Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan langkah diplomasi strategis yang sangat signifikan dengan mengunjungi London, Inggris, sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja luar negeri yang komprehensif. Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan formal kenegaraan, melainkan sebuah misi besar untuk memperkuat fondasi pembangunan nasional melalui kolaborasi internasional di berbagai sektor krusial. Kedatangan Presiden Prabowo di Bandar Udara London Stansted pada Ahad, 18 Januari 2026, waktu setempat, disambut dengan upacara penghormatan yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi dari kedua negara. Kehadiran Deputy Lieutenant of Essex Mark Bevan, Foreign Secretary’s Special Representative Adele Taylor MBE, Duta Besar RI untuk Inggris Desra Percaya, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey, serta Atase Pertahanan RI untuk Inggris Wiyata S. Aji, menegaskan betapa pentingnya posisi Indonesia di mata Britania Raya dalam peta geopolitik dan ekonomi global saat ini.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memberikan penjelasan mendalam mengenai agenda utama Presiden selama berada di ibu kota Inggris tersebut. Salah satu pilar utama yang menjadi fokus pembicaraan adalah transformasi sektor pendidikan tinggi di Indonesia. Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, diperlukan akselerasi kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di level internasional. Oleh karena itu, Presiden Prabowo secara khusus menjajaki kerja sama dengan Russell Group, sebuah asosiasi elit yang menaungi 24 universitas riset intensif paling bergengsi di Inggris. Kerja sama ini diproyeksikan tidak hanya terbatas pada pertukaran pelajar atau riset bersama, tetapi juga mencakup kemungkinan pembukaan kampus-kampus cabang dari universitas anggota Russell Group di wilayah kedaulatan Indonesia, guna memberikan akses pendidikan kelas dunia bagi generasi muda tanah air tanpa harus meninggalkan negara.
Akselerasi Kualitas SDM Melalui Kemitraan dengan Russell Group
Langkah Presiden Prabowo untuk menggandeng Russell Group merupakan sebuah terobosan besar dalam kebijakan pendidikan luar negeri Indonesia. Russell Group dikenal secara global sebagai simbol keunggulan akademik, yang mencakup institusi-institusi legendaris seperti University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, University of Edinburgh, hingga University College London (UCL). Ke-24 universitas ini memiliki reputasi yang tak tertandingi dalam menghasilkan inovasi dan penelitian yang mengubah dunia. Menurut Prasetyo Hadi, fokus utama dari kerja sama ini adalah untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang-bidang strategis yang menjadi tulang punggung kemajuan zaman, terutama di sektor teknologi mutakhir, ilmu pengetahuan murni, dan yang paling mendesak adalah bidang kedokteran. Dengan hadirnya institusi pendidikan tinggi Inggris di Indonesia, diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan teknologi secara masif yang dapat memperkuat sistem kesehatan dan industri teknologi nasional.
Rencana pembukaan kampus baru di Indonesia ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih terbuka dan kompetitif. Kehadiran universitas dari Russell Group di tanah air diharapkan dapat memicu peningkatan standar kualitas pendidikan tinggi domestik secara keseluruhan. Kerja sama ini juga mencakup pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global serta kolaborasi riset yang fokus pada solusi atas tantangan-tantangan lokal, seperti penyakit tropis di bidang kedokteran atau pengembangan energi terbarukan di bidang teknologi. Presiden Prabowo meyakini bahwa dengan membawa standar pendidikan Inggris ke Indonesia, proses pencetakan tenaga ahli, dokter spesialis, dan ilmuwan unggul dapat berjalan jauh lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan metode konvensional yang ada selama ini.
Modernisasi Sektor Maritim dan Kedaulatan Ekonomi Nelayan
Selain fokus pada pembangunan manusia melalui pendidikan, kunjungan kerja Presiden Prabowo ke London juga membawa misi ekonomi yang sangat spesifik di sektor kelautan. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memerlukan modernisasi infrastruktur maritim yang kuat untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lautnya. Dalam rangkaian agenda di London, dijadwalkan adanya penandatanganan kesepakatan penting yang disebut sebagai “Maritime Partnership” atau kemitraan maritim antara Indonesia dan Inggris. Fokus utama dari kemitraan ini adalah pengembangan teknologi perkapalan, khususnya dalam membangun kapal-kapal tangkap ikan modern yang akan diperuntukkan bagi nelayan-nelayan Indonesia. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa nelayan lokal memiliki sarana yang memadai untuk bersaing di perairan internasional dan mampu mengelola kekayaan laut nusantara secara berkelanjutan dan produktif.
