Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Depok menghadapi tantangan signifikan dalam proses belajar mengajar pasca-renovasi. Meskipun bangunan sekolah telah selesai direvitalisasi, ketersediaan mebel untuk kegiatan akademis masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Kondisi ini memaksa sebagian siswa untuk beradaptasi dengan membawa perlengkapan belajar pribadi dari rumah, sebuah gambaran nyata dari kesenjangan fasilitas yang masih ada.
Kekurangan Mebel, Siswa Beradaptasi dengan Perlengkapan Pribadi
Pasca-renovasi yang telah rampung, SMPN 3 Depok justru dihadapkan pada realitas kekurangan mebel yang esensial untuk menunjang aktivitas belajar mengajar. Tidak semua ruang kelas telah terisi penuh dengan meja dan kursi yang memadai. Situasi ini menciptakan ketidaknyamanan dan menghambat kelancaran proses pendidikan. Menanggapi kondisi tersebut, sejumlah siswa menunjukkan inisiatif luar biasa dengan membawa meja lipat portabel serta alas duduk dari kediaman mereka. Langkah ini diambil demi memastikan partisipasi penuh dalam setiap sesi pembelajaran, meskipun harus dilakukan dengan cara yang tidak ideal.
Upaya Pemerintah Kota Depok Melalui Program CSR
Menyadari urgensi pemenuhan fasilitas mebel di SMPN 3 Depok, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok secara aktif mencari solusi. Kepala Sekolah SMPN 3 Depok, Bapak Supian, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah berupaya keras untuk mengatasi kekurangan mebel tersebut. Salah satu strategi utama yang ditempuh adalah melalui kolaborasi dengan pihak ketiga melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan mebel secara keseluruhan.
“Kemarin juga saya minta dukungan dari BJB untuk tambahan mebelernya. Mudah-mudahan ini bisa diproses semuanya,” ujar Bapak Supian, memberikan penekanan pada upaya konkret yang sedang dijalankan. Pernyataan ini mengindikasikan adanya komunikasi aktif dengan berbagai institusi untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Detail Kebutuhan Mebel dan Solusi yang Ditempuh
Bapak Supian secara gamblang mengakui bahwa ketersediaan meja dan kursi di SMPN 3 Depok saat ini memang belum sepenuhnya terpenuhi. Ia merinci bahwa masih terdapat beberapa ruang kelas yang belum terfasilitasi secara lengkap dengan mebel yang memadai. “Kemarin kami belum bisa melengkapi mebel secara keseluruhan, tetapi kurang lebih setengahnya sudah bisa kami lengkapi,” jelasnya, memberikan gambaran kuantitatif mengenai progress yang telah dicapai.
Lebih lanjut, beliau menyebutkan bahwa terdapat sekitar 17 ruang kelas yang masih membutuhkan fasilitas mebel secara memadai. Dari total 17 kelas yang kekurangan tersebut, sebuah langkah strategis telah dirancang. Sebanyak 10 kelas akan mendapatkan fasilitasi mebel melalui program CSR yang digagas bersama Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB). Sementara itu, sisa kebutuhan mebel untuk kelas-kelas lainnya akan diupayakan pemenuhannya melalui mekanisme perubahan anggaran daerah. “Sekitar 17 kelas kalau tidak salah yang belum terfasilitasi. Sepuluh kelas kami fasilitasi dengan CSR Bank BJB, selebihnya nanti kami kejar melalui perubahan anggaran,” tambahnya, menegaskan rencana tindak lanjut yang komprehensif.
Harapan besar disematkan pada penyelesaian kekurangan fasilitas belajar ini. Bapak Supian menyampaikan aspirasinya agar kekurangan fasilitas di SMPN 3 Depok dapat segera teratasi. Tujuannya adalah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan secara optimal dan memberikan lingkungan yang nyaman serta kondusif bagi seluruh siswa. “Itu akan segera dilengkapi,” tegasnya, memberikan jaminan bahwa penuntasan masalah ini menjadi prioritas utama.
(mcr19/jpnn)


















