Dalam sebuah pencapaian monumental yang menyoroti kekuatan ketekunan dan pentingnya lingkungan pendidikan yang inklusif, Siham Hamda Zaula Mumtaza, seorang mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2019, telah berhasil mempertahankan skripsinya pada ujian yang diselenggarakan pada Kamis, 29 Januari 2026. Keberhasilan ini menjadi lebih bermakna mengingat Siham adalah penyandang autisme Asperger, sebuah kondisi yang seringkali diiringi tantangan unik dalam interaksi sosial dan pemrosesan sensorik. “Ya, agak lega meski ada revisi minor,” ungkap Siham dengan nada lega usai sidang kelulusannya, sebuah pernyataan yang mencerminkan kelegaan setelah melalui perjuangan panjang dalam menyelesaikan studi sarjananya. Mahasiswa jalur Bidikmisi yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah, ini telah mendedikasikan penelitiannya pada topik “Tingkah Laku Harian Domba Ekor Tipis di Pusat Penelitian Ternak Fakultas Peternakan UGM”, sebuah studi yang membutuhkan observasi mendalam dan analisis data yang cermat. Keluarga yang setia mendampinginya selama proses ujian menyatakan bahwa Siham tidak melakukan persiapan khusus menjelang sidang; namun, konsistensi dan fokusnya dalam proses penyusunan skripsi telah menjadi kunci utama keberhasilannya. “Kalau revisi dan pengerjaan draf, Siham selalu meluangkan waktu dan serius,” ujar Ika Fenti, kakak sepupunya, yang menyaksikan langsung dedikasi Siham. Prestasi ini bukan hanya tentang kelulusan akademik, tetapi juga tentang pembuktian bahwa potensi individu dapat berkembang pesat dengan dukungan yang tepat, melampaui stigma dan prasangka yang mungkin menyertai kondisi neurodivergen. Keberhasilan Siham ini menjadi bukti nyata bahwa akses pendidikan tinggi yang setara bukanlah sekadar retorika, melainkan sebuah realitas yang dapat dicapai melalui pemahaman, kesabaran, dan sistem pendukung yang memadai, membuka jalan bagi terwujudnya kampus yang benar-benar inklusif.
Ketekunan dan Kepekaan Detail: Kunci Keberhasilan Akademik Siham
Profesor Tri Satya Mastuti Widi, yang akrab disapa Vitri, dosen pembimbing sekaligus salah satu penguji skripsi Siham, memberikan pandangan mendalam mengenai kualitas akademik mahasiswanya. Beliau menggambarkan Siham sebagai sosok mahasiswa yang tekun dan memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap detail penelitian. “Hal-hal kecil yang sering terlewat justru bisa ditangkap dengan sangat baik oleh Siham,” kata Profesor Vitri, menyoroti kemampuan Siham dalam mengidentifikasi nuansa-nuansa penting dalam data penelitian yang mungkin luput dari perhatian orang lain. Kemampuan ini sangat krusial dalam bidang penelitian ilmiah, di mana ketelitian terhadap detail dapat menentukan validitas dan kedalaman sebuah temuan. Meskipun Profesor Vitri mengakui bahwa proses pembimbingan, terutama dalam aspek penulisan, membutuhkan waktu yang lebih panjang, ia menegaskan bahwa tidak ada kendala berarti yang dihadapi selama proses akademik secara keseluruhan. “Motivasinya kuat. Itu yang paling menentukan,” tambahnya, menekankan bahwa dorongan internal yang kuat dari Siham menjadi faktor penentu utama dalam mengatasi setiap tahapan studi. Pengakuan ini menggarisbawahi bahwa meskipun tantangan mungkin ada, motivasi intrinsik yang tinggi mampu menjadi motor penggerak yang efektif untuk mencapai tujuan akademik.
