PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) mengumumkan langkah strategis penjualan aset properti senilai Rp 75 miliar, sebuah keputusan yang telah mendapatkan lampu hijau dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Februari 2026. Keputusan ini bukan sekadar transaksi biasa, melainkan sebuah manuver cermat untuk mengoptimalkan kinerja operasional dan memperkuat posisi kompetitif di tengah lanskap industri tekstil dan gaya hidup yang kian dinamis. Penjualan aset ini, yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat, kepada pihak non-afiliasi, menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang, dengan fokus pada efisiensi biaya sebagai kunci keunggulan strategis. Langkah ini disambut positif oleh pasar, terbukti dari lonjakan harga saham ZATA yang menanjak 34,71% ke level Rp 163 per saham pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, mengindikasikan kepercayaan investor terhadap prospek masa depan perusahaan.
Keputusan strategis PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) untuk melepas sebagian aset propertinya bukan didorong oleh keputusasaan likuiditas yang mengancam kelangsungan operasional hingga akhir tahun 2026. Sebaliknya, transaksi senilai Rp 75 miliar ini merupakan bagian integral dari strategi perusahaan untuk secara proaktif mengoptimalkan kinerja operasionalnya. Dalam era persaingan bisnis yang semakin ketat, terutama di sektor tekstil dan gaya hidup, ZATA menyadari pentingnya memiliki keunggulan kompetitif yang solid. Salah satu pilar utama untuk mencapai keunggulan tersebut adalah melalui peningkatan efisiensi biaya. Dengan merampingkan portofolio aset dan memfokuskan sumber daya pada lini bisnis yang lebih menguntungkan, ZATA berupaya untuk dapat bersaing secara lebih optimal dengan para kompetitornya, baik pemain domestik maupun internasional.
Analisis Kinerja Keuangan dan Posisi Aset ZATA
Sebelum dan pasca-keputusan penjualan aset, penting untuk menelisik lebih dalam kondisi finansial PT Bersama Zatta Jaya Tbk. Hingga periode 30 September 2025, perusahaan tercatat memiliki total aset yang cukup signifikan, mencapai angka Rp 680,94 miliar. Dari jumlah tersebut, porsi ekuitas yang dimiliki ZATA adalah sebesar Rp 525,69 miliar, menunjukkan basis modal yang kuat. Sementara itu, total kewajiban yang dihadapi perusahaan pada periode yang sama adalah Rp 157,25 miliar. Dari total kewajiban tersebut, utang bank yang menjadi salah satu komponen utang tercatat sebesar Rp 37,84 miliar. Angka-angka ini memberikan gambaran mengenai struktur permodalan dan tingkat leverage perusahaan sebelum eksekusi penjualan aset.
Dari sisi kinerja operasional, data hingga 30 September 2025 menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi ZATA. Pendapatan perusahaan mengalami penurunan sebesar 7,8% secara tahunan (year-on-year), tercatat sebesar Rp 158,08 miliar. Penurunan ini turut berdampak pada laba bruto yang juga terkoreksi sebesar 13,54% secara tahunan, menjadi Rp 66,66 miliar. Lebih lanjut, laba bersih emiten yang bergerak di bidang tekstil dan pakaian ini mengalami pelemahan yang lebih signifikan, yaitu melorot 15,35% secara tahunan, dan hanya mencapai Rp 1,93 miliar. Penurunan laba bersih ini mengindikasikan adanya tekanan pada margin keuntungan perusahaan, yang mungkin disebabkan oleh berbagai faktor seperti peningkatan biaya produksi, persaingan harga, atau penurunan permintaan pasar untuk produk-produk tertentu.
Dampak Penjualan Aset dan Respons Pasar
Keputusan strategis ZATA untuk menjual aset properti senilai Rp 75 miliar ini merupakan transaksi material, yang didefinisikan sebagai transaksi yang nilainya melebihi 20% dari total ekuitas perusahaan. Transaksi material semacam ini seringkali memerlukan persetujuan dari pemegang saham untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas. RUPSLB yang digelar pada 18 Februari 2026 menjadi forum krusial bagi para pemegang saham untuk memberikan mandat kepada manajemen dalam melaksanakan rencana penjualan aset ini. Dana hasil penjualan aset ini diharapkan akan memperkuat kas perusahaan, serta berpotensi digunakan untuk membayar sebagian utang yang ada, atau diinvestasikan kembali ke dalam lini bisnis yang lebih strategis dan menguntungkan. Tujuannya adalah untuk memperkuat neraca keuangan ZATA secara keseluruhan.
Respons pasar terhadap rencana penjualan aset ini terbilang sangat positif. Pada penutupan perdagangan hari Jumat, 20 Februari 2026, harga saham PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) menunjukkan lonjakan yang impresif, yaitu sebesar 34,71%. Saham ZATA ditutup pada level Rp 163 per saham. Kenaikan harga saham ini seringkali mencerminkan optimisme investor terhadap langkah-langkah strategis yang diambil oleh manajemen perusahaan. Investor melihat bahwa penjualan aset ini bukan hanya sekadar aksi jual, melainkan merupakan bagian dari upaya restrukturisasi dan penguatan fondasi bisnis ZATA. Dengan kas yang lebih kuat dan potensi pengurangan beban utang, perusahaan diharapkan memiliki fleksibilitas finansial yang lebih besar untuk berinvestasi dalam inovasi produk, ekspansi pasar, atau peningkatan efisiensi operasional lainnya, yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan kinerja keuangan di masa mendatang.

















