Jakarta – Pasar saham Indonesia terperosok dalam jurang pelemahan signifikan pada perdagangan Selasa sore, 24 Februari 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup merosot tajam. Sentimen negatif ini dipicu oleh respons pelaku pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global, khususnya terkait potensi kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat (AS) yang membayangi prospek ekonomi dunia. Penurunan ini tidak hanya mencerminkan kekhawatiran domestik, tetapi juga merupakan cerminan dari dinamika geopolitik dan ekonomi makro global yang kompleks, menyoroti kerentanan pasar terhadap perubahan kebijakan di negara-negara ekonomi raksasa.
Pada penutupan perdagangan, IHSG melemah 115,25 poin, atau setara dengan 1,37 persen, mencapai posisi 8.280,83. Angka ini jauh di bawah level pembukaan hari yang sempat menguat di 8.428 dan menyentuh tertinggi 8.437, sebelum akhirnya tersungkur ke teritori negatif. Tekanan jual yang kuat juga terlihat pada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45, yang turut anjlok 10,13 poin atau 1,19 persen, mengakhiri hari di posisi 837,63. Penurunan ini mengindikasikan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar dan paling likuid pun tidak luput dari gejolak pasar yang dipicu oleh sentimen global.
Ketidakpastian Global dan Dampaknya pada Pasar Keuangan
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dan rupiah secara bersamaan merupakan manifestasi dari meningkatnya ketidakpastian global. Menurut Ratna, dua faktor utama yang memicu kondisi ini adalah ketidakpastian mengenai kebijakan tarif AS dan prospek suku bunga AS yang masih relatif ketat. Kebijakan tarif AS, yang seringkali menjadi alat negosiasi perdagangan, dapat menciptakan disrupsi pada rantai pasok global, meningkatkan biaya impor, dan berpotensi memicu perang dagang. Hal ini secara langsung mengancam profitabilitas perusahaan multinasional dan prospek pertumbuhan ekonomi global, sehingga memicu kehati-hatian investor.
Lebih lanjut, prospek suku bunga AS yang ketat, yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve atau setidaknya mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, memiliki implikasi signifikan. Suku bunga yang lebih tinggi di AS membuat aset-aset berbasis dolar menjadi lebih menarik, mendorong penguatan indeks dolar AS. Penguatan dolar ini, pada gilirannya, dapat menarik modal keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, melemahkan mata uang lokal seperti rupiah, dan menekan harga aset-aset di bursa saham. Selain itu, ketidakpastian global dan penguatan dolar AS juga berdampak pada komoditas. Harga emas, yang sering dianggap sebagai aset lindung nilai di masa ketidakpastian, mengalami koreksi dari level tertinggi selama tiga pekan terakhir. Koreksi ini tidak hanya disebabkan oleh penguatan dolar, tetapi juga didorong oleh aksi profit taking atau ambil untung oleh pelaku pasar setelah periode kenaikan harga yang cukup substansial.
Dari sisi geopolitik dan kebijakan, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dijadwalkan akan menyampaikan pidato penting di hadapan Kongres AS mengenai laporan tahunan resmi, yang mencakup kondisi negara dan rencana kebijakan pemerintahannya ke depan. Pidato semacam ini sangat krusial karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan ekonomi, perdagangan, dan fiskal AS yang akan datang, yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara global. Setiap indikasi mengenai kebijakan proteksionisme atau langkah-langkah yang dapat memicu ketegangan perdagangan akan dicermati dengan saksama oleh investor.
Dinamika Pasar Domestik dan Regional
Pergerakan IHSG pada hari itu menunjukkan volatilitas yang tinggi. Setelah dibuka menguat di awal sesi perdagangan, indeks dengan cepat berbalik arah ke teritori negatif dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama. Tekanan jual terus berlanjut di sesi kedua, membuat IHSG betah di zona merah hingga akhir perdagangan. Ini mencerminkan dominasi sentimen negatif yang kuat di kalangan investor.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya satu sektor yang mampu bertahan dan menguat, yaitu sektor keuangan yang naik sebesar 0,63 persen. Kinerja positif sektor keuangan ini mungkin didukung oleh ekspektasi kinerja perbankan yang solid atau kebijakan moneter domestik yang stabil. Namun, mayoritas sektor lainnya menunjukkan pelemahan. Sepuluh sektor lainnya melemah, dengan sektor energi mencatat penurunan paling dalam sebesar 3,29 persen. Penurunan sektor energi seringkali terkait dengan fluktuasi harga komoditas global atau kekhawatiran terhadap permintaan energi di tengah perlambatan ekonomi. Diikuti oleh sektor barang konsumen non primer yang turun 3,05 persen, mengindikasikan potensi penurunan daya beli atau kepercayaan konsumen, serta sektor teknologi yang melemah 2,21 persen, mungkin akibat valuasi yang tinggi dan kepekaan terhadap suku bunga.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar pada hari itu meliputi ASHA, AIMS, MEGA, TFAS, dan PPRE. Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah SSTM, RMKO, INDS, BLUE, dan SCNP. Aktivitas perdagangan saham tercatat sangat tinggi, dengan frekuensi mencapai 3.359.000 kali transaksi. Sebanyak 58,06 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai total mencapai Rp29,51 triliun. Data ini menunjukkan bahwa meskipun pasar melemah, aktivitas jual beli tetap agresif. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 163 saham naik, 596 saham menurun, dan 199 saham tidak bergerak nilainya, menegaskan dominasi sentimen bearish.

















