CUBATÃO, BRASIL – Sebuah kisah luar biasa tentang ketahanan, visi, dan transformasi dramatis telah mengguncang dunia pendidikan, di mana sebuah institusi yang dulunya dijuluki ‘Taman Mimpi Buruk’ kini berdiri tegak sebagai ‘Sekolah Terbaik di Dunia’. Sekolah Negeri Parque dos Sonhos, yang terletak di wilayah pesisir Cubatão, Negara Bagian São Paulo, Brasil, telah menorehkan sejarah gemilang. Dari lingkungan yang rawan tindak kekerasan, pencurian, perampokan, dan bahkan menjadi sarang pengedar narkoba pada tahun 2016, sekolah ini berhasil mengubah nasibnya secara fundamental. Di bawah kepemimpinan visioner Kepala Sekolah Régis Marques, yang mengambil alih kemudi pada tahun 2016, Parque dos Sonhos berhasil bangkit dari keterpurukan, meraih penghargaan bergengsi ‘Sekolah Terbaik di Dunia’ dalam kategori Mengatasi Kesulitan pada tahun 2025 dari T4 Education yang berbasis di Inggris. Kisah ini bukan hanya tentang perbaikan fisik, melainkan tentang revolusi budaya dan pendidikan yang mendalam, mengubah pesimisme menjadi optimisme, dan keputusasaan menjadi harapan bagi ratusan siswa yang menuntut ilmu di sana.
Kisah ini bermula pada tahun 2016, ketika Régis Marques, seorang guru sejarah yang berdedikasi, menerima panggilan tak terduga dari dewan pendidikan setempat. Panggilan itu mengubah arah hidupnya dan menempatkannya di persimpangan jalan menuju tantangan terbesar dalam kariernya. Meskipun sempat diliputi keraguan yang mendalam, Marques akhirnya menerima penempatan sebagai Kepala Sekolah di Sekolah Negeri Parque dos Sonhos. Sebelum menerima jabatan tersebut, Marques melakukan riset awal secara daring, dan apa yang ia temukan sungguh mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan. “Saya mengamati sekolah itu secara online. Cerita pertama yang saya temukan menyebutkan lingkungan sekolah itu tidak aman dan rawan tindak kekerasan,” kenang Marques, menggambarkan betapa buruknya reputasi awal sekolah tersebut. Laporan-laporan berikutnya semakin memperparah kekhawatirannya, menguraikan insiden-insiden serius seperti “pencurian dan perampokan di sekolah” yang terjadi secara berulang, menunjukkan lemahnya sistem keamanan dan pengawasan. Puncaknya, ada “pengedar narkoba masuk ke sekolah dan membuat kacau selama sebuah festival,” sebuah insiden yang mencerminkan betapa parahnya infiltrasi kejahatan ke dalam lingkungan pendidikan.
Marques terkejut bukan kepalang dengan situasi yang ia temukan di sekolah yang terletak di Cubatão, sebuah kota pesisir di Negara Bagian São Paulo, Brasil. Dengan reputasi yang begitu buruk, Parque dos Sonhos bahkan telah kehilangan makna dari namanya yang berarti ‘Taman Impian’, dan justru dijuluki secara sinis sebagai Parque dos Pesadelos, atau ‘Taman Mimpi Buruk’. Julukan ini bukan sekadar nama, melainkan cerminan pahit dari realitas yang dihadapi oleh siswa, guru, dan staf di sana. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar dan berkembang, justru menjadi sarang kekerasan dan kejahatan. “Saya berpikir, ‘Ya Tuhan, apakah saya benar-benar akan pergi ke sekolah itu?'” Marques mengenang keraguan dan kecemasan yang melanda dirinya saat itu, sebuah pertanyaan yang menggambarkan beratnya tanggung jawab yang akan ia pikul.
Namun, hampir 10 tahun kemudian, narasi suram itu telah berbalik 180 derajat. Sebuah transformasi positif yang sangat dramatis telah terjadi di Parque dos Sonhos. Pada tahun 2025, sekolah yang dulunya dihindari dan dicap buruk ini menerima penghargaan bergengsi sebagai ‘Sekolah Terbaik di Dunia’ dalam kategori Mengatasi Kesulitan. Penghargaan ini diselenggarakan oleh T4 Education, sebuah organisasi global terkemuka yang berbasis di Inggris, yang berdedikasi untuk merayakan dan mempromosikan praktik terbaik dalam pendidikan. Kategori ‘Mengatasi Kesulitan’ secara khusus mengakui institusi yang berhasil melampaui tantangan ekstrem dan menunjukkan inovasi luar biasa dalam mencapai keunggulan pendidikan, sebuah pengakuan yang sangat pantas bagi perjalanan Parque dos Sonhos.
Sekolah Negeri Parque dos Sonhos didirikan pada tahun 2014 dengan tujuan mulia untuk melayani anak-anak dari komunitas yang baru terbentuk. Komunitas ini sendiri lahir pada tahun 2013, terdiri dari keluarga-keluarga yang terpaksa pindah dari area rawan longsor di Pegunungan Serra do Mar, sebuah pegunungan megah yang membentang di bagian tenggara Brasil. Relokasi ini, meskipun dimaksudkan untuk keselamatan, menempatkan mereka di lingkungan baru yang penuh tantangan. Daerah tempat komunitas ini bermukim sangat minim infrastruktur dasar. Bentangannya sebagian besar hanya berupa hutan lebat, sungai yang mengalir deras, dan sejumlah kecil rumah yang dibangun seadanya. Kondisi geografis dan sosial ini memiliki konsekuensi langsung terhadap keamanan sekolah. Akibatnya, orang-orang dari luar komunitas sekolah dapat dengan mudah memasuki area sekolah tanpa izin, memanfaatkan kurangnya pagar, penjaga, atau pengawasan yang memadai.

















