Upaya penguatan kedaulatan maritim dan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia memasuki babak baru yang krusial pada awal tahun 2026 melalui serangkaian pengadaan dan penerimaan hibah strategis. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara intensif mempercepat penguatan armada tempur di tengah dinamika geopolitik kawasan yang kian kompleks. Langkah besar ini dikonfirmasi dalam rapat kerja tertutup antara Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, dan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa, 10 Februari 2026, yang secara khusus membahas skema hibah peralatan pertahanan luar negeri. Fokus utama dari agenda ini adalah integrasi berbagai kapal perang canggih dan kapal patroli cepat yang diproyeksikan untuk memperkokoh postur pertahanan matra laut, memastikan setiap jengkal perairan Nusantara berada dalam pengawasan yang mumpuni dan responsif terhadap ancaman asimetris maupun konvensional.
Dalam pertemuan strategis di Gedung Parlemen tersebut, salah satu poin krusial yang disepakati adalah penerimaan hibah dari Pemerintah Jepang senilai 1,9 miliar Yen, atau setara dengan kurang lebih Rp 205 miliar. Dana hibah ini diwujudkan dalam bentuk unit kapal patroli yang dirancang khusus untuk mobilitas tinggi. Wakil Menteri Pertahanan, Donny Ermawan Taufanto, merinci bahwa pengadaan ini mencakup sekitar tiga hingga empat unit kapal patroli dengan spesifikasi teknis yang sangat mumpuni untuk pengejaran dan pengawasan wilayah pesisir. Kapal-kapal ini memiliki dimensi panjang 14 meter dan lebar 5 meter, namun keunggulan utamanya terletak pada mesin penggerak yang mampu memacu kecepatan hingga 40 knots. Kecepatan ini sangat vital bagi TNI Angkatan Laut dan Badan Keamanan Laut dalam memitigasi praktik ilegal seperti pencurian ikan, penyelundupan, hingga pelanggaran batas wilayah yang memerlukan respons cepat di lapangan.
Transformasi Kekuatan Hidro-Oseanografi melalui KRI Canopus-936
Langkah modernisasi tidak berhenti pada kapal patroli ringan. Pada Kamis, 12 Februari 2026, TNI Angkatan Laut secara resmi memperkuat jajarannya dengan kehadiran KRI Canopus-936. Kapal perang ini bukan sekadar kapal angkut biasa, melainkan Kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) jenis Ocean Going yang dibangun di galangan kapal ternama Jerman, Abeking & Rasmussen. Upacara serah terima yang dipimpin oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya Erwin S. Aldedharma ini menandai selesainya proses pembangunan selama tiga tahun yang penuh dengan ketelitian teknologi. KRI Canopus-936 diproyeksikan untuk memperkuat Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) dalam menjalankan fungsi asasi yang sangat strategis, yakni pemetaan bawah laut sedalam mungkin untuk kepentingan navigasi militer maupun sipil.
KRI Canopus-936 yang dikomandoi oleh Kolonel Laut (P) Indragiri Yani Wardhono ini membawa teknologi masa depan ke dalam armada Indonesia. Kapal ini dilengkapi dengan ekosistem unmanned system atau sistem tanpa awak yang sangat komprehensif, meliputi:
- Autonomous Underwater Vehicle (AUV): Kendaraan bawah air otomatis yang mampu memetakan dasar laut dengan resolusi tinggi tanpa intervensi manusia secara langsung.
- Remotely Operated Vehicle (ROV): Robot bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh untuk inspeksi visual dan pengambilan sampel di kedalaman ekstrem.
- Autonomous Surface Vehicle (ASV) ZBoat: Kapal tanpa awak permukaan yang digunakan untuk survei di area dangkal atau berbahaya bagi kapal besar.
- Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Drone Lidar: Pesawat tanpa awak yang dilengkapi sensor Lidar untuk pemetaan topografi pesisir secara akurat.
- Multibeam Echosounder: Sensor canggih untuk mengukur kedalaman laut secara luas dalam satu sapuan pancaran gelombang suara.
Selain fungsi ilmiah dan survei, KRI Canopus-936 tetap memiliki taji militer untuk perlindungan diri. Kapal yang diawaki oleh 93 prajurit pilihan ini dipersenjatai dengan meriam kaliber 20 milimeter dan mitraliur 12,7 milimeter, memastikan bahwa operasi riset di zona ekonomi eksklusif tetap terjaga dari gangguan pihak luar. Kehadiran kapal ini juga sangat krusial untuk mendukung operasi Search and Rescue (SAR) bawah air, terutama dalam pencarian objek hilang di kedalaman samudera.
Ekspansi Armada Tempur: KRI Prabu Siliwangi-321 dan KRI Brawijaya-320
Di belahan bumi lain, tepatnya di Base Navale della Spezia, Italia, Indonesia kembali menunjukkan taringnya dengan pelepasan KRI Prabu Siliwangi-321 pada Rabu, 11 Februari 2026. Kapal perang jenis korvet atau fregat ringan ini merupakan hasil kerja sama industri pertahanan dengan galangan Italia yang dikenal memiliki standar teknologi maritim tinggi. Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyatakan bahwa pelayaran panjang menuju tanah air ini diperkirakan memakan waktu sekitar dua bulan, dengan estimasi tiba di perairan Indonesia pada awal April 2026. Penugasan kapal ini telah ditetapkan secara spesifik untuk memperkuat Komando Armada II (Koarmada II) yang berbasis di Surabaya.
