- Indeks Nikkei 225 (Jepang): Menjadi primadona di kawasan regional dengan lonjakan tajam sebesar 415,69 poin atau 0,71 persen ke level 58.998. Penguatan ini didorong oleh sentimen positif pada sektor teknologi dan ekspektasi kebijakan moneter yang masih akomodatif di Negeri Sakura.
- Indeks Hang Seng (Hong Kong): Mengalami tekanan dengan koreksi sebesar 56,50 poin atau 0,21 persen ke posisi 26.709. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap perlambatan sektor properti dan regulasi di China daratan.
- Indeks SSE Composite (China): Turun tipis sebesar 2,85 poin atau 0,07 persen ke level 4.144. Pasar saham China nampak bergerak hati-hati menantikan data ekonomi terbaru yang akan dirilis oleh pemerintah setempat.
- Indeks Straits Times (Singapura): Melemah sebesar 7,70 poin atau 0,15 persen ke posisi 5.000. Penurunan tipis ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) setelah indeks mencapai level psikologis penting.
Divergensi antara IHSG yang menguat dengan beberapa bursa utama Asia yang memerah menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia saat ini memiliki “cerita” sendiri (idiosyncratic story) yang mampu menarik minat investor terlepas dari tekanan regional. Faktor reformasi pasar modal, pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap tangguh di atas 5 persen, serta inflasi yang terkendali menjadi modal kuat bagi IHSG untuk terus melaju. Para analis menyarankan agar investor tetap waspada terhadap potensi volatilitas yang mungkin muncul di sesi kedua, namun dengan fundamental yang ada, prospek IHSG untuk ditutup di zona hijau pada sore hari nanti tetap terbuka lebar.
Secara keseluruhan, pembukaan perdagangan Kamis ini memberikan angin segar bagi para pelaku pasar. Dengan IHSG yang berhasil menembus level 8.351 dan Rupiah yang menguat ke Rp 16.800, kepercayaan diri pasar nampak berada pada level yang sangat baik. Fokus investor selanjutnya akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik lainnya serta perkembangan geopolitik global yang dapat mempengaruhi arah pergerakan aset berisiko dalam jangka menengah. Bagi investor ritel, momentum penguatan ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi pada saham-saham yang masih memiliki valuasi menarik dan prospek pertumbuhan dividen yang stabil di masa depan.

















