Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatan signifikan menuju level psikologis baru pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, seiring dengan optimisme pertumbuhan ekonomi nasional yang dipicu oleh lonjakan konsumsi domestik selama perayaan Tahun Baru Imlek dan persiapan menjelang bulan suci Ramadan. Para pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini tengah mencermati berbagai katalis positif dari dalam negeri, di mana indeks diprediksi akan bergerak dalam rentang konsolidasi menguat antara level 8.170 hingga menembus batas resistensi di kisaran 8.440. Sentimen bullish ini didukung oleh proyeksi makroekonomi yang solid serta peningkatan volume pembelian pada sejumlah saham blue-chip dan sektor komoditas, meskipun para investor tetap harus waspada terhadap dinamika global yang masih dibayangi oleh isu kelebihan kapasitas produksi di sektor industri tertentu.
Optimisme pasar modal Indonesia mendapatkan dorongan fundamental yang sangat kuat setelah Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, memberikan pernyataan resmi yang menegaskan keyakinan pemerintah terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi di awal tahun ini. Pemerintah memproyeksikan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2026 memiliki potensi besar untuk melampaui pencapaian kuartal IV sebelumnya yang tercatat sebesar 5,39%. Lonjakan ini diperkirakan bersumber dari efek berganda (multiplier effect) kegiatan masyarakat selama periode Tahun Baru Imlek dan momentum Ramadan yang secara historis selalu menjadi mesin penggerak utama konsumsi rumah tangga. Selain itu, peningkatan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor strategis dinilai menjadi fondasi kuat yang menjaga daya beli masyarakat tetap stabil, sehingga memberikan bantalan yang cukup bagi pasar saham untuk tetap berada di zona hijau di tengah fluktuasi pasar global.
Analisis Teknikal dan Proyeksi Pergerakan IHSG
Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini menunjukkan indikasi rebound yang cukup konsisten setelah berhasil mempertahankan level support kritikalnya. Analis pasar modal, Nico, mengamati bahwa pergerakan indeks berada dalam koridor yang cukup lebar namun cenderung naik, dengan rentang antara 8.170 hingga 8.350. Namun, pandangan yang lebih optimis datang dari para analis di industri yang memprediksi bahwa IHSG memiliki ruang untuk melesat lebih jauh menuju level 8.328 hingga 8.440 jika volume perdagangan terus menunjukkan tren peningkatan. Fanny Suherman, Head of Retail Research dari BNI Sekuritas, turut mengonfirmasi potensi kenaikan ini dengan menetapkan level support IHSG pada rentang 8.150-8.220 dan level resistensi pada kisaran 8.370-8.400. Kondisi ini mencerminkan adanya akumulasi beli yang cukup besar, terutama pada saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar (big caps) yang menjadi penggerak utama indeks.
Meskipun potensi penguatan terlihat sangat terbuka lebar, para investor tetap diingatkan untuk memperhatikan faktor-faktor pembatas yang mungkin menahan laju kenaikan indeks secara agresif. Kekhawatiran mengenai kelebihan kapasitas di sektor industri manufaktur global dan masih lemahnya tingkat konsumsi di beberapa negara mitra dagang utama Indonesia tetap menjadi risiko yang perlu dimitigasi. Tekanan pada prospek pertumbuhan global ini seringkali menciptakan volatilitas pada aliran modal asing (foreign flow). Namun, sejauh ini, kekuatan fundamental ekonomi domestik Indonesia terbukti mampu memberikan daya tahan (resilience) yang lebih baik dibandingkan dengan pasar negara berkembang lainnya, sehingga IHSG tetap dipandang sebagai tujuan investasi yang menarik bagi investor institusi maupun ritel.
Dalam dinamika perdagangan harian, Indeks LQ45 yang merepresentasikan saham-saham paling likuid di bursa juga menunjukkan performa yang impresif. Beberapa emiten yang tercatat mendominasi penguatan dan menjadi motor penggerak indeks antara lain adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Kenaikan saham-saham ini mencerminkan optimisme di berbagai sektor, mulai dari petrokimia, ritel, hingga pertambangan. Sebagai contoh, penguatan pada MAPI menunjukkan kepercayaan pasar terhadap sektor konsumsi menjelang hari raya, sementara pergerakan positif pada BUMI dan INCO sangat dipengaruhi oleh stabilitas harga komoditas di pasar internasional dan rencana ekspansi strategis perusahaan.
Rekomendasi Saham Pilihan dan Strategi Investasi
Bagi para pelaku pasar yang ingin mengoptimalkan portofolio mereka di tengah potensi rally IHSG, sejumlah analis memberikan rekomendasi saham “jagoan” yang layak untuk dicermati. MNC Sekuritas, misalnya, menyoroti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan rekomendasi Buy on Weakness. Saham ANTM tercatat mengalami penguatan sebesar 2,57% menuju level 3.990, yang disertai dengan munculnya volume pembelian yang signifikan, menandakan adanya minat beli yang besar di harga bawah. Selain ANTM, beberapa saham lain yang masuk dalam radar rekomendasi para analis untuk perdagangan hari ini meliputi PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Saham-saham tersebut dinilai memiliki valuasi yang menarik dan potensi upside yang cukup lebar berdasarkan analisis teknikal maupun fundamental terbaru.
| Kode Saham | Rekomendasi | Target Level / Catatan |
|---|---|---|
| ANTM | Buy on Weakness | Target penguatan setelah mencapai level 3.990 dengan volume tinggi. |
| PANI | Trading Buy | Didorong oleh sentimen positif sektor properti dan pengembangan kawasan. |
| TLKM | Accumulate Buy | Fokus pada stabilitas pendapatan dari sektor telekomunikasi digital. |
| BUMI | Speculative Buy | Memanfaatkan momentum kenaikan harga batu bara dan volume produksi. |
| MAPA | Buy | Optimisme sektor ritel gaya hidup menjelang periode libur panjang. |
Di sisi lain, investor juga perlu bersikap selektif terhadap saham-saham yang saat ini justru memberikan tekanan pada indeks. Beberapa saham yang tercatat melemah dan menahan laju IHSG antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang meskipun direkomendasikan namun masih dalam tekanan tren jangka pendek, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Tekanan pada saham-saham ini sebagian besar disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh investor institusi dan penyesuaian bobot portofolio di tengah perubahan ekspektasi suku bunga global. Oleh karena itu, strategi diversifikasi sektor menjadi sangat krusial agar risiko investasi dapat tersebar dengan baik dan tidak terpusat pada satu industri yang sedang mengalami jenuh beli.
Secara keseluruhan, prospek IHSG untuk periode pertengahan Februari 2026 ini tetap berada pada jalur positif. Dengan dukungan data ekonomi makro yang solid dan proyeksi pertumbuhan PDB yang optimis dari Kementerian Keuangan, pasar modal Indonesia memiliki modal yang cukup untuk terus melaju. Para investor disarankan untuk tetap disiplin dalam menerapkan rencana perdagangan (trading plan), memperhatikan level stop-loss untuk membatasi risiko, dan selalu memperbarui informasi mengenai laporan keuangan perusahaan yang akan segera dirilis. Fokus pada perusahaan dengan fundamental yang sehat, harga saham yang masih relatif murah, serta memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten akan menjadi strategi yang sangat efektif dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang menuju target indeks di level 8.400.

















