Seorang pendaki muda, Yasid Ahmad Firdaus (26), dilaporkan hilang di kawasan Bukit Mongkrang, lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah, menyisakan misteri yang belum terpecahkan hingga Senin (27/1). Perjuangan tim pencari yang telah memasuki hari kesembilan belum membuahkan hasil, meninggalkan kekhawatiran mendalam bagi keluarga dan komunitas pendaki. Insiden ini menyoroti kerentanan pendaki terhadap perubahan cuaca ekstrem dan kondisi geografis yang menantang, bahkan di jalur yang dianggap relatif mudah.
Pencarian Intensif di Tengah Kendala Alam
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Hendro Prayitno, mengkonfirmasi bahwa hingga hari kesembilan sejak laporan kehilangan diterima, belum ada jejak keberadaan Yasid yang berhasil ditemukan. “Hari ini hari kesembilan pencarian, belum ditemukan tanda-tanda korban,” ujar Hendro kepada media, pada Rabu (21/1). Upaya pencarian yang dilakukan secara intensif melibatkan tim gabungan dari BPBD, relawan, dan unsur terkait lainnya. Mereka tidak hanya menyisir jalur pendakian yang biasa dilalui, tetapi juga area-area yang berpotensi menjadi lokasi hilangnya pendaki.
Fokus pencarian sempat dialihkan ke sekitar Pos 3 Bukit Mongkrang menyusul adanya laporan mengenai dugaan bau anyir di kawasan tersebut. “Fokus dari teman-teman petugas dan relawan terkait dengan bau anyir yang diperkirakan berasal dari Pos 3. Tim juga diturunkan ke lokasi tersebut, termasuk tim vertikal, namun hasilnya nihil,” jelas Hendro Prayitno, merinci bahwa tim vertikal dikerahkan untuk menjangkau area-area yang sulit diakses secara konvensional.
Faktor Cuaca dan Geografi Menjadi Tantangan Utama
Proses pencarian Yasid Ahmad Firdaus menghadapi sejumlah kendala signifikan yang memperlambat dan mempersulit upaya penyelamatan. Hendro Prayitno mengidentifikasi cuaca buruk sebagai salah satu hambatan utama. Hujan yang terus-menerus dan kondisi cuaca yang tidak menentu di kawasan pegunungan membuat tim pencari harus ekstra hati-hati dalam bergerak dan melakukan penyisiran. Selain itu, kondisi geografis Bukit Mongkrang yang memiliki beberapa titik berupa jurang juga menambah kompleksitas pencarian dan evakuasi.
“Sebenarnya Bukit Mongkrang ini biasanya digunakan pendaki pemula, tetapi alam tidak bisa diprediksi. Ada beberapa titik yang merupakan jurang,” ungkap Hendro. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meskipun jalur pendakian tersebut seringkali dianggap relatif mudah dan aman bagi pendaki pemula, potensi bahaya tetap ada, terutama ketika faktor alam tidak dapat diprediksi. Lereng Gunung Lawu, termasuk Bukit Mongkrang, dikenal memiliki medan yang bervariasi, mulai dari jalur landai hingga area yang curam dan terjal.
Imbauan untuk Keselamatan Pendaki
Menyikapi insiden hilangnya Yasid Ahmad Firdaus dan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem, pihak BPBD Karanganyar mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat, khususnya para pendaki. Hendro Prayitno mengimbau agar aktivitas pendakian di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu sebaiknya ditunda demi keselamatan. “Kalau bisa ditunda dulu, karena prediksi dari BMKG Januari-Februari cuacanya hujan terus dan ekstrem,” katanya, merujuk pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan potensi hujan intensitas tinggi dan cuaca ekstrem selama periode tersebut.
Pentingnya kesadaran akan kondisi alam dan persiapan yang matang sebelum mendaki tidak bisa diremehkan. Bukit Mongkrang, yang sering menjadi pilihan bagi pendaki pemula karena dianggap memiliki tingkat kesulitan yang lebih rendah dibandingkan puncak Gunung Lawu, tetap membutuhkan kewaspadaan. Kehilangan pendaki di area ini menjadi pengingat bahwa setiap pendakian memiliki risiko, dan persiapan yang memadai, termasuk pemantauan prakiraan cuaca, perlengkapan yang sesuai, dan informasi mengenai kondisi jalur, sangat krusial. Keindahan alam pegunungan seringkali dibarengi dengan tantangan yang tidak terduga, dan mengutamakan keselamatan adalah prioritas utama.













