Proses pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera dilaporkan telah menunjukkan kemajuan signifikan, dengan sekitar 70 persen daerah yang terdampak telah berhasil kembali ke aktivitas normal dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, mengumumkan capaian ini dalam sebuah konferensi pers di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, pada Rabu, 11 Februari 2026. Laporan ini mencakup total 52 kabupaten/kota yang terdampak di tiga provinsi kunci: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, 37 daerah dilaporkan telah sepenuhnya pulih dan kembali beroperasi seperti sedia kala. Angka ini merepresentasikan upaya kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat dalam menanggulangi dampak bencana yang melanda kawasan tersebut, yang sebagian besar disebabkan oleh cuaca ekstrem yang memicu banjir bandang dan tanah longsor. Meskipun demikian, upaya pemulihan masih terus berlanjut, dengan fokus khusus diberikan pada daerah-daerah yang masih memerlukan penanganan lebih lanjut.
Progres Pemulihan Pascabencana: Tinjauan Mendalam
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dalam paparannya pada Rabu, 11 Februari 2026, memberikan gambaran komprehensif mengenai status pemulihan pascabencana di Sumatera. Ia menggarisbawahi bahwa dari total 52 kabupaten dan kota yang terkena dampak bencana alam, sebanyak 37 unit pemerintahan daerah telah berhasil mengembalikan aktivitas normal mereka dalam rentang waktu sekitar dua bulan. Capaian ini setara dengan hampir 70 persen dari total daerah terdampak, sebuah indikator kuat dari efektivitas dan kecepatan respons pemerintah serta berbagai pihak yang terlibat dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi. Lebih lanjut, Tito merinci bahwa selain 37 daerah yang telah pulih sepenuhnya, terdapat empat daerah lagi yang kondisinya sudah mendekati normal, menunjukkan adanya perbaikan yang substansial. Namun demikian, masih ada 11 daerah yang memerlukan perhatian khusus dan penanganan lebih intensif dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk memastikan semua aspek kehidupan masyarakat dapat kembali pulih sepenuhnya.
Data yang disampaikan oleh Mendagri Tito Karnavian tidak hanya berhenti pada angka agregat, tetapi juga menyajikan rincian yang lebih spesifik per provinsi, memberikan gambaran yang lebih tajam mengenai distribusi dampak dan tingkat pemulihan di masing-masing wilayah. Rincian ini krusial untuk memahami tantangan yang dihadapi dan strategi yang diterapkan dalam penanganan pascabencana. Laporan ini juga menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memprioritaskan penanganan daerah-daerah yang masih menghadapi kesulitan, memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal dalam proses pemulihan.
Rincian Pemulihan Berdasarkan Provinsi
Analisis mendalam terhadap data pemulihan pascabencana di Sumatera menunjukkan variasi yang signifikan antar provinsi, mencerminkan perbedaan skala dampak bencana, karakteristik geografis, serta kapasitas respons yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, memaparkan data terperinci yang memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi di lapangan.
Sumatera Barat: 19 Daerah Terdampak, 12 Telah Pulih Penuh
Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah oleh bencana banjir bandang dan tanah longsor. Dari total 19 kabupaten dan kota yang ada di provinsi ini, sebanyak 16 daerah dilaporkan mengalami dampak langsung dari bencana tersebut. Namun, upaya pemulihan di Sumatera Barat menunjukkan hasil yang menggembirakan. Saat ini, 12 dari 16 daerah yang terdampak telah berhasil kembali ke aktivitas normal. Ini berarti sebagian besar wilayah yang terkena musibah telah mampu memulihkan fungsi-fungsi vitalnya. Selain itu, dua daerah, yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Pesisir Selatan, berada dalam status “mendekati normal,” mengindikasikan bahwa proses pemulihan mereka hampir rampung dan perbaikan infrastruktur serta layanan publik sudah hampir sepenuhnya pulih. Sementara itu, dua daerah lainnya, yakni Kabupaten Agam dan Padang Pariaman, masih memerlukan perhatian khusus. Fokus penanganan di kedua daerah ini meliputi isu-isu krusial seperti pengelolaan pengungsian, pemulihan fasilitas pendidikan yang rusak, serta penyelesaian berbagai masalah sosial dan ekonomi yang timbul akibat bencana.
Sumatera Utara: 18 Daerah Terdampak, 15 Kembali Normal
Di Sumatera Utara, bencana alam juga menyentuh sejumlah wilayah, dengan total 33 kabupaten dan kota yang ada di provinsi tersebut. Dari jumlah tersebut, 18 daerah dilaporkan terdampak oleh bencana. Progres pemulihan di Sumatera Utara juga patut diapresiasi. Sebanyak 15 daerah telah berhasil kembali ke kondisi normal, menunjukkan efektivitas dalam penanganan darurat dan pemulihan awal. Satu daerah, Tapanuli Selatan, dilaporkan berada dalam tahap “mendekati normal,” yang berarti pemulihan di wilayah ini sudah hampir selesai. Namun, dua daerah lain, yaitu Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, masih membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Penanganan di kedua wilayah ini kemungkinan besar difokuskan pada rehabilitasi infrastruktur yang lebih parah terdampak, pemulihan mata pencaharian warga, dan stabilisasi kondisi sosial pascabencana.
Aceh: 18 Daerah Terdampak, Fokus pada 6 Wilayah Prioritas
Provinsi Aceh, yang terdiri dari 23 kabupaten dan kota, juga tidak luput dari dampak bencana alam. Sebanyak 18 daerah di Aceh dilaporkan terdampak. Dari jumlah tersebut, 10 daerah telah dilaporkan kembali beraktivitas normal. Dua daerah, yaitu Bener Meriah dan Gayo Luwes, berada dalam kondisi “mendekati normal,” menandakan bahwa pemulihan di sana berjalan sesuai harapan. Namun, perhatian khusus disorot pada beberapa daerah lain yang masih memerlukan penanganan intensif. Wilayah-wilayah ini meliputi Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireun, dan Aceh Tengah. Penanganan di daerah-daerah ini kemungkinan besar mencakup aspek-aspek yang lebih kompleks, seperti pemulihan aksesibilitas, perbaikan rumah warga yang rusak berat, pemulihan lahan pertanian, serta dukungan psikososial bagi korban bencana. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara eksplisit menyatakan bahwa penanganan terhadap daerah-daerah yang masih terdampak serius, termasuk Gayo Luwes, akan menjadi atensi utama pemerintah, menunjukkan komitmen untuk memastikan pemulihan yang komprehensif dan merata di seluruh wilayah Sumatera.

















