Menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang penuh berkah, sebanyak 12 unit sumur bor baru kini berdiri kokoh di berbagai pelosok Provinsi Aceh sebagai solusi konkret atas krisis air bersih yang melanda masyarakat pascabencana. Inisiatif kemanusiaan ini digagas dan dieksekusi langsung oleh para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan 83/WPS sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat yang komprehensif. Proyek strategis ini bertujuan untuk memulihkan akses sanitasi dasar bagi ribuan warga di sepuluh kabupaten dan kota yang infrastruktur airnya lumpuh akibat terjangan banjir bandang, sekaligus memastikan kelancaran ibadah umat Muslim selama bulan puasa. Dengan mengintegrasikan misi bantuan sosial dan pendidikan kepemimpinan lapangan, para calon perwira Polri ini tidak hanya membangun sarana fisik, tetapi juga merajut kembali harapan masyarakat Aceh melalui pendekatan yang humanis dan responsif terhadap kebutuhan mendesak di akar rumput.
Distribusi Geografis dan Pemulihan Infrastruktur Vital di Serambi Mekkah
Penyebaran pembangunan 12 sumur bor ini dilakukan secara sistematis dengan memprioritaskan wilayah-wilayah yang mengalami kerusakan paling parah pada sumber air alaminya. Titik awal pembangunan dimulai dari Kota Langsa, yang kemudian bergerak secara simultan menjangkau wilayah Aceh Timur, Aceh Utara, hingga ke pedalaman Aceh Tenggara. Tidak berhenti di situ, tim mahasiswa STIK Angkatan 83/WPS juga menyisir wilayah pesisir dan pegunungan lainnya seperti Pidie, Pidie Jaya, Lhokseumawe, Bireuen, Bener Meriah, Nagan Raya, hingga Aceh Barat. Pemilihan lokasi yang sangat luas ini mencerminkan komitmen Polri dalam menjangkau daerah-daerah terpencil yang seringkali luput dari perhatian utama pascabencana. Setiap titik sumur bor yang dibangun merupakan respons atas data lapangan yang menunjukkan adanya kontaminasi sumber air tanah oleh lumpur dan material sisa banjir, yang jika dibiarkan akan memicu krisis kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Bencana banjir bandang yang melanda wilayah-wilayah tersebut sebelumnya telah meninggalkan jejak kerusakan yang mendalam pada sistem distribusi air bersih warga. Sumur-sumur gali milik penduduk banyak yang tertimbun material sedimen, sementara pipa-pipa penyaluran air bersih terputus akibat pergeseran tanah. Kondisi ini menciptakan urgensi yang sangat tinggi, terutama mengingat karakteristik masyarakat Aceh yang sangat religius, di mana kebutuhan air bersih menjadi elemen vital untuk keperluan bersuci (wudhu), memasak hidangan sahur dan berbuka, hingga menjaga higienitas tempat ibadah. Kehadiran 12 sumur bor ini menjadi oase di tengah kekhawatiran warga akan kesulitan air selama Ramadan, memberikan jaminan bahwa aktivitas spiritual dan domestik mereka tidak akan terganggu oleh kendala teknis ketersediaan air.
Filosofi Kepemimpinan Polri: Membentuk Karakter Melalui Empati Sosial
Ketua STIK, Irjen Pol Eko Rudi Sudarto, dalam keterangannya menegaskan bahwa program pengabdian masyarakat ini dirancang sebagai kurikulum hidup yang melampaui batas-batas ruang kelas akademik. Menurut jenderal bintang dua tersebut, kepemimpinan di tubuh Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh hanya dibangun di atas fondasi teori hukum dan latihan taktis semata, melainkan harus ditempa melalui pengalaman langsung bersentuhan dengan penderitaan dan kesulitan nyata yang dihadapi rakyat. Mahasiswa S1 STIK Angkatan 83/WPS diterjunkan ke Aceh dengan dua misi utama yang saling berkaitan: menjalankan amanat kemanusiaan di wilayah terdampak bencana dan menjadikan momentum ini sebagai ruang pembentukan watak serta kepekaan sosial. Dengan terjun langsung ke lapangan, para calon pemimpin Polri ini diharapkan mampu memahami sosiologi masyarakat secara mendalam, sehingga kelak saat menjabat di posisi strategis, mereka memiliki perspektif yang lebih empatik dalam mengambil keputusan.
