Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan tengah bersiap mencetak sejarah baru dalam diplomasi maritim dan penguatan kekuatan pertahanan nasional menyusul rencana akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Angkatan Laut Italia. Langkah strategis ini terungkap melalui dokumen resmi Parlemen XIX Kamar Deputi Italia Nomor 383 yang diterbitkan pada 19 Februari 2026, yang merinci rencana pemberian hibah kapal perang legendaris tersebut kepada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Keputusan ini melibatkan koordinasi tingkat tinggi antara Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri Italia, yang telah memberikan lampu hijau bagi penyerahan unit alutsista tersebut tanpa pungutan biaya atau cuma-cuma, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral serta meningkatkan interoperabilitas militer di kawasan Indo-Pasifik yang kian dinamis. Hibah ini bukan sekadar pemindahan aset fisik, melainkan simbol kepercayaan strategis antara Roma dan Jakarta dalam menjaga stabilitas keamanan global melalui dukungan terhadap institusi pertahanan Indonesia.
Proses hukum yang melandasi hibah ini berpijak pada kerangka regulasi yang sangat ketat di Italia, yakni Pasal 311 ayat 2 dari Kitab Undang-Undang Organisasi Militer serta Keputusan Legislatif tertanggal 15 Maret 2010 Nomor 66. Dalam dokumen teknis yang disusun secara komprehensif oleh Divisi IV Staf Umum Pertahanan Italia yang membidangi Logistik dan Infrastruktur, proyek ini dikategorikan sebagai penyerahan material persenjataan defensif yang secara teknis telah dianggap usang (obsolete) bagi standar operasional modern Italia, namun masih memiliki nilai strategis tinggi bagi negara mitra. Indonesia dipandang memenuhi syarat sebagai penerima karena statusnya sebagai negara berkembang menurut kriteria OECD-DAC, serta adanya Perjanjian Kerangka Kemitraan dan Kerja Sama (PCA) dengan Uni Eropa yang telah diratifikasi oleh Italia sejak tahun 2011. Ketertarikan Indonesia untuk mengoperasikan kapal perang bekas guna memperkuat armada lautnya sebenarnya telah dinyatakan secara resmi sejak tahun 2021, dan momentum pensiunnya Giuseppe Garibaldi pada akhir Desember 2024 menjadi peluang emas yang segera ditangkap oleh Kementerian Pertahanan RI.
Transformasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dari Penjaga Mediterania ke Perairan Nusantara
Kapal Induk Giuseppe Garibaldi telah mengabdi selama lebih dari empat dekade sebagai tulang punggung kekuatan udara Angkatan Laut Italia di Laut Mediterania sebelum akhirnya ditempatkan dalam status cadangan. Meskipun telah melewati masa operasional puncaknya, kapal ini tetap memiliki struktur yang kokoh dan fasilitas dasar yang mumpuni untuk mendukung misi-misi non-ofensif. Berdasarkan kesepakatan yang tertuang dalam dokumen parlemen, kapal akan diserahkan kepada TNI AL dalam kondisi tanpa sistem senjata operasional utama untuk memastikan statusnya sebagai aset defensif. Fokus utama dari penyerahan ini adalah mempertahankan sistem keselamatan pelayaran, sistem propulsi yang masih andal, serta fasilitas dasar untuk pelayaran pemindahan. Bagi Indonesia, kehadiran Garibaldi akan menjadi tonggak sejarah sebagai kapal induk pertama yang dimiliki oleh TNI AL, yang rencananya akan difungsikan secara optimal untuk operasi penanggulangan bencana alam, bantuan kemanusiaan (Humanitarian Assistance and Disaster Relief/HADR), serta sebagai platform pusat komando dan kendali dalam operasi maritim berskala besar di wilayah kedaulatan Indonesia yang luas.
