Operasi pencarian besar-besaran terhadap 32 warga yang tertimbun tanah longsor di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memasuki fase krusial pada Rabu (28/1/2026) di tengah kepungan kabut tebal dan cuaca ekstrem yang menyelimuti kaki Gunung Burangrang. Tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur kini berpacu dengan waktu dan tantangan alam yang berat untuk menemukan puluhan korban hilang setelah bencana dahsyat meratakan puluhan rumah pada Sabtu pekan lalu. Dengan mengerahkan belasan alat berat dan pembagian sektor pencarian yang lebih spesifik, operasi ini menjadi prioritas utama penanggulangan bencana di Jawa Barat guna memberikan kepastian bagi keluarga korban yang terus menanti dengan penuh kecemasan di posko-posko pengungsian sekitar lokasi kejadian.
Memasuki hari kelima pascabencana, atmosfer di lokasi pencarian di Desa Pasirlangu tampak mencekam. Sejak dini hari, hujan dengan intensitas sedang terus mengguyur kawasan lereng gunung, yang kemudian memicu turunnya kabut sangat tebal. Kondisi ini secara signifikan membatasi jarak pandang para petugas lapangan hingga hanya menyisakan beberapa meter ke depan. Fenomena alam ini bukan sekadar kendala visual, melainkan ancaman keselamatan nyata bagi ratusan personel SAR yang bekerja di atas tanah yang masih labil. Kabut yang menyelimuti kaki Gunung Burangrang tersebut memaksa dimulainya operasi pencarian sedikit lebih lambat dari jadwal biasanya, karena risiko longsor susulan yang bisa terjadi kapan saja akibat penjenuhan air dalam tanah yang belum juga berhenti sejak Selasa malam.
Strategi Penetrasi Sektor dan Mobilisasi Alat Berat di Medan Ekstrem
Untuk mengoptimalkan proses evakuasi yang semakin kompleks, Tim SAR gabungan telah memetakan zona pencarian ke dalam lima sektor utama, dengan fokus intensif pada tiga sektor kunci yakni A1, A2, dan B3. Selain ketiga titik tersebut, otoritas terkait juga menambahkan satu sektor tambahan di zona A3. Penambahan sektor A3 ini bersifat strategis karena letaknya yang berada di elevasi lebih tinggi dan bersentuhan langsung dengan kaki Gunung Burangrang, area yang diduga menjadi titik awal pergerakan massa tanah dalam skala besar. Pembagian sektor ini bertujuan agar pengerahan personel dan alat berat dapat terdistribusi secara merata dan tidak bertumpuk di satu titik, mengingat luasnya area terdampak yang mencakup Kampung Pasirkuning hingga Kampung Pasir Kuda.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Y Bramantyo, menegaskan bahwa kekuatan mekanis menjadi tumpuan utama dalam menembus material longsor yang terdiri dari campuran tanah liat, bebatuan, dan puing-puing bangunan. Hingga Rabu dini hari, kekuatan alat berat telah ditingkatkan secara signifikan. Jika sebelumnya hanya terdapat 13 unit ekskavator yang beroperasi, kini terdapat tambahan empat unit alat berat baru yang telah masuk ke zona merah, sehingga total ada 17 unit alat berat yang dikerahkan. Penambahan ini diharapkan dapat mempercepat proses pengerukan material tanah yang menimbun setidaknya 30 rumah warga. Laksamana Pertama TNI Y Bramantyo menjelaskan bahwa setiap unit alat berat dikawal oleh tim pemantau untuk memastikan tidak ada korban yang terlewatkan atau justru mengalami kerusakan lebih lanjut saat proses pengerukan berlangsung.
