Dalam sebuah narasi inspiratif yang menembus batas usia dan waktu, presenter dan aktris kawakan, Ersa Mayori, telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan akademiknya. Di usianya yang ke-46 tahun, setelah lebih dari dua dekade vakum dari bangku perkuliahan, Ersa berhasil meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi dari London School of Public Relations (LSPR) Jakarta. Pencapaian luar biasa ini, yang diumumkan melalui unggahan emosional di media sosial, tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Ersa dan keluarganya, tetapi juga menyulut semangat dan inspirasi bagi banyak orang, membuktikan bahwa dedikasi dan tekad kuat mampu menaklukkan keraguan serta menepis anggapan “terlambat” untuk mengejar pendidikan tinggi.
Perjalanan Ersa menuju gelar S2 bukanlah tanpa rintangan. Sebelum memutuskan untuk kembali ke dunia akademik, Ersa Mayori diketahui memiliki latar belakang pendidikan Sarjana (S1) Psikologi dari Universitas Atma Jaya. Sebuah fondasi ilmu yang kuat, namun terpisah oleh rentang waktu yang panjang dari ambisi S2-nya. Lebih dari dua puluh tahun berlalu sejak ia terakhir kali merasakan atmosfer perkuliahan. Keputusan untuk melanjutkan studi di usia yang tak lagi muda, di tengah kesibukan sebagai figur publik, istri, dan ibu, tentu memunculkan keraguan. Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia justru menjadi katalisator tak terduga. Terinspirasi oleh maraknya pembelajaran daring dan peluang yang ditawarkannya, Ersa melihat celah untuk mewujudkan impian yang sempat tertunda. Ia merasa bahwa momen tersebut adalah panggilan untuk kembali menimba ilmu, mengambil langkah berani untuk menjadi mahasiswi lagi setelah sekian lama.
Perjalanan Akademik di LSPR: Dedikasi dan Tantangan
Memilih London School of Public Relations (LSPR) Jakarta, sebuah institusi pendidikan tinggi yang dikenal unggul dalam bidang komunikasi, Ersa Mayori memulai babak baru dalam hidupnya. Program Magister Ilmu Komunikasi di LSPR menuntut komitmen dan ketekunan yang tinggi, bahkan bagi mahasiswa yang lebih muda dan belum memiliki jeda panjang dari pendidikan formal. Bagi Ersa, tantangannya berlipat ganda. Ia harus beradaptasi kembali dengan rutinitas belajar, tugas-tugas akademik yang padat, serta dinamika perkuliahan yang mungkin telah banyak berubah dalam dua dekade terakhir. Namun, semangatnya tak pernah padam. Ersa menunjukkan dedikasi luar biasa, menyeimbangkan peran profesional dan personalnya dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa pascasarjana. Ia membuktikan bahwa usia hanyalah angka ketika ada kemauan yang kuat untuk belajar dan berkembang.
Dalam unggahan kelulusannya, Ersa secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada berbagai pihak yang telah menjadi pilar dukungan selama perjalanannya. “Terima kasih untuk keluarga besar @lsprpostgraduate, dosen pembimbing Sir Erinofboer, keluarga tercinta, para sahabat, teman-teman seperjuangan LSPR, dan semua yang sering kasih semangat lewat DM. Wouldn’t be here without your support and prayers,” tulis Ersa, menunjukkan betapa krusialnya sistem pendukung dalam mencapai tujuan besar ini. Penyebutan spesifik nama dosen pembimbing, Sir Erinofboer, menyoroti peran penting mentor akademik dalam membimbing dan mengarahkan penelitian serta tesisnya. Dukungan dari keluarga terdekat, yang mungkin harus beradaptasi dengan waktu Ersa yang tersita untuk belajar, serta para sahabat dan teman seperjuangan di LSPR, yang berbagi suka dan duka dalam menghadapi tugas-tugas kuliah, menjadi energi tak terbatas baginya. Bahkan, dukungan moral dari para pengikutnya di media sosial melalui pesan langsung (DM) turut memberikan semangat ekstra, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil kolaborasi dan doa dari banyak pihak.
