Kawah Ijen, destinasi pendakian yang memukau namun penuh tantangan, kembali menjadi sorotan publik menyusul insiden hilangnya seorang pendaki muda. Muhammad Dzikri Maulana (16), warga Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, dilaporkan terpisah dari rombongannya dan menghilang di jalur pendakian Gunung Ijen pada Rabu, 18 Februari 2026. Peristiwa ini memicu mobilisasi besar-besaran dari tim gabungan pencarian dan pertolongan (SAR) yang melibatkan puluhan personel dari berbagai lembaga, mengerahkan strategi pencarian multi-metode di tengah medan yang dikenal sulit dan cuaca yang tidak menentu. Bagaimana seorang remaja bisa hilang di salah satu jalur pendakian terpopuler di Jawa Timur, dan upaya heroik apa yang dilakukan untuk menemukannya?
Detik-detik Hilangnya Muhammad Dzikri: Dari Puncak Ijen Menuju Ketidakpastian
Kisah hilangnya Dzikri bermula pada dini hari yang dingin, tepatnya pukul 02.00 WIB, saat ia bersama empat rekannya memulai pendakian menuju puncak Kawah Ijen. Perjalanan malam hari ini seringkali dipilih oleh para pendaki untuk menyaksikan fenomena “api biru” yang terkenal dan menikmati matahari terbit yang spektakuler dari kawah belerang. Namun, apa yang seharusnya menjadi pengalaman tak terlupakan berubah menjadi mimpi buruk saat rombongan tiba di puncak. Menurut keterangan Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, Dzikri terpisah dari kelompoknya sekitar pukul 08.30 WIB. Detik-detik perpisahan itu menjadi kunci misteri, meninggalkan pertanyaan besar tentang apa yang sebenarnya terjadi di ketinggian tersebut. Titik koordinat terakhir Dzikri dilaporkan berada di 8°3’41.68″S 114°14’45.83″T, sebuah area yang dikenal dengan kontur tanah yang curam dan vegetasi yang rapat, menambah kompleksitas upaya pencarian. Keluarga Dzikri, bersama warga setempat dan tim terkait, segera melakukan pencarian awal di sekitar lokasi, namun tanpa hasil yang memuaskan.
Mobilisasi Tim SAR Gabungan: Respon Cepat di Tengah Malam
Menerima laporan hilangnya Dzikri, Kantor SAR Banyuwangi segera mengaktifkan prosedur operasi pencarian dan pertolongan. Pada Rabu malam, 18 Februari 2026, pukul 20.24 WIB, sebuah tim gabungan yang terdiri dari personel rescue Kantor SAR Banyuwangi, didukung oleh berbagai unsur penting lainnya, mulai bergerak menuju lokasi kejadian. Tim ini tiba di titik koordinat yang ditentukan pada pukul 21.54 WIB, menandai dimulainya operasi SAR resmi. Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan keseriusan dan skala operasi ini. Secara total, operasi SAR ini melibatkan sebanyak 41 personel gabungan, sebuah angka yang mencerminkan besarnya sumber daya yang dikerahkan. Mereka terdiri dari:
- Tim Rescue Kantor SAR Banyuwangi
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi
- Kepolisian Sektor (Polsek) Licin
- Komando Rayon Militer (Koramil) Licin
- Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Gunung Ijen
- Banyuwangi SAR Independent (BSI)
- Masyarakat setempat
Dukungan peralatan juga sangat komprehensif, meliputi rescue car Type II, peralatan vertical rescue untuk medan curam, perlengkapan medis untuk penanganan darurat, dan alat komunikasi yang vital untuk koordinasi di area terpencil. Meskipun tim sudah bergerak pada Rabu malam, beberapa referensi menunjukkan bahwa proses pencarian sempat dihentikan sementara pada Rabu petang, mungkin untuk evaluasi atau persiapan strategi yang lebih matang sebelum dilanjutkan secara penuh pada hari berikutnya.
