PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengukuhkan posisinya sebagai emiten “raja dividen” di Bursa Efek Indonesia dengan komitmen kuat untuk mempertahankan rasio pembayaran (payout ratio) sebesar 100 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Langkah berani ini diambil di tengah transformasi portofolio besar-besaran, di mana perusahaan baru saja merampungkan divestasi unit bisnis es krim dan merek teh legendaris Sariwangi. Tidak hanya mengandalkan laba operasional, emiten raksasa consumer goods ini juga dipastikan bakal mengguyur para pemegang sahamnya dengan dividen spesial (special dividend) yang berasal dari keuntungan bersih pelepasan aset tersebut, menandai periode distribusi keuntungan paling masif dalam beberapa tahun terakhir bagi para investor setianya.
Keputusan strategis untuk melepas unit bisnis es krim dan teh Sariwangi bukan sekadar langkah perampingan organisasi, melainkan upaya monetisasi aset yang memberikan nilai tambah langsung bagi pemegang saham. Berdasarkan data yang dihimpun, total keuntungan dari divestasi unit bisnis es krim mencapai angka fantastis sebesar Rp 3,8 triliun, sementara penjualan bisnis teh Sariwangi menyumbang tambahan likuiditas sebesar Rp 800 miliar. Jika diakumulasikan, total keuntungan bersih dari transaksi pelepasan dua lini bisnis tersebut mencapai Rp 4,6 triliun. Seluruh dana segar hasil divestasi ini telah diputuskan untuk tidak ditahan sebagai laba ditahan, melainkan akan dialokasikan sepenuhnya untuk dibagikan sebagai dividen tambahan satu kali (one-time dividend), melengkapi dividen reguler yang berasal dari kinerja operasional perusahaan sepanjang tahun 2025.
Analisis Proyeksi Dividen dan Imbal Hasil Investasi
Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, memberikan proyeksi mendalam mengenai total akumulasi dividen yang akan diterima investor. Berdasarkan analisis fundamentalnya, total dividen UNVR untuk tahun buku 2025 diperkirakan menembus angka Rp 8,1 triliun. Angka ini merupakan gabungan dari laba bersih operasional tahunan dan keuntungan luar biasa dari hasil divestasi aset. Mengingat Unilever Indonesia telah menyalurkan dividen interim sebesar Rp 3,3 triliun atau setara Rp 88 per saham pada Desember 2025 lalu, maka terdapat potensi sisa alokasi dividen final dan dividen spesial yang mencapai Rp 4,8 triliun yang siap didistribusikan pada periode mendatang.
Jika dikalkulasikan dengan harga penutupan saham UNVR yang berada di level Rp 2.300 per lembar per Kamis (12/2), maka estimasi dividend yield atau imbal hasil dividen yang akan diterima investor mencapai angka yang sangat kompetitif, yakni sekitar 5,5 persen. Angka ini tergolong tinggi untuk perusahaan di sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang biasanya memiliki volatilitas harga rendah namun stabil dalam pembagian keuntungan. Komitmen rasio pembayaran 100 persen ini sebenarnya bukan hal baru bagi UNVR; pada tahun buku 2024, perusahaan mencatatkan payout ratio sebesar 99,7 persen dengan total nilai Rp 3,35 triliun, yang terdiri dari dividen interim Rp 41 per saham dan dividen final Rp 47 per saham. Namun, tambahan dari hasil divestasi kali ini dipastikan akan membuat nilai dividen per saham tahun buku 2025 jauh lebih superior dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kinerja Operasional dan Dominasi Pasar Domestik
Di balik kebijakan dividen yang agresif, kinerja fundamental UNVR sepanjang tahun 2025 menunjukkan resiliensi yang cukup solid di tengah ketatnya persaingan pasar. Perseroan berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp 31,94 triliun, mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 4,31 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 30,62 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh dominasi yang kuat di pasar domestik yang menyumbang kontribusi masif sebesar Rp 31 triliun, sementara penetrasi pasar ekspor tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp 942,13 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun melakukan divestasi pada beberapa kategori, kekuatan merek inti Unilever masih menjadi pilihan utama konsumen di Indonesia.
Melihat lebih dalam pada segmen bisnisnya, kategori Home Care (Perawatan Rumah Tangga) dan Personal Care (Perawatan Tubuh) tetap menjadi tulang punggung utama pendapatan dengan total nilai penjualan mencapai Rp 23,35 triliun. Sementara itu, segmen Foods and Refreshment, meskipun telah kehilangan kontribusi dari es krim dan Sariwangi, masih mampu membukukan penjualan sebesar Rp 8,58 triliun. Efisiensi operasional juga terlihat dari pengelolaan laba bruto yang meningkat menjadi Rp 14,99 triliun dari sebelumnya Rp 14,55 triliun, meskipun beban pokok penjualan mengalami kenaikan menjadi Rp 16,94 triliun. Kenaikan laba bruto ini menjadi indikator penting bahwa perusahaan berhasil melakukan optimalisasi biaya di tengah fluktuasi harga bahan baku global.
Transformasi Strategis dan Fokus Pertumbuhan 2026
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode krusial bagi perusahaan untuk melakukan akselerasi pertumbuhan berbasis kualitas dan volume. Strategi perusahaan kini difokuskan pada penguatan merek-merek inti yang memiliki margin keuntungan tinggi dan loyalitas konsumen yang kuat. Untuk mendukung ambisi tersebut, UNVR telah mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2025, atau setara dengan 3 persen dari total penjualan. Menariknya, sekitar 60 persen dari alokasi capex tersebut difokuskan secara spesifik pada program efisiensi manufaktur dan peningkatan kapasitas produksi guna memperkuat produktivitas jangka panjang.
Menghadapi tantangan di kuartal pertama tahun 2026, manajemen menyadari adanya potensi perlambatan musiman yang disebabkan oleh pergeseran pola belanja konsumen. Fenomena ini dipicu oleh waktu perayaan Idul Fitri yang jatuh lebih awal, sehingga puncak konsumsi masyarakat diperkirakan telah terserap pada kuartal sebelumnya. Namun, Benjie Yap menekankan bahwa tekanan jangka pendek tersebut bersifat temporer dan tidak merusak fundamental bisnis perusahaan yang telah diperbaiki secara struktural sepanjang tahun 2025. Dengan neraca keuangan yang lebih ramping pasca-divestasi dan fokus yang lebih tajam pada kategori produk unggulan, Unilever optimistis dapat melampaui tren pertumbuhan pasar di tahun-tahun mendatang.
Komitmen pembagian dividen 100 persen ditambah dividen spesial ini juga menjadi sinyal kuat bagi pasar modal bahwa Unilever Indonesia memiliki tingkat likuiditas yang sangat sehat dan kepercayaan diri tinggi terhadap arus kas masa depan. Bagi investor institusi maupun ritel, langkah UNVR ini memberikan kepastian di tengah ketidakpastian ekonomi global, sekaligus membuktikan bahwa strategi divestasi aset non-inti dapat menjadi katalis positif untuk meningkatkan nilai pemegang saham (shareholder value) secara instan tanpa mengorbankan visi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

















