Setelah pencarian panjang dan penuh harapan yang berlangsung lebih dari tiga minggu, Yasid Ahmad Firdaus, seorang pendaki berusia 26 tahun asal Colomadu, Karanganyar, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di lereng Gunung Lawu. Penemuan tragis ini terjadi pada Selasa pagi, 10 Februari 2026, di kawasan Bukit Mitis, tepatnya di atas aliran Sungai Mitis atau sungai kecil yang mengalir di sisi barat Bukit Mongkrang. Jasad korban ditemukan oleh tim relawan gabungan setelah operasi pencarian resmi oleh tim SAR dihentikan, mengakhiri 24 hari penantian sejak Yasid dilaporkan hilang pada 18 Januari 2026 setelah terpisah dari rombongannya saat turun gunung dari Bukit Mongkrang. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan bahaya dan tantangan yang melekat pada aktivitas pendakian di medan pegunungan yang ekstrem.
Medan Ekstrem dan Tantangan Pencarian
Penemuan jasad Yasid Ahmad Firdaus di lokasi yang dikenal sangat sulit dijangkau, yakni di sekitar aliran sungai di kawasan Bukit Mongkrang, menyoroti betapa ekstremnya medan yang harus dihadapi oleh tim pencari. Hendro, salah satu koordinator lapangan, menjelaskan bahwa titik penemuan berada di area yang karakteristik geografisnya sangat menantang: terjal, licin, dan penuh risiko tinggi. Jalur di sekitar sungai tersebut bukan hanya curam dengan kemiringan ekstrem, tetapi juga diperparah oleh kondisi tanah yang lembap dan bebatuan yang licin akibat aliran air, serta vegetasi rapat yang menghambat pergerakan. Kondisi ini secara signifikan memperlambat dan mempersulit setiap langkah tim gabungan yang harus menyusuri setiap celah, lembah, dan aliran sungai untuk memastikan tidak ada titik yang terlewat dalam upaya menemukan Yasid.
Tantangan geografis ini menjadi faktor krusial yang mempengaruhi seluruh proses pencarian sejak hari pertama. Tim gabungan, yang terdiri dari berbagai elemen seperti Basarnas, BPBD, relawan pecinta alam, serta personel TNI-Polri, harus mengerahkan segala upaya dan kehati-hatian ekstra. Mereka tidak hanya menghadapi kemiringan dan kelicinan medan, tetapi juga risiko longsor kecil dan potensi bahaya lain yang tersembunyi di balik lebatnya vegetasi. Meskipun demikian, berkat kegigihan tim, jasad korban akhirnya berhasil ditemukan. Hendro juga memastikan bahwa kondisi jasad Yasid masih relatif utuh, sebuah fakta yang memudahkan proses identifikasi awal. Beberapa barang pribadi korban, termasuk sepatu dan kaus kaki, ditemukan di sekitar lokasi, menjadi petunjuk penting yang menguatkan identifikasi.
Proses Evakuasi dan Identifikasi Awal
Kondisi jasad yang relatif utuh dan ditemukannya barang-barang pribadi yang melekat pada korban sangat membantu tim di lapangan dalam melakukan identifikasi awal. Hal ini mempercepat proses verifikasi identitas sebelum jenazah dievakuasi dari lokasi penemuan yang terpencil dan sulit. Saat informasi penemuan ini pertama kali disiarkan, proses evakuasi masih berlangsung, menunjukkan kompleksitas dan tantangan logistik yang harus dihadapi tim gabungan untuk membawa jenazah keluar dari medan ekstrem tersebut. Setelah berhasil diturunkan dari ketinggian dan medan terjal, jenazah Yasid Ahmad Firdaus rencananya langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karanganyar. Di sana, proses identifikasi lebih lanjut akan dilakukan, termasuk pemeriksaan forensik jika diperlukan, untuk memastikan penyebab kematian dan melengkapi administrasi yang diperlukan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar telah berkoordinasi erat dengan pihak keluarga korban, memberikan dukungan dan informasi terkini mengenai penemuan dan proses selanjutnya.
Kronologi Hilangnya Pendaki dan Operasi SAR yang Intensif
Yasid Ahmad Firdaus dilaporkan hilang sejak tanggal 18 Januari 2026. Ia terpisah dari rombongan teman-temannya saat dalam perjalanan turun gunung setelah mendaki Bukit Mongkrang. Bukit Mongkrang sendiri merupakan salah satu destinasi favorit para pendaki di lereng Gunung Lawu, dikenal karena aksesnya yang relatif mudah dijangkau dan menawarkan panorama alam yang memukau. Namun, seperti halnya gunung lain, pesona Bukit Mongkrang juga menyimpan potensi bahaya, terutama jika pendaki terpisah dari jalur atau menghadapi perubahan cuaca ekstrem.
Menyusul laporan hilangnya Yasid, operasi pencarian resmi segera diluncurkan pada tanggal 19 Januari 2026. Operasi ini direncanakan berlangsung selama tujuh hari hingga 25 Januari 2026. Namun, karena tidak membuahkan hasil, periode pencarian diperpanjang beberapa kali, menunjukkan keseriusan dan komitmen tim SAR dalam menemukan korban. Selama operasi berlangsung, tim SAR gabungan dihadapkan pada serangkaian kendala serius di lapangan. Cuaca ekstrem menjadi salah satu musuh utama, dengan kabut tebal yang sering menyelimuti area pencarian, mengurangi jarak pandang secara drastis, serta angin kencang yang membuat kondisi semakin berbahaya dan dingin. Selain itu, vegetasi yang sangat rapat dan lebat di lereng gunung menyulitkan pergerakan tim dan menghambat visibilitas, membuat proses penyisiran menjadi sangat lambat dan melelahkan. Medan yang terjal dan licin, seperti yang dijelaskan Hendro, semakin menambah kompleksitas pencarian, memaksa tim untuk bergerak dengan sangat hati-hati dan seringkali menggunakan teknik vertikal untuk mencapai area-area tertentu.
Dalam upaya masif ini, ratusan personel gabungan dikerahkan. Mereka berasal dari berbagai lembaga dan organisasi, termasuk Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan), BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), berbagai komunitas relawan pecinta alam, serta unsur TNI dan Polri. Tim dengan keahlian khusus dalam teknik vertikal juga turut serta, menunjukkan tingkat kesulitan medan yang harus dihadapi. Meskipun pengerahan sumber daya yang sangat besar dan upaya tak kenal lelah, operasi pencarian resmi pada akhirnya dihentikan tanpa hasil yang positif. Namun, semangat solidaritas dan kemanusiaan tidak padam. Tim relawan gabungan melanjutkan pencarian secara mandiri, yang pada akhirnya membuahkan hasil tragis dengan ditemukannya jasad Yasid Ahmad Firdaus setelah 24 hari dinyatakan hilang. Penemuan ini, meskipun membawa duka mendalam, setidaknya memberikan kepastian bagi keluarga korban yang telah menanti dengan cemas.
Kisah Yasid Ahmad Firdaus menjadi pengingat yang kuat bagi seluruh komunitas pendaki akan pentingnya persiapan matang, kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, dan selalu berada dalam rombongan, terutama saat menjelajahi medan pegunungan yang indah namun juga menyimpan potensi bahaya yang tak terduga.