Strategi Pencarian Hari Kedua: Memperluas Cakupan di Medan Sulit
Operasi pencarian Dzikri memasuki hari kedua pada Kamis, 19 Februari 2026, dengan intensitas yang lebih tinggi. Pukul 06.30 WIB, seluruh petugas gabungan melaksanakan briefing mendalam untuk mengevaluasi situasi dan menyusun strategi. Tim kemudian dibagi menjadi dua Satuan Regu Pencarian (SRU) dengan tugas dan area cakupan yang spesifik, menunjukkan pendekatan yang terorganisir dan sistematis:
- SRU 1: Bertugas melakukan penyisiran jalur pendakian utama dari Paltuding (pos awal pendakian) hingga puncak. Area ini mencakup jarak kurang lebih 3,6 kilometer. Metode yang digunakan adalah hasty search (Type I), sebuah teknik pencarian cepat untuk melacak jejak atau tanda-tanda keberadaan korban di jalur yang sering dilalui.
- SRU 2: Fokus pada pencarian di sekitar lokasi kejadian (LKP) di mana Dzikri terakhir terlihat terpisah. Tim ini menerapkan pola open grid (Type II), yaitu metode pencarian sistematis dengan membagi area seluas 1 km² menjadi kotak-kotak kecil untuk memastikan tidak ada area yang terlewat. Strategi ini dirancang untuk memperluas cakupan dan meningkatkan peluang penemuan di area yang mungkin tidak terjangkau oleh jalur utama.
Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menegaskan pentingnya perluasan area pencarian. “Kami mengoptimalkan penyisiran jalur utama pendakian serta memperluas area pencarian di sekitar LKP dengan metode grid,” ujarnya, menekankan upaya maksimal yang dilakukan oleh tim. Medan Kawah Ijen yang berbukit, berbatu, dan kadang diselimuti kabut atau asap belerang, membuat setiap langkah pencarian menjadi tantangan berat. Namun, semangat dan koordinasi antar unsur tim tetap tinggi.
Optimisme di Tengah Tantangan: Cuaca dan Koordinasi Maksimal
Meskipun tantangan medan dan potensi cuaca ekstrem selalu menjadi faktor dalam operasi SAR di gunung, laporan pada hari kedua pencarian menunjukkan kondisi yang relatif mendukung. Cuaca di lokasi dilaporkan berawan, yang berarti tidak ada hujan lebat atau kabut tebal yang signifikan yang dapat menghambat visibilitas dan pergerakan tim. Kondisi ini memberikan sedikit optimisme bagi para petugas untuk dapat bekerja secara lebih efektif. Made Oka Astawa menyatakan komitmen pihaknya untuk memaksimalkan proses pencarian ini. “Seluruh unsur bekerja secara terkoordinasi dan sistematis,” katanya, menggarisbawahi pentingnya sinergi antarlembaga dan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat seperti ini. Koordinasi yang kuat memastikan bahwa setiap informasi, temuan, dan perubahan strategi dapat dikomunikasikan dengan cepat dan efisien, menghindari duplikasi upaya dan memaksimalkan cakupan area. Dedikasi tim gabungan ini mencerminkan profesionalisme dalam menghadapi misi penyelamatan jiwa.
Sebagai bagian dari prosedur standar, tim SAR juga telah menyiapkan rencana evakuasi yang matang apabila Dzikri berhasil ditemukan. “Apabila korban ditemukan, akan segera kami evakuasi dan dibawa ke RSUD Blambangan untuk penanganan lebih lanjut,” jelas Made. Prosedur ini mencakup penanganan medis awal di lokasi, stabilisasi kondisi korban, dan transportasi aman menuju fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan dan perawatan intensif. Hilangnya Dzikri Maulana menjadi pengingat akan risiko yang melekat pada setiap aktivitas pendakian, terutama di jalur-jalur yang menantang seperti Kawah Ijen. Insiden ini juga menyoroti pentingnya persiapan matang, kewaspadaan kelompok, dan kecepatan respon dari tim SAR dalam menghadapi situasi darurat di alam bebas.

















