Pasar saham Indonesia diprediksi akan bergulat di sekitar level psikologis 8.300 poin dalam sepekan ini, tepatnya pada periode 18-20 Februari 2026, seiring dengan antisipasi pengumuman kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Analis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berjuang menguji level resistance kritis 8.300, sementara level support terdekat berada di angka 8.129. Proyeksi ini didasarkan pada kombinasi sentimen kebijakan moneter yang akan datang, rilis laporan keuangan tahunan 2025 yang dinilai positif, serta perkembangan reformasi bursa yang konstruktif. Namun, pergerakan IHSG diperkirakan akan cenderung sideways dengan volatilitas yang terbatas selama level resistance tersebut belum berhasil ditembus secara meyakinkan, menyusul penguatan signifikan pada pekan sebelumnya yang mengindikasikan pemulihan pasca isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) meski tekanan eksternal masih membayangi.
Analisis Teknis dan Proyeksi Pergerakan IHSG
Secara teknikal, Hari Rachmansyah dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menguraikan bahwa IHSG saat ini berada dalam fase konsolidasi. Momentum penguatan yang terjadi pada pekan sebelumnya, yang berhasil membawa IHSG ditutup di level 8.212,27 dengan kenaikan 3,49 persen pada Jumat, 13 Februari 2026, dinilai sebagai sinyal awal pemulihan. Namun, fase konsolidasi ini mengindikasikan adanya keraguan pasar untuk menembus level resistance signifikan di 8.300. Selama level ini belum terlampaui, pergerakan indeks diperkirakan akan bergerak mendatar (sideways) dengan rentang pergerakan yang tidak terlalu lebar (volatilitas terbatas). Level support terdekat yang menjadi penopang pergerakan IHSG dipatok pada angka 8.129. Pergerakan ini mencerminkan adanya tarik-menarik antara sentimen positif dan negatif yang sedang mengemuka di pasar.
Faktor Penggerak Pasar: BI Rate dan Laporan Keuangan
Keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang dijadwalkan akan diumumkan pada rapat dewan gubernur tanggal 18-19 Februari 2026 menjadi salah satu katalis utama yang akan memengaruhi pergerakan IHSG. Hari Rachmansyah menekankan bahwa kebijakan suku bunga ini memiliki potensi signifikan untuk menggerakkan sektor-sektor kunci dalam pasar saham, terutama sektor perbankan dan properti. Ekspektasi terhadap stabilitas likuiditas dan potensi peningkatan permintaan kredit seiring dengan kebijakan suku bunga yang stabil atau menurun akan menjadi sentimen positif yang ditunggu-tunggu oleh investor. Selain kebijakan moneter, rilis laporan keuangan tahunan 2025 yang secara umum menunjukkan tren positif juga menjadi faktor fundamental yang memberikan dukungan bagi pasar. Emiten-emiten yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba yang solid dan mempertahankan margin yang sehat diperkirakan akan menjadi primadona di tengah kondisi pasar yang dinamis ini.
Sentimen Eksternal dan Pergerakan Saham Unggulan
Meskipun ada sinyal pemulihan yang terlihat dari penguatan IHSG pada pekan sebelumnya, Hari Rachmansyah mengingatkan bahwa tekanan eksternal masih terus membayangi pasar. Isu-isu global atau perubahan sentimen investor internasional dapat sewaktu-waktu memengaruhi pergerakan pasar domestik. Penguatan IHSG pekan lalu, menurut analisisnya, ditopang oleh kinerja saham-saham dari emiten konglomerasi besar seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Ratu Intan Lestari Tbk (RATU), dan PT Buana Varia Komunika Tbk (BUVA). Namun, di sisi lain, terjadi tekanan jual asing yang cukup signifikan pada saham perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Tercatat, outflow asing pada BBCA mencapai Rp 3,8 triliun dalam sepekan terakhir, yang menyebabkan saham ini terkoreksi sebesar -6,19 persen. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor asing, yang mungkin lebih memilih sektor lain atau melakukan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian global.
Reformasi Bursa dan Kepercayaan Pasar Jangka Menengah
Di luar dinamika jangka pendek yang dipengaruhi oleh BI Rate dan laporan keuangan, investor juga perlu mencermati perkembangan reformasi yang sedang bergulir di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hari Rachmansyah menilai bahwa progres reformasi yang sedang berjalan menunjukkan arah yang cukup konstruktif. Implementasi berbagai kebijakan dan inovasi di bursa ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor dalam jangka menengah. Peningkatan transparansi, efisiensi pasar, dan pengembangan produk-produk investasi baru dapat menjadi daya tarik yang lebih besar bagi investor domestik maupun asing, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada stabilitas dan pertumbuhan pasar modal Indonesia secara keseluruhan. Kepercayaan pasar yang terbangun melalui reformasi ini akan menjadi fondasi penting dalam menghadapi volatilitas pasar di masa mendatang.

