Tantangan di lapangan tidak hanya terbatas pada ketebalan material tanah, tetapi juga penemuan benda-benda milik warga yang tertimbun jauh di dalam tanah. Dalam proses pencarian terbaru, petugas sempat menemukan satu unit sepeda motor yang diduga kuat milik salah satu korban hilang. Penemuan kendaraan ini menjadi petunjuk penting bagi tim SAR untuk mempersempit area penggalian, karena seringkali posisi korban berada tidak jauh dari harta benda atau struktur bangunan rumah mereka. Namun, proses evakuasi benda-benda ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati demi menjaga integritas jenazah yang mungkin berada di sekitarnya. Setiap temuan sekecil apa pun dicatat dan diverifikasi oleh tim identifikasi untuk dicocokkan dengan data manifes warga yang hilang.
Dinamika Data Korban dan Evaluasi Operasi SAR Gabungan
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh posko utama Tim SAR, total warga yang terdampak langsung oleh bencana longsor ini mencapai 155 jiwa. Dari jumlah keseluruhan tersebut, tercatat 75 jiwa berhasil menyelamatkan diri atau dievakuasi dalam kondisi selamat pada saat-saat awal kejadian. Namun, tragedi ini menyisakan luka mendalam dengan laporan awal 80 jiwa yang dinyatakan hilang. Hingga Selasa malam pukul 18.10 WIB, kerja keras tim di lapangan telah membuahkan hasil dengan ditemukannya 48 kantong jenazah atau body pack. Dengan demikian, fokus utama pencarian saat ini adalah menemukan 32 jiwa lainnya yang masih dinyatakan hilang dan diduga kuat masih tertimbun di bawah reruntuhan rumah dan material tanah yang mencapai ketebalan beberapa meter.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, memberikan penjelasan mendalam mengenai durasi dan prosedur standar operasi (SOP) pencarian ini. Meskipun secara regulasi nasional operasi SAR biasanya berlangsung selama tujuh hari, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat telah mengajukan permintaan resmi agar durasi pencarian diperpanjang hingga 14 hari. Hal ini didasari oleh skala bencana yang sangat besar dan jumlah korban hilang yang masih cukup banyak. Kendati demikian, Ade Dian menekankan bahwa evaluasi menyeluruh akan tetap dilakukan pada hari ketujuh, tepatnya pada Jumat (30/1/2026). Evaluasi tersebut akan menentukan apakah operasi akan dilanjutkan dengan kekuatan penuh, diperpanjang dengan pengurangan personel, atau dihentikan jika seluruh target korban telah ditemukan sebelum batas waktu tersebut.
Kondisi psikologis keluarga korban juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Di sela-sela proses pencarian, tim trauma healing telah diterjunkan untuk mendampingi para penyintas yang kehilangan anggota keluarga serta tempat tinggal. Ketidakpastian mengenai keberadaan 32 korban yang belum ditemukan menjadi beban berat bagi masyarakat Desa Pasirlangu. Oleh karena itu, transparansi data dan pembaruan informasi secara berkala dari Tim SAR gabungan menjadi sangat krusial. Setiap perkembangan di sektor A1 hingga B3 terus dipantau melalui komunikasi radio dan koordinasi lintas sektoral antara Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan yang bahu-membahu di tengah cuaca yang tidak bersahabat.
Ke depannya, tantangan utama tetap berada pada faktor cuaca yang sulit diprediksi di kawasan pegunungan Bandung Barat. Hujan yang turun terus-menerus tidak hanya menghambat pencarian, tetapi juga meningkatkan risiko pergerakan tanah susulan yang dapat membahayakan tim pencari. Tim geologi dari instansi terkait juga dilibatkan untuk memantau pergerakan tanah di bagian atas lereng Gunung Burangrang guna memberikan peringatan dini (early warning) bagi para petugas di bawah. Operasi kemanusiaan ini merupakan salah satu yang terbesar di Jawa Barat pada awal tahun 2026, mencerminkan sinergi maksimal dalam menghadapi bencana geologi yang kian sering mengancam wilayah pemukiman di zona merah rawan longsor.