Kerja sama maritim ini diharapkan dapat mencakup transfer teknologi dalam desain kapal yang hemat energi, penggunaan sistem navigasi canggih, hingga manajemen rantai pasok hasil laut yang lebih modern. Presiden Prabowo menekankan bahwa kedaulatan maritim tidak hanya soal penjagaan wilayah, tetapi juga soal kesejahteraan para pelaut dan nelayan yang menjadi ujung tombak ekonomi biru Indonesia. Dengan dukungan teknologi dari Inggris, yang dikenal memiliki sejarah panjang sebagai bangsa maritim yang tangguh, Indonesia berambisi untuk merevitalisasi armada perikanan nasionalnya agar lebih efisien dan memiliki daya jangkau yang lebih luas. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis protein laut bagi seluruh rakyat Indonesia.
Diplomasi Hijau dan Konservasi Satwa di Provinsi Aceh
Aspek yang cukup unik dan menarik dari kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris adalah agenda yang berkaitan dengan isu lingkungan hidup dan konservasi alam. Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Presiden memiliki kepedulian mendalam terhadap kelestarian satwa liar, khususnya gajah di Provinsi Aceh. Dalam sebuah langkah yang menunjukkan komitmen pribadi sekaligus kenegaraan, Presiden Prabowo telah menyerahkan konsesi hutan atas nama PT Tusam Hutani Lestari kepada Pemerintah Indonesia sekitar delapan bulan yang lalu. Lahan yang sebelumnya merupakan area konsesi industri tersebut kini dialihfungsikan menjadi koridor konservasi satwa yang didedikasikan untuk perlindungan habitat gajah. Agenda ini menjadi semakin istimewa karena melibatkan kerja sama langsung dengan Raja Charles III, yang dikenal secara internasional sebagai tokoh yang sangat vokal dan aktif dalam isu-isu lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati.
Kolaborasi antara Presiden Prabowo dan Raja Charles III dalam proyek konservasi ini mencerminkan adanya kesamaan visi antara Indonesia dan Kerajaan Inggris dalam menghadapi krisis iklim dan kepunahan spesies. Kerja sama ini diharapkan dapat membawa keahlian teknis dari Inggris dalam pengelolaan kawasan konservasi serta pendanaan hijau untuk mendukung keberlanjutan habitat gajah di Aceh. Penyerahan lahan oleh Prabowo sebagai individu sebelum menjabat sebagai presiden secara penuh, menunjukkan konsistensi visi beliau dalam menjaga kekayaan alam Indonesia. Hal ini juga memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional sebagai negara yang serius dalam melakukan aksi nyata di bidang lingkungan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan citra positif Indonesia dalam negosiasi-negosiasi global terkait isu lingkungan dan keberlanjutan.
Rangkaian kunjungan di London ini akan mencapai puncaknya pada pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Pertemuan tersebut diprediksi akan membahas berbagai isu geopolitik terkini, penguatan nilai perdagangan kedua negara, serta detail teknis dari berbagai kesepakatan yang telah diinisiasi. Selain bertemu dengan kepala pemerintahan, agenda pertemuan dengan Raja Charles III di Istana Buckingham juga menjadi simbol kedekatan hubungan diplomatik yang sangat erat antara Jakarta dan London. Kehangatan sambutan pemerintah Inggris mencerminkan pengakuan atas kepemimpinan Prabowo dan potensi besar Indonesia sebagai mitra strategis di Asia Tenggara. Setelah menyelesaikan seluruh agenda padatnya di Inggris, Presiden Prabowo dijadwalkan untuk melanjutkan perjalanan diplomatiknya menuju Swiss, guna menghadiri pertemuan internasional lainnya yang bertujuan untuk terus memperluas jejaring kerja sama ekonomi dan politik Indonesia di benua Eropa.


