Dari sisi ekonomi, skema hibah ini memberikan keuntungan timbal balik yang sangat signifikan bagi kedua negara. Bagi pemerintah Italia, menyerahkan Giuseppe Garibaldi kepada Indonesia merupakan langkah efisiensi anggaran yang cerdas. Dengan nilai estimasi kapal mencapai 54.022.426 euro, Italia berhasil menghindari biaya pemeliharaan rutin yang mencapai 5 juta euro atau setara Rp 98 miliar per tahun. Lebih jauh lagi, keputusan hibah ini menyelamatkan kas negara Italia dari beban biaya pembongkaran (decommissioning) dan pembuangan material yang diperkirakan menelan biaya sebesar 18,7 juta euro. Di sisi lain, meskipun Indonesia menerima kapal ini secara gratis, Jakarta tetap akan mengalokasikan anggaran untuk proses reaktivasi, pelatihan awak, serta penyesuaian infrastruktur dermaga guna menampung kapal dengan bobot dan dimensi besar tersebut. Proses transisi kepemilikan ini diharapkan dapat rampung sepenuhnya sebelum Desember 2026, yang akan menandai era baru kemampuan proyeksi kekuatan laut Indonesia di kancah regional.
Implikasi Strategis dan Ekspansi Kerja Sama Industri Pertahanan Global
Hibah kapal induk ini diyakini merupakan pintu pembuka bagi kerja sama industri pertahanan yang jauh lebih masif dan bernilai triliunan rupiah antara Italia dan Indonesia. Dokumen parlemen tersebut secara eksplisit menyebutkan adanya potensi kontrak-kontrak pengadaan alutsista baru yang tengah dijajaki sebagai kelanjutan dari hubungan baik ini. Salah satu poin krusial adalah peluang penjualan dua unit kapal patroli lepas pantai kelas PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) yang memiliki nilai kontrak fantastis sebesar 1,25 miliar euro atau sekitar Rp 24,75 triliun. Selain itu, Italia juga menawarkan pengadaan enam unit kapal selam canggih kelas DGK dengan nilai mencapai 480 juta euro (sekitar Rp 9,5 triliun). Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada matra laut, tetapi juga merambah ke matra udara dengan potensi penjualan pesawat jet latih tempur M-346 senilai 600 juta euro serta tiga unit pesawat patroli maritim khusus senilai 450 juta euro. Rangkaian rencana akuisisi ini menunjukkan ambisi Indonesia untuk melakukan modernisasi alutsista secara menyeluruh dengan menggandeng mitra strategis Eropa yang memiliki teknologi mutakhir.
Secara geopolitik, kehadiran Giuseppe Garibaldi di bawah bendera Indonesia akan meningkatkan daya tawar (bargaining power) Jakarta dalam menjaga keamanan jalur perdagangan internasional, khususnya di Selat Malaka dan Laut Natuna Utara. Dengan kemampuan kapal induk untuk membawa helikopter dalam jumlah besar dan unit medis bergerak, TNI AL akan memiliki kemampuan respon cepat yang tidak tertandingi dalam menghadapi krisis kemanusiaan di wilayah-wilayah terpencil. Penyerahan cuma-cuma ini juga mencerminkan pengakuan dunia internasional terhadap peran penting Indonesia sebagai pemimpin di kawasan ASEAN. Dengan dukungan teknis dari Staf Umum Pertahanan Italia, personel TNI AL akan mendapatkan transfer teknologi dan pengetahuan dalam mengoperasikan kapal bertipe flat-deck, yang selama ini belum pernah dimiliki oleh Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun doktrin maritim yang lebih kuat, mandiri, dan disegani, sekaligus memperkokoh pilar pertahanan negara dalam menghadapi tantangan keamanan global yang semakin kompleks di masa depan.
Sebagai penutup, integrasi Giuseppe Garibaldi ke dalam jajaran armada TNI AL merupakan manifestasi dari visi “Poros Maritim Dunia” yang dicanangkan pemerintah. Meskipun kapal ini hadir dengan status hibah dan memiliki keterbatasan usia, nilai strategisnya sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan taktik operasi laut gabungan sangatlah tinggi. Sinergi antara kebijakan luar negeri yang aktif dan penguatan kekuatan militer melalui kemitraan internasional seperti ini membuktikan bahwa Indonesia mampu memanfaatkan peluang di tengah pergeseran dinamika kekuatan global. Keberhasilan proses hibah ini tidak hanya akan diukur dari kedatangan fisik kapal di dermaga Surabaya, tetapi juga dari sejauh mana kerja sama ini mampu mendorong kemandirian industri pertahanan dalam negeri melalui kolaborasi teknologi dengan raksasa pertahanan Italia seperti Fincantieri dan Leonardo di masa yang akan datang.

