KRI Prabu Siliwangi-321 tidak akan beroperasi sendirian. Di Komando Armada II, kapal ini akan bersinergi dengan unit sejenis yang telah lebih dulu diproses, yakni KRI Brawijaya-320. Penamaan yang mengambil tokoh-tokoh besar sejarah Nusantara ini mencerminkan semangat kedaulatan yang diusung oleh TNI AL. Di bawah komando Kolonel Laut (P) Kurniawan Koes Atmadja, KRI Prabu Siliwangi-321 membawa misi untuk meningkatkan intensitas patroli tempur di wilayah tengah dan timur Indonesia, termasuk pengamanan jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi urat nadi perdagangan dunia. Dengan sistem persenjataan modern yang terintegrasi, kapal-kapal buatan Italia ini diharapkan menjadi deteren bagi kekuatan asing yang mencoba mengganggu stabilitas nasional.
Era Baru Kapal Induk: Kehadiran Giuseppe Garibaldi di Perairan Nusantara
Salah satu kejutan terbesar dalam program modernisasi alutsista periode ini adalah rencana penerimaan hibah kapal Giuseppe Garibaldi dari pemerintah Italia. Kapal ini akan mencatatkan sejarah sebagai kapal induk pertama yang dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut. Memiliki panjang mencapai 180,2 meter, kapal induk ini memberikan dimensi baru dalam proyeksi kekuatan (power projection) Indonesia di laut lepas. Dengan kecepatan maksimal mencapai 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam, Giuseppe Garibaldi mampu mengangkut skadron helikopter dan pesawat tempur lepas landas pendek (STOVL), yang secara signifikan akan memperluas jangkauan perlindungan udara di atas armada laut Indonesia.
Spesifikasi persenjataan yang melekat pada kapal induk Garibaldi ini sangat mengerikan, mencakup perlindungan berlapis terhadap ancaman udara, permukaan, dan bawah air:
- Pertahanan Udara: Peluncur oktupel Mk.29 yang mampu meluncurkan rudal antipesawat Sea Sparrow atau Selenia Aspide untuk mencegat rudal dan jet tempur musuh.
- Artileri Maritim: Meriam ganda Oto Melara Kembar 40L70 DARDO yang memiliki laju tembak sangat cepat untuk pertahanan jarak dekat (CIWS).
- Anti-Kapal Selam: Tabung torpedo rangkap tiga kaliber 324 milimeter untuk menetralisir ancaman kapal selam di sekitar gugus tempur.
- Serangan Permukaan: Rudal antikapal Otomat Mk 2 SSM yang mampu menjangkau target di balik cakrawala dengan akurasi tinggi.
Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, menjelaskan bahwa saat ini kapal tersebut tengah menjalani proses dismantling atau pelepasan peralatan tertentu oleh Angkatan Laut Italia sesuai kesepakatan hibah sebelum dilayarkan ke Indonesia. TNI AL sendiri tengah bergerak cepat menyiapkan satuan pengawak khusus yang memiliki kualifikasi tinggi untuk mengoperasikan kapal dengan kompleksitas sebesar Garibaldi. Kapal induk ini dipandang sangat strategis bukan hanya untuk Operasi Militer Perang (OMP), tetapi juga sebagai basis operasi dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti rumah sakit terapung dalam misi kemanusiaan berskala besar atau pusat komando saat terjadi bencana alam nasional.
Visi Besar Pertahanan 2026: Anggaran Naik dan Alutsista Modern
Akselerasi pengadaan alutsista di tahun 2026 ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan penguatan sistem pertahanan dan keamanan sebagai salah satu dari delapan prioritas belanja negara. Peningkatan anggaran pertahanan dialokasikan untuk memastikan transisi menuju kekuatan pertahanan yang disegani di kawasan Asia Tenggara. Selain kapal-kapal perang, Indonesia juga tengah menantikan kedatangan jet tempur Rafale dari Prancis dan integrasi rudal balistik KHAN yang sempat diperkenalkan pada perayaan HUT ke-80 TNI. Kombinasi antara kekuatan laut yang tangguh, superioritas udara, dan sistem rudal darat yang presisi menjadi fondasi utama dalam visi pertahanan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Langkah-langkah strategis ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk tidak lagi hanya menjadi penonton dalam dinamika maritim global. Dengan kehadiran KRI Canopus-936 yang sarat teknologi survei, KRI Prabu Siliwangi-321 yang siap tempur, hingga kapal induk Garibaldi yang legendaris, TNI Angkatan Laut kini bertransformasi menjadi kekuatan Blue Water Navy yang mampu beroperasi jauh di samudera lepas. Modernisasi ini bukan sekadar tentang membeli atau menerima barang baru, melainkan tentang membangun kedaulatan yang bermartabat, di mana setiap jengkal wilayah Indonesia terlindungi oleh teknologi terkini dan prajurit-prajurit yang profesional.

















