Bencana tanah longsor dahsyat yang meluluhlantakkan kawasan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, kini telah memasuki fase krusial pada hari ketujuh operasi pencarian dan pertolongan. Hingga Jumat (30/1/2026), tim SAR gabungan terus berpacu dengan waktu dan kondisi alam yang tidak menentu untuk mengevakuasi puluhan warga yang tertimbun material tanah sejak bencana melanda pada Sabtu dini hari pekan lalu. Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mochamad Syafii, mengonfirmasi bahwa intensitas pencarian ditingkatkan seiring dengan ditemukannya lima jenazah tambahan pada hari ini, yang menambah total evakuasi menjadi 60 kantong jenazah. Operasi besar-besaran ini melibatkan ribuan personel lintas instansi, teknologi pemantauan udara, hingga anjing pelacak guna menyisir setiap jengkal area terdampak di tiga kampung yang kini tertutup material longsor pekat, sementara 20 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian intensif.
Peningkatan jumlah temuan korban pada hari ketujuh ini memberikan gambaran betapa masifnya dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh pergerakan tanah di wilayah Cisarua. Marsekal Madya TNI Mochamad Syafii menjelaskan bahwa penemuan lima jenazah terbaru merupakan hasil dari penyisiran mendalam di titik-titik yang sebelumnya sulit dijangkau oleh alat berat. Penggunaan istilah “body pack” atau kantong jenazah dalam laporan resmi merujuk pada proses evakuasi sisa-sisa korban yang ditemukan di bawah tekanan material longsor yang sangat berat. Hingga saat ini, dari total 60 kantong jenazah yang berhasil dievakuasi ke permukaan, tim Disaster Victim Identification (DVI) baru berhasil mengidentifikasi secara pasti 44 jenazah. Proses identifikasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihak medis karena kondisi jenazah yang telah tertimbun selama sepekan, sehingga memerlukan ketelitian tinggi melalui pencocokan data antemortem dan postmortem dari pihak keluarga yang selamat.
Eskalasi Operasi SAR: Mobilisasi Teknologi dan Ribuan Personel
Guna mempercepat proses evakuasi di medan yang sangat menantang, Basarnas telah mengerahkan kekuatan penuh dengan melibatkan tidak kurang dari 3.000 personel gabungan. Kekuatan ini terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD Provinsi Jawa Barat, relawan kemanusiaan, hingga masyarakat setempat yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai topografi wilayah Pasirlangu. Tidak hanya mengandalkan tenaga manusia, operasi ini juga didukung oleh alutsista dan teknologi mutakhir. Sebanyak lima unit helikopter dikerahkan untuk melakukan pemantauan udara dan mobilisasi logistik secara cepat, sementara pesawat pemantau terus mengorbit untuk memberikan gambaran visual terkini mengenai pergeseran tanah. Di darat, belasan alat berat jenis ekskavator bekerja tanpa henti untuk mengeruk material lumpur, didampingi oleh 22 unit drone thermal yang bertugas mendeteksi anomali di bawah permukaan tanah serta unit anjing pelacak K-9 yang memiliki spesialisasi dalam pencarian korban tertimbun.
Kondisi geografis Desa Pasirlangu yang berada di lereng perbukitan dengan kemiringan ekstrem menjadi hambatan utama bagi tim di lapangan. Material longsor yang terdiri dari campuran tanah lempung, bebatuan, dan puing-puing bangunan menciptakan lapisan yang sangat tidak stabil, terutama saat diguyur hujan. Syafii menegaskan bahwa keselamatan petugas tetap menjadi prioritas utama, mengingat risiko adanya longsor susulan yang sewaktu-waktu dapat mengancam nyawa para pencari. Oleh karena itu, protokol keselamatan diterapkan secara ketat, di mana pencarian akan dihentikan sementara jika sensor pemantau tanah menunjukkan adanya pergerakan atau jika kabut tebal mulai menutupi jarak pandang petugas di zona merah bencana.
Tantangan Cuaca Ekstrem dan Intervensi Teknologi Modifikasi Cuaca
Faktor cuaca yang tidak menentu di wilayah Bandung Barat telah menjadi musuh utama dalam operasi kemanusiaan ini. Hujan deras yang kerap turun pada siang hingga sore hari membuat material longsor menjadi cair dan berbahaya, yang secara otomatis menghambat pergerakan alat berat. Menanggapi kendala ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan instansi terkait telah melakukan langkah proaktif melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Upaya ini dilakukan dengan menyemai garam di awan-awan potensial hujan agar curah air tidak jatuh di lokasi pencarian, melainkan dialihkan ke wilayah lain. Langkah intervensi ini diharapkan dapat memberikan jendela waktu yang lebih panjang bagi tim SAR gabungan untuk bekerja di lapangan secara maksimal tanpa harus sering menghentikan operasi akibat faktor alam.
Di balik angka-angka statistik korban, terselip kisah-kisah pilu yang menyayat hati dari para penyintas di Desa Pasirlangu. Salah satu momen yang menjadi sorotan adalah penyelamatan seorang balita berusia dua tahun yang berhasil ditemukan selamat dari timbunan material longsor. Namun, keajaiban tersebut dibarengi dengan duka mendalam karena kedua orang tua balita tersebut ditemukan meninggal dunia dalam posisi melindungi anak mereka. Berdasarkan data dari Posko Komando Longsor, dari total 158 warga yang terdampak langsung di area bencana, tercatat 78 orang dinyatakan selamat meski sebagian besar mengalami trauma psikis yang hebat. Sementara itu, 80 orang pada awalnya dilaporkan hilang, di mana 60 di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, menyisakan 20 orang lainnya yang masih dinanti kepastian nasibnya oleh sanak saudara di posko pengungsian.
Rencana Relokasi dan Mitigasi Jangka Panjang Pemerintah Daerah
