Memahami Spektrum Autisme Asperger dan Dukungan yang Diberikan
Siham didiagnosis berada dalam spektrum autisme tipe Asperger sejak usia sekolah dasar. Autisme Asperger merupakan salah satu bentuk spektrum autisme yang ditandai dengan perbedaan dalam cara individu berinteraksi secara sosial, sensitivitas yang meningkat terhadap rangsangan sensorik seperti suara keras, serta kecenderungan kuat terhadap rutinitas yang terstruktur dan minat yang spesifik dan mendalam. Penting untuk dicatat bahwa individu dengan Asperger umumnya memiliki kemampuan kognitif yang baik, bahkan seringkali menunjukkan keunggulan pada bidang-bidang yang membutuhkan ketelitian, fokus, dan analisis yang mendalam. Ika Fenti, kakak sepupu Siham, menjelaskan lebih lanjut mengenai karakteristik Siham dalam keseharian. “Siham dalam keseharian lebih nyaman beraktivitas secara mandiri dan membatasi interaksi sosial yang terlalu ramai,” ujarnya. Hal ini menunjukkan preferensi Siham terhadap lingkungan yang lebih tenang dan terkontrol, yang memungkinkannya untuk berfungsi optimal. Bentakan atau suara keras diidentifikasi sebagai salah satu pemicu ketidaknyamanan baginya, sebuah karakteristik umum pada individu dengan sensitivitas sensorik yang tinggi. Pemahaman mendalam mengenai profil neurodivergensi seperti Asperger sangat penting bagi institusi pendidikan untuk dapat menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung.
Sistem Pendukung yang Kuat: Keluarga dan Institusi
Keberhasilan Siham dalam menuntaskan studi sarjananya tidak lepas dari peran krusial sistem pendukung yang kuat, terutama dari keluarga. “Vitri menilai keberhasilan Siham tidak lepas dari kuatnya sistem pendukung, terutama keluarga,” ujar Profesor Vitri. Selama menempuh studi di Fakultas Peternakan UGM, Siham didukung penuh oleh kakak dari orang tuanya yang menemaninya. Selain dukungan keluarga, Siham juga aktif memanfaatkan fasilitas dan layanan yang disediakan oleh Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM. UGM sendiri secara konsisten menunjukkan komitmennya untuk terus membuka ruang bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Dalam pernyataannya, pihak universitas berjanji untuk terus memastikan akses pendidikan tinggi yang setara bagi semua mahasiswa. Fakultas Peternakan UGM, melalui Profesor Vitri, menambahkan bahwa upaya dukungan tidak hanya terbatas pada pendampingan akademik semata. Lebih dari itu, fakultas ini berupaya membangun ekosistem pendukung yang komprehensif. Hal ini mencakup penyediaan “buddy” atau mentor yang dapat memberikan dukungan personal, serta pelaksanaan sosialisasi secara berkala kepada para dosen dan seluruh sivitas akademika mengenai berbagai ragam disabilitas. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman, mengurangi stigma, dan menciptakan lingkungan kampus yang lebih ramah dan akomodatif bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus. Pendekatan holistik ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap mahasiswa, terlepas dari latar belakang atau kondisi neurodivergensi mereka, dapat meraih potensi penuh mereka.
UGM: Menuju Kampus Inklusif yang Nyata
Keberhasilan Siham dalam menuntaskan ujian skripsinya merupakan sebuah penanda penting yang menunjukkan bahwa konsep akses pendidikan tinggi yang setara bukan lagi sekadar sebuah jargon atau cita-cita belaka. Ini adalah bukti nyata bahwa dengan adanya pemahaman yang mendalam, kesabaran yang konsisten, dan sistem pendukung yang tepat, sebuah kampus inklusif dapat benar-benar diwujudkan. UGM, melalui berbagai inisiatif dan program yang telah dijalankan, menunjukkan langkah maju yang signifikan dalam menciptakan lingkungan akademik yang merangkul keberagaman. Fakultas Peternakan, sebagai salah satu fakultas yang menjadi garda terdepan dalam menerapkan prinsip inklusivitas, telah membuktikan bahwa kolaborasi antara dosen, keluarga, dan unit layanan disabilitas dapat menciptakan dampak positif yang luar biasa bagi perkembangan mahasiswa. Keberhasilan Siham Hamda Zaula Mumtaza menjadi inspirasi bagi banyak individu lain yang mungkin menghadapi tantangan serupa, sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh institusi pendidikan tinggi akan pentingnya terus berinovasi dan beradaptasi untuk memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-citanya. Perjalanan Siham adalah cerminan dari potensi tak terbatas yang dimiliki setiap individu ketika diberikan kesempatan dan dukungan yang layak.


