Baca Juga: Kurir 40 Gram Sabu-Sabu dari Aceh ke Jakarta Divonis Penjara Seumur Hidup
Implementasi di lapangan menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah kerja kolaboratif yang melibatkan sinergi kuat antara dunia pendidikan kepolisian dan satuan kewilayahan. Pembangunan sumur bor ini terlaksana berkat dukungan penuh dari jajaran Polres di masing-masing wilayah di bawah koordinasi ketat Polda Aceh. Sinergi ini memungkinkan proses identifikasi titik prioritas berjalan sangat cepat dan akurat, karena melibatkan bhabinkamtibmas yang paling memahami kondisi geografis dan sosial di desa-desa binaan. Keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses koordinasi ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya manajemen sumber daya dan komunikasi lintas sektoral dalam menangani krisis di tengah masyarakat.
Aspek Teknis dan Keberlanjutan Akses Air Bersih Masyarakat
Secara teknis, pembangunan 12 sumur bor ini tidak dilakukan secara serampangan, melainkan melalui studi kelayakan geologis yang matang untuk memastikan keberlanjutan fungsi sumur dalam jangka panjang. Tim mahasiswa bersama tenaga ahli melakukan survei awal untuk memetakan kedalaman akuifer atau lapisan tanah yang mengandung air di masing-masing wilayah yang memiliki karakteristik tanah berbeda, mulai dari tanah alluvial di pesisir hingga batuan keras di wilayah pegunungan seperti Bener Meriah. Penggunaan teknologi bor mesin dipilih untuk mencapai kedalaman yang ideal agar air yang dihasilkan benar-benar jernih, bebas dari kontaminasi permukaan, dan tetap stabil debitnya meskipun memasuki musim kemarau. Selain pengeboran, proyek ini juga mencakup pembangunan tandon air (reservoir) dan instalasi pipa distribusi yang memudahkan warga untuk mengambil air tanpa harus mengantre panjang.
Baca Juga: 21 Mahasiswa STIK Angkatan 83 Tiba di Aceh Barat, Bantu Masyarakat Terdampak Bencana
Keberhasilan pembangunan infrastruktur ini sekaligus mempertegas arah transformasi Polri menuju institusi yang lebih humanis dan modern. Dengan menempatkan mahasiswa STIK sebagai motor penggerak bantuan, Polri ingin menunjukkan bahwa polisi masa depan adalah mereka yang hadir sebagai pemberi solusi (problem solver) atas masalah-masalah dasar kemanusiaan. Program ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan soft power melalui aksi sosial memiliki dampak yang sangat signifikan dalam membangun kepercayaan publik (public trust). Masyarakat Aceh, yang memiliki sejarah panjang dan dinamika sosial yang unik, menyambut hangat inisiatif ini sebagai bentuk perhatian nyata negara melalui tangan-tangan calon perwira kepolisian yang peduli pada kesejahteraan mereka.
Baca Juga: Padat Karya Tunai Jadi Solusi Gerakkan Kembali Aktivitas Ekonomi Pascabencana di Aceh
Sebagai penutup dari rangkaian pengabdian ini, para mahasiswa STIK juga memberikan edukasi kepada masyarakat setempat mengenai tata cara perawatan mesin pompa dan pemeliharaan area sekitar sumur bor agar tetap higienis. Hal ini dilakukan agar bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang di Aceh. Dengan tuntasnya pembangunan 12 sumur bor ini, diharapkan suasana Ramadan di Aceh tahun ini dapat berjalan dengan lebih khidmat, nyaman, dan penuh sukacita, seiring dengan mengalirnya air bersih yang menjadi simbol kehidupan dan semangat baru bagi warga Serambi Mekkah untuk bangkit kembali pascabencana.
Baca Juga: Para Taruna Akpol Penyelamat Bocah Hanyut di Aceh Tamiang Diganjar Penghargaan

















