Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Rabu (25/2), dengan proyeksi bergerak di kisaran level 8.200 hingga 8.250. Prediksi ini muncul setelah pada hari sebelumnya, Selasa (24/2), IHSG mengalami koreksi signifikan, anjlok 115,24 poin atau setara dengan 1,37 persen, dan ditutup pada level 8.280. Analisis mendalam dari para pakar pasar modal menunjukkan bahwa sentimen negatif ini dipicu oleh kombinasi faktor teknikal dan makroekonomi global, termasuk ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat dan prospek suku bunga yang ketat. Pergerakan IHSG ini menjadi perhatian utama para investor yang tengah mencermati dinamika pasar menjelang pidato Presiden AS Donald Trump di hadapan Kongres dan data ekonomi penting dari Eropa.
Analisis Teknikal dan Sentimen Pasar
Para analis dari Phintraco Sekuritas memberikan pandangan teknikal yang mengkhawatirkan pergerakan IHSG. Berdasarkan analisis mereka, momentum penguatan histogram MACD (Moving Average Convergence Divergence) pada IHSG telah menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Lebih lanjut, terdeteksi adanya pembentukan pola Death Cross pada Stochastic RSI (Relative Strength Index) di area overbought (jenuh beli). Kombinasi kedua indikator teknikal ini mengindikasikan bahwa tekanan jual berpotensi akan terus berlanjut. Oleh karena itu, Phintraco Sekuritas memprediksi bahwa IHSG berpotensi untuk menguji level support kritis di kisaran 8.200 hingga 8.250. Pandangan ini diperkuat oleh laporan tertulis dari Phintraco Sekuritas yang dirilis pada Rabu (25/2).
Sentimen pasar yang membayangi IHSG tidak hanya berasal dari faktor teknikal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian yang berkembang mengenai kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat. Selain itu, prospek suku bunga di AS yang diprediksi masih akan tetap ketat turut menambah kekhawatiran investor. Ketidakpastian kebijakan ekonomi global ini seringkali memicu aksi jual di pasar saham karena investor cenderung mencari aset yang lebih aman atau menahan diri dari pengambilan risiko yang berlebihan. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta pada Selasa (24/2), menegaskan bahwa pelemahan IHSG dan Rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, yang secara spesifik merujuk pada kebijakan tarif AS dan prospek suku bunga yang ketat, yang pada gilirannya mendorong penguatan indeks dolar AS.
Perkembangan Makroekonomi Global dan Implikasinya
Perhatian investor juga tertuju pada perkembangan ekonomi di kancah internasional. Dari Tiongkok, bank sentral dilaporkan kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjaman selama sembilan bulan berturut-turut pada Februari 2026. Tingkat suku bunga yang dipertahankan adalah Loan Prime Rate (LPR) 1Y sebesar 3 persen dan LPR 5Y di level 3,5 persen. Kebijakan ini menunjukkan upaya Tiongkok untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global.
Sementara itu, pasar global tengah menanti pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dijadwalkan akan disampaikan di hadapan Kongres AS pada Rabu (25/2). Pidato ini akan mencakup laporan tahunan resmi mengenai kondisi negara dan memaparkan rencana kebijakan pemerintahannya ke depan. Pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Trump mengenai kebijakan ekonomi, perdagangan, dan hubungan internasional dapat memiliki dampak signifikan terhadap sentimen pasar global, termasuk pergerakan IHSG.
Dari Eropa, investor akan mencermati data ekonomi penting yang akan dirilis pada hari yang sama (25/2). Salah satunya adalah GfK Consumer Confidence Jerman untuk bulan Maret 2026, yang diperkirakan akan berada di level -23.8, sedikit membaik dari -24.1 pada periode sebelumnya. Selain itu, data inflasi Euro Area untuk bulan Januari 2026 juga akan menjadi sorotan, dengan perkiraan melambat menjadi 1,7 persen secara tahunan (YoY) dari sebelumnya 2 persen YoY. Perlambatan inflasi di kawasan Euro dapat memberikan sinyal positif bagi kebijakan moneter Bank Sentral Eropa, namun tetap harus dicermati dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Rekomendasi Saham dan Proyeksi Bervariasi
Menghadapi dinamika pasar yang penuh ketidakpastian, Phintraco Sekuritas memberikan beberapa rekomendasi saham yang dinilai memiliki prospek menarik untuk perdagangan pada Rabu (25/2). Saham-saham yang direkomendasikan meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Rekomendasi ini kemungkinan didasarkan pada analisis fundamental dan sektoral yang dianggap mampu bertahan atau bahkan menguat di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Di sisi lain, MNC Sekuritas menawarkan proyeksi yang sedikit berbeda untuk IHSG pada Rabu (25/2), memprediksi pergerakan yang bervariasi. MNC Sekuritas melihat adanya peluang penguatan IHSG untuk membentuk bagian dari wave (c) dari wave [x] menuju rentang 8.440 hingga 8.503. Namun, mereka juga mengingatkan akan adanya potensi koreksi lanjutan yang bisa membawa IHSG turun ke rentang 8.149 hingga 8.217. Proyeksi yang bervariasi ini mencerminkan kompleksitas pasar dan berbagai skenario yang mungkin terjadi. Untuk saham-saham yang direkomendasikan oleh MNC Sekuritas pada hari yang sama, daftar tersebut mencakup PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) Tbk (RAJA), dan PT Ratna Antar Nusa Tbk (RATU).

















