Respon Cepat Kementerian PUPR: Hunian Modular Siap Huni untuk Korban Banjir Aceh Tamiang
Kabupaten Aceh Tamiang kini menunjukkan langkah konkret dalam pemulihan pasca-bencana banjir yang meluluhlantakkan wilayah tersebut pada akhir November 2025. Sebanyak 84 keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat amukan air bah, kini telah mulai menempati hunian sementara yang didirikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Menteri PUPR, Bapak Dody Hanggodo, secara langsung meninjau dan meresmikan fasilitas vital ini, menegaskan komitmen pemerintah dalam menyediakan tempat berlindung yang layak dan aman bagi para korban bencana.
Konsep pembangunan hunian sementara ini mengedepankan efisiensi dan kecepatan tanpa mengabaikan aspek fundamental kenyamanan, sanitasi, dan ketersediaan fasilitas dasar. “Konsep ini tetap memperhatikan aspek kenyamanan, sanitasi, dan ketersediaan fasilitas dasar,” ujar Menteri Dody Hanggodo dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Jumat, 23 Januari 2026, seusai acara peresmian di Aceh Tamiang. Pendekatan modular dipilih secara strategis untuk memastikan bahwa unit-unit hunian dapat segera ditempati oleh para pengungsi, memberikan kelegaan dan stabilitas di tengah masa-masa sulit pasca-bencana.
Menteri Dody Hanggodo menjelaskan lebih lanjut bahwa penyediaan hunian sementara ini merupakan bagian integral dari strategi pemulihan jangka panjang yang terencana. Tujuannya adalah untuk menjamin bahwa setiap keluarga yang terdampak memiliki tempat tinggal yang aman dan layak selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat banjir. “Kami memastikan hunian ini bisa segera dihuni. Pekerjaan dimulai dari penyiapan lahan, pembangunan unit, hingga penyediaan sanitasi dan air bersih,” tegasnya, menggarisbawahi tahapan-tahapan krusial yang telah diselesaikan demi mempercepat proses transisi bagi para korban.
Detail Teknis dan Kapasitas Hunian Sementara
Lokasi strategis dipilih untuk pembangunan hunian sementara ini, yaitu di Gampong Bundar, Kecamatan Karang Baru, yang berlokasi di belakang kantor Bupati Aceh Tamiang. Area seluas 5.427 meter persegi ini menjadi saksi bisu dari upaya kolaboratif pemerintah dalam menangani dampak bencana. Dengan total luas bangunan mencapai 2.052 meter persegi, kompleks hunian ini dirancang secara cermat untuk menampung kebutuhan para pengungsi. Infrastruktur yang dibangun terdiri dari tujuh blok hunian yang fungsional, ditambah dengan satu unit musala yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi komunitas.
Proyek pembangunan hunian sementara ini berada di bawah koordinasi dan tanggung jawab penuh Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PUPR. Sebagai pelaksana lapangan, PT Wijaya Karya ditunjuk untuk memastikan kualitas dan ketepatan waktu pembangunan. Sebanyak 114 modul prefabrikasi disusun secara presisi untuk membentuk 84 unit hunian yang masing-masing dirancang untuk menampung rata-rata empat orang, sehingga total kapasitas keseluruhan mencapai sekitar 336 jiwa. Keberadaan fasilitas pendukung yang memadai menjadi prioritas utama, meliputi 42 unit fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang terdistribusi merata, area komunal yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas bersama, area jemur untuk kebutuhan sehari-hari, sebuah mushola yang representatif, unit genset sebagai cadangan daya listrik, serta tandon air untuk memastikan ketersediaan air bersih. Pasokan air bersih sendiri dipenuhi melalui kombinasi sumur bor dan tandon, sementara pengolahan limbah menggunakan sistem biotek yang ramah lingkungan. Untuk kebutuhan listrik, pasokan utama berasal dari PT PLN.
Perluasan Program dan Skala Penanganan Bencana
Lebih lanjut, Menteri Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa inisiatif pembangunan hunian sementara ini tidak hanya terbatas di Aceh Tamiang. Kementerian PUPR memiliki rencana induk yang lebih luas untuk penanganan bencana di wilayah Sumatera, dengan target pembangunan total 1.200 unit hunian sementara. Di Aceh Tamiang sendiri, 84 unit pertama telah rampung dan kini telah dihuni, menandai keberhasilan tahap awal program. Tak berhenti di situ, pembangunan hunian tahap kedua dengan kapasitas 156 unit kini tengah berjalan, menunjukkan progres yang berkelanjutan dalam upaya pemulihan.
Hunian tahap kedua ini berlokasi tidak jauh dari kompleks hunian pertama, menempati lahan seluas 13.248 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 3.780 meter persegi. Proyek ini akan menggunakan 210 modul untuk membangun tiga blok hunian tambahan dan satu unit mushola lagi. Hunian tahap kedua ini diproyeksikan akan menampung 156 kepala keluarga, atau setara dengan sekitar 624 jiwa, yang berarti peningkatan kapasitas signifikan. Fasilitas pendukung yang akan disediakan juga semakin komprehensif, termasuk 78 unit toilet dan 78 kamar mandi, memastikan kenyamanan dan sanitasi yang lebih baik bagi penghuni.
Perluasan program ini menjadi krusial mengingat skala dampak bencana yang melanda Aceh. Aceh Tamiang merupakan salah satu dari sekian banyak kabupaten di Aceh yang mengalami dampak terparah akibat banjir besar yang terjadi pada akhir November 2025. Data per 19 Januari 2026 menunjukkan bahwa di Aceh Tamiang saja, masih terdapat 6.052 jiwa yang terdiri dari 707 Kepala Keluarga (KK) yang masih mengungsi, tersebar di 513 titik pengungsian. Situasi ini menyoroti urgensi dan skala kebutuhan akan hunian sementara serta dukungan pemulihan lainnya.
Secara keseluruhan, bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh pada periode tersebut telah menimbulkan dampak multidimensional yang sangat luas. Tercatat sebanyak 2.584.067 jiwa atau setara dengan 670.826 KK terdampak langsung oleh bencana ini. Tragedi kemanusiaan ini juga merenggut nyawa, dengan angka korban meninggal dunia mencapai 561 orang, sementara 30 orang lainnya masih dilaporkan hilang, menambah daftar duka yang mendalam bagi masyarakat Aceh.














