi pelarian modal (capital outflow) ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti Dolar AS. Hal ini meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS dan menekan nilai tukar mata uang lokal. Perlemahan Rupiah ini, meskipun pada hari itu terbilang moderat, menambah kekhawatiran investor mengenai stabilitas ekonomi makro Indonesia dan berpotensi memperparah tekanan jual di pasar saham.
Kondisi Bursa Saham Asia Menambah Kompleksitas
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai sentimen pasar di kawasan Asia, penting untuk meninjau pergerakan bursa saham regional pada sore hari yang sama. Kondisi bursa Asia menunjukkan adanya pola pergerakan yang beragam, namun secara umum terdapat indikasi sentimen yang berfluktuasi. Di Jepang, Indeks Nikkei 225 mencatat kenaikan yang cukup solid, bertambah 0,81 persen dan ditutup pada level 54.253. Kenaikan ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor-faktor domestik Jepang atau sentimen positif dari pasar global lainnya yang tidak secara langsung terkait dengan kondisi Indonesia. Sementara itu, di Hong Kong, Indeks Hang Seng mengalami pelemahan, turun sebesar 1,21 persen dan berakhir di 26.559,294. Penurunan ini bisa jadi mencerminkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global atau isu-isu spesifik yang dihadapi pasar Tiongkok dan sekitarnya.
Pasar saham Tiongkok daratan, yang diwakili oleh Indeks SSE Composite, juga menunjukkan tren pelemahan, meskipun lebih moderat, yaitu sebesar 0,25 persen, ditutup pada 4.065,58. Hal ini bisa jadi dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi domestik Tiongkok atau sentimen negatif global yang juga merembet ke pasar saham mereka. Di sisi lain, Indeks Straits Times di Singapura berhasil mencatat kenaikan, bertambah 0,83 persen dan ditutup pada 4.934,41. Kenaikan di Singapura ini mungkin didorong oleh kekuatan ekonomi domestik negara tersebut atau oleh pergerakan dana yang mencari peluang investasi di pasar yang dianggap lebih stabil di kawasan tersebut. Keragaman pergerakan di bursa Asia ini menunjukkan bahwa sentimen pasar tidak seragam di seluruh kawasan, namun secara keseluruhan, pelemahan di beberapa indeks utama seperti Hang Seng dan SSE Composite dapat memberikan sedikit kontribusi pada sentimen negatif yang juga dirasakan oleh pasar Indonesia, meskipun faktor pemangkasan peringkat kredit oleh Moody’s tetap menjadi pemicu utama anjloknya IHSG.

















