Dunia pendakian tanah air kembali diselimuti duka mendalam setelah Yasid Ahmad Firdaus (26), seorang pemuda asal Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, yang sempat dinyatakan hilang secara misterius selama 23 hari di kawasan Bukit Mongkrang, lereng Gunung Lawu, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa pagi, 10 Februari 2026. Penemuan jasad korban di sekitar aliran sungai kecil kawasan Bukit Mitis ini mengakhiri teka-teki hilangnya pendaki tersebut sejak pertengahan Januari lalu, di mana operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan ratusan personel SAR gabungan sebelumnya sempat dihentikan karena tidak membuahkan hasil hingga batas waktu yang ditentukan. Jasad Yasid ditemukan oleh tim relawan yang melakukan pencarian mandiri, menandai akhir tragis dari upaya pencarian yang telah berlangsung selama lebih dari tiga pekan di medan yang dikenal memiliki cuaca ekstrem dan vegetasi yang rapat.
Kronologi penemuan jasad Yasid Ahmad Firdaus bermula ketika sejumlah relawan gabungan memutuskan untuk tetap melakukan penyisiran secara mandiri meskipun operasi resmi dari Basarnas dan BPBD Karanganyar telah ditutup beberapa hari sebelumnya. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, mengonfirmasi bahwa jasad korban ditemukan sekitar pukul 08.45 WIB di lokasi yang cukup terpencil, yakni di aliran sungai daerah Bukit Mitis. Lokasi penemuan ini berada di luar jalur pendakian umum, yang mengindikasikan kemungkinan korban sempat kehilangan arah atau mencoba mencari sumber air sebelum akhirnya terjebak di area tersebut. Saat ditemukan, kondisi jenazah dilaporkan masih dalam keadaan utuh secara fisik, meskipun telah terpapar elemen alam selama lebih dari dua puluh hari. Hal ini memberikan sedikit kemudahan bagi tim evakuasi dalam melakukan identifikasi awal di lokasi kejadian sebelum membawa korban turun ke titik evakuasi utama.
Detail Kondisi Korban dan Proses Evakuasi di Medan Sulit
Dalam keterangannya, Hendro Prayitno menjelaskan secara mendalam mengenai kondisi fisik Yasid saat pertama kali ditemukan oleh tim relawan. Meskipun telah melalui masa pencarian yang sangat panjang, kostum atau pakaian yang dikenakan korban saat mendaki pertama kali dilaporkan masih melekat di tubuhnya. Namun, terdapat beberapa perlengkapan yang hilang, yakni sepatu dan kaus kaki yang diduga kuat terlepas dan terbawa arus sungai kecil di lokasi tersebut mengingat posisi jasad berada di atas aliran air. Hilangnya alas kaki ini menjadi salah satu detail penting dalam analisis lapangan, yang menunjukkan adanya interaksi arus air terhadap jasad korban selama masa pencarian berlangsung. Tim relawan yang menemukan korban segera melakukan koordinasi cepat dengan posko utama untuk menyiapkan logistik evakuasi, mengingat medan di Bukit Mitis memiliki karakteristik kemiringan yang curam dan licin, terutama di musim penghujan yang sering melanda lereng Gunung Lawu dalam beberapa pekan terakhir.
Segera setelah penemuan dikonfirmasi, operasi evakuasi langsung dijalankan dengan melibatkan puluhan personel dari berbagai unsur relawan dan BPBD. Proses membawa jenazah dari kawasan Bukit Mitis menuju kaki gunung memerlukan waktu beberapa jam karena tantangan geografis yang tidak ringan. Pihak BPBD Karanganyar juga bertindak cepat dengan menjalin koordinasi intensif bersama pihak keluarga korban di Colomadu untuk memberikan informasi terkini sekaligus mempersiapkan prosedur medis selanjutnya. Hendro menegaskan bahwa rencana awal evakuasi adalah membawa jenazah langsung ke RSUD Karanganyar guna menjalani proses autopsi atau pemeriksaan luar (visum) oleh tim medis dan kepolisian. Langkah ini diambil untuk memastikan penyebab pasti kematian korban, apakah murni karena faktor kelelahan dan hipotermia, atau terdapat faktor lain yang menyebabkan korban tidak mampu bertahan hidup di tengah hutan lereng Lawu.
Menilik ke belakang, musibah ini bermula pada hari Minggu, 18 Januari 2026, ketika Yasid Ahmad Firdaus melakukan pendakian bersama rombongannya di Bukit Mongkrang, sebuah destinasi populer di lereng Gunung Lawu yang dikenal dengan pemandangan padang ilalangnya. Malapetaka terjadi saat rombongan tersebut sedang dalam perjalanan turun menuju basecamp. Yasid dilaporkan terpisah dari rekan-rekannya dan kehilangan kontak di tengah kabut yang seringkali turun mendadak di kawasan tersebut. Sejak laporan kehilangan diterima, upaya pencarian intensif langsung digelar. Operasi tahap pertama dilakukan selama tujuh hari penuh, mulai dari tanggal 19 hingga 25 Januari, dengan menyisir setiap sudut lereng Mongkrang hingga lembah-lembah di sekitarnya. Namun, hingga periode pertama berakhir, keberadaan Yasid tetap menjadi misteri, yang memicu kekhawatiran mendalam baik bagi keluarga maupun komunitas pendaki di Jawa Tengah.
Evaluasi Operasi SAR dan Kegigihan Relawan Mandiri
Ketidakpastian mengenai nasib Yasid membuat otoritas terkait memutuskan untuk memperpanjang masa pencarian sebanyak dua kali. Perpanjangan pertama dilakukan pada tanggal 26 hingga 28 Januari, di mana tim pencari memperluas radius penyisiran hingga ke area yang lebih sulit dijangkau. Karena masih nihil, perpanjangan terakhir kembali dilakukan pada tanggal 29 hingga 30 Januari 2026. Setelah melewati batas waktu maksimal sesuai prosedur operasional standar (SOP) pencarian orang hilang, operasi SAR secara resmi ditutup. Penutupan ini sempat menyisakan kesedihan bagi pihak keluarga, namun semangat para relawan lokal tidak padam. Mereka terus melakukan pemantauan dan penyisiran mandiri secara berkala, hingga akhirnya ketekunan tersebut membuahkan hasil pada hari ke-24 sejak korban dinyatakan hilang. Keberhasilan relawan menemukan jasad korban di Bukit Mitis pada 10 Februari membuktikan bahwa solidaritas antar-pendaki dan relawan di Karanganyar tetap kuat meski operasi resmi telah berakhir.
Kini, jenazah Yasid Ahmad Firdaus telah berada di RSUD Karanganyar untuk menjalani prosedur akhir sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Peristiwa tragis ini kembali menjadi pengingat keras bagi para pegiat alam bebas mengenai pentingnya kewaspadaan, persiapan fisik yang matang, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan saat mendaki, terutama di kawasan lereng Gunung Lawu yang memiliki karakter cuaca tidak menentu. Kehilangan Yasid menjadi catatan kelam di awal tahun 2026 bagi dunia pendakian, sekaligus memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya tetap bersama rombongan dan tidak memaksakan diri dalam kondisi cuaca buruk. Pihak berwenang mengimbau agar para pendaki selalu melapor secara detail di pos pendakian dan membawa perlengkapan navigasi yang memadai guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
