Gema Apresiasi dari Kolega dan Publik
Kabar bahagia kelulusan Ersa Mayori sontak disambut hangat oleh rekan-rekan selebriti dan publik figur lainnya. Kolom komentar di unggahan Instagram-nya dibanjiri ucapan selamat dan pujian yang tulus. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh dan inspirasi yang diberikan Ersa melalui pencapaian akademiknya. Ussy Sulistiawaty, salah satu sahabat dekatnya, dengan singkat dan penuh kebanggaan menulis, “Congratssss,” sebuah ungkapan kebahagiaan yang mewakili banyak orang.
Reaksi yang lebih mendalam datang dari Meisya Siregar. “Membanggakan! disaat gw udah ga ada semangat ma belajar ngedit liat loe kaya gini such a big waker hahhahaaa jgn males mes !! KEREEEEENNNN LOOO, selamat m yaaaah,” tulis Meisya. Komentar ini bukan sekadar ucapan selamat biasa, melainkan pengakuan jujur tentang bagaimana pencapaian Ersa mampu menjadi “big waker” atau pemicu semangat bagi orang lain, bahkan di antara rekan-rekan seprofesi yang mungkin sedang merasa jenuh atau kehilangan motivasi. Meisya secara eksplisit mengakui bahwa dedikasi Ersa menjadi inspirasi baginya untuk tidak malas dan terus berjuang, bahkan dalam hal-hal kecil seperti belajar mengedit. Ini menggarisbawahi dampak luas dari keberanian Ersa untuk kembali mengejar pendidikan.
Novita Angie, rekan selebriti lainnya, juga tak ketinggalan menyampaikan apresiasinya. “Bangga pol sama lpon. Selamat yaaah,” tulisnya, menggunakan sapaan akrab yang menunjukkan kedekatan. Ungkapan “bangga pol” (bangga sekali) mencerminkan kekaguman yang mendalam terhadap kegigihan dan kesuksesan Ersa. Respons positif dari para kolega ini tidak hanya memperkuat validitas pencapaian Ersa di mata publik, tetapi juga menyoroti posisinya sebagai figur yang dihormati dan diidolakan, tidak hanya karena kariernya di dunia hiburan, tetapi juga karena etos kerja dan semangat belajarnya yang luar biasa.
Inspirasi Tanpa Batas Usia: Ersa Mayori Sebagai Teladan
Kisah Ersa Mayori adalah sebuah manifestasi nyata dari filosofi “tidak ada kata terlambat untuk belajar”. Di tengah stigma bahwa pendidikan tinggi adalah ranah kaum muda, Ersa mendobrak batasan tersebut dengan gemilang. Ia telah membuktikan bahwa kematangan usia justru dapat menjadi modal berharga, membawa pengalaman hidup dan perspektif yang lebih kaya dalam proses pembelajaran. Keputusannya untuk melanjutkan S2 di usia 46 tahun, setelah vakum lebih dari 20 tahun, memberikan pesan kuat kepada masyarakat luas, khususnya bagi mereka yang mungkin merasa sudah terlalu tua atau terlalu sibuk untuk mengejar pendidikan lanjutan.
Pencapaian Ersa Mayori ini bukan hanya tentang gelar akademik semata, melainkan tentang ketekunan, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan komitmen terhadap pengembangan diri yang berkelanjutan. Ia telah menjadi teladan inspiratif yang menunjukkan bahwa hasrat untuk menimba ilmu tidak mengenal usia, kondisi, atau kesibukan. Dalam dunia yang terus berubah, di mana pembelajaran seumur hidup (lifelong learning) menjadi semakin krusial, Ersa Mayori berdiri sebagai bukti hidup bahwa dengan dukungan yang tepat, motivasi internal, dan keyakinan diri, setiap individu mampu meraih puncak pendidikan tertinggi, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Kisahnya akan terus menggema, memotivasi banyak orang untuk tidak pernah berhenti belajar dan mengejar impian akademik mereka.
















