- NZIA (Nusantara Almazia Tbk.): Menjadi pemimpin penguatan dengan lonjakan sebesar 21,77 persen, membawa harganya ke level 302 per lembar saham.
- INDX (Tanah Laut Tbk.): Mengikuti di posisi kedua dengan kenaikan 18,25 persen ke level 149.
- RLCO (Abadi Lestari Indonesia Tbk.): Mencatatkan pertumbuhan harga 16,46 persen, mendarat di level 7.075.
- INDY (Indika Energy Tbk.): Saham sektor energi ini melonjak 11,54 persen ke level 3.770, didorong oleh sentimen positif di sektor komoditas.
- BIPI (Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk.): Menguat sebesar 11,45 persen ke level 146.
Selain deretan top gainers di atas, para analis juga memberikan rekomendasi strategis bagi para investor yang ingin masuk ke pasar. Strategi “buy on weakness” disarankan untuk sejumlah saham yang dianggap memiliki fundamental kuat namun masih memberikan ruang masuk yang ideal. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain adalah PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Harum Energy Tbk. (HRUM), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA). Keempat saham ini dipandang memiliki prospek pertumbuhan yang stabil di tengah tren penguatan indeks saat ini.
Perbandingan dengan Pasar Global dan Regional Asia
Kinerja impresif IHSG ternyata sejalan dengan mayoritas bursa di kawasan Asia, meskipun terdapat beberapa indeks yang bergerak anomali. Indeks Nikkei 225 di Jepang menjadi primadona di kawasan regional dengan lonjakan luar biasa sebesar 2,35 persen ke level 57.685,800. Penguatan di Tokyo ini memberikan sentimen positif tambahan bagi pasar ekuitas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Hong Kong, indeks Hang Seng (HSI) juga terpantau menguat 0,54 persen ke posisi 27.173,559. Hal ini menunjukkan bahwa selera risiko investor di kawasan Asia sedang meningkat tajam.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada bursa di China dan Singapura. Indeks Shanghai Composite (SSEC) harus rela terkoreksi tipis 0,02 persen ke level 4.122,339, sementara Indeks Straits Times (STI) di Singapura juga mengalami pelemahan minor sebesar 0,09 persen ke level 4.956,509. Meski demikian, pelemahan di dua bursa utama tersebut tidak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap pergerakan IHSG. Fokus investor domestik nampaknya lebih tertuju pada stabilitas ekonomi dalam negeri dan laporan kinerja emiten yang mulai dirilis, sehingga arus modal tetap mengalir deras ke lantai bursa Jakarta.
Dengan total 595 emiten yang bergerak menguat secara keseluruhan hingga tengah hari, pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Para pelaku pasar kini menantikan kelanjutan perdagangan di sesi II untuk melihat apakah IHSG mampu mempertahankan posisinya di atas level 8.100 atau bahkan melampaui level tertinggi harian sebelumnya. Dukungan dari volume transaksi yang besar dan nilai kapitalisasi pasar yang terus bertumbuh menjadi fondasi kuat bagi optimisme bahwa tahun 2026 akan menjadi periode yang sangat menguntungkan bagi industri pasar modal tanah air.

















