Sebuah era baru dalam kapabilitas pertahanan maritim Indonesia segera terwujud dengan rencana hibah kapal induk legendaris, Giuseppe Garibaldi, dari Pemerintah Italia. Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat ini tengah melakukan kajian mendalam serta penghitungan komprehensif terkait kebutuhan operasional, perawatan, dan modernisasi substansial yang diperlukan bagi kapal ini, yang digadang-gadang akan menjadi kapal induk pertama yang dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut (TNI AL). Proses kajian ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa platform strategis ini dapat diintegrasikan secara optimal dan memenuhi standar operasional serta kebutuhan taktis TNI AL, dengan target kedatangan yang ambisius di perairan Indonesia sebelum peringatan Hari Ulang Tahun TNI pada 5 Oktober 2026. Hibah ini bukan sekadar penambahan aset, melainkan lompatan signifikan dalam proyeksi kekuatan maritim nasional, menandai babak baru dalam sejarah pertahanan laut Indonesia.
Kajian Mendalam dan Tantangan Modernisasi Kapal Induk Pertama
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sedang berada dalam fase krusial untuk mengkaji secara menyeluruh kebutuhan biaya operasional, perawatan, dan modernisasi kapal induk Giuseppe Garibaldi. Kapal ini, yang akan dihibahkan oleh Pemerintah Italia, merupakan sebuah aset strategis yang berpotensi mengubah lanskap kekuatan maritim Indonesia. Penghitungan ini tidak hanya mencakup estimasi anggaran, tetapi juga analisis mendalam terhadap implikasi teknis dan logistik jangka panjang.
Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, menjelaskan bahwa proses penghitungan ini dilakukan secara kolaboratif antara Kemhan dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kapal induk yang dibangun oleh galangan kapal terkemuka Italia, Fincantieri, ini memerlukan adaptasi signifikan agar selaras dengan doktrin dan kebutuhan operasional TNI Angkatan Laut. “Saat ini Kemhan bersama TNI masih melakukan penghitungan dan kajian menyeluruh terkait kebutuhan operasional, perawatan, serta modernisasi agar kapal dapat memenuhi standar dan kebutuhan strategis TNI AL,” ujar Rico pada Sabtu, 14 Februari 2026. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya menerima hibah, tetapi juga memastikan kesiapan penuh dalam pengoperasiannya.
Biaya operasional sebuah kapal induk adalah salah satu yang tertinggi dalam armada angkatan laut mana pun, mencakup bahan bakar, gaji dan tunjangan ribuan personel, logistik, dan pasokan harian. Perawatan kapal induk, terutama yang sudah beroperasi sejak tahun 1980-an seperti Giuseppe Garibaldi, akan menuntut investasi besar untuk pemeliharaan rutin, perbaikan struktural, dan penggantian komponen vital. Aspek modernisasi menjadi sangat penting untuk memastikan kapal ini relevan di medan pertempuran modern, yang mungkin melibatkan peningkatan sistem avionik, sensor, komunikasi, dan integrasi dengan sistem pertahanan maritim Indonesia yang ada.
Kemhan juga secara proaktif menyiapkan penyesuaian sistem persenjataan dan dukungan teknis. Rico menekankan bahwa Indonesia akan melengkapi dan menyesuaikan kapal tersebut sesuai dengan kebutuhan spesifik operasi TNI AL. Penyesuaian ini bersifat komprehensif, mencakup sistem pendukung vital, jaminan ketersediaan suku cadang, hingga konfigurasi teknis lainnya yang akan dilaksanakan melalui tahapan perencanaan yang berlaku. Proses “retrofit” ini, sebagaimana dijelaskan oleh Kemhan, akan dibiayai oleh anggaran yang telah disiapkan Pemerintah Indonesia, dialokasikan khusus untuk penyesuaian agar kapal sesuai dengan kebutuhan operasional TNI AL. Ini menunjukkan bahwa hibah tersebut memang murni tanpa biaya akuisisi, namun investasi besar tetap diperlukan untuk membuatnya siap tempur.
Mengenai potensi syarat atau perjanjian yang mengikat dalam hibah tersebut, Brigjen Rico Ricardo Sirait dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada ketentuan khusus di luar mekanisme hibah antar-pemerintah yang umum. “Tidak ada ketentuan khusus yang mengikat penggunaan kapal tersebut di luar mekanisme hibah antar pemerintah yang dilaksanakan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku,” jelasnya. Hal ini menjamin bahwa Indonesia akan memiliki kendali penuh atas penggunaan kapal induk tersebut tanpa intervensi eksternal, sebuah aspek krusial bagi kedaulatan nasional dan fleksibilitas operasional.
Implikasi Strategis dan Kesiapan Operasional
Kedatangan Giuseppe Garibaldi merupakan langkah strategis yang signifikan bagi TNI AL. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, menargetkan kapal induk buatan Italia ini dapat tiba di perairan Indonesia sebelum peringatan Hari Ulang Tahun TNI pada 5 Oktober 2026. “Untuk Garibaldi, masih dalam proses ya. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI,” kata Ali saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026, sebagaimana dikutip dari Antara. Target waktu ini mengindikasikan percepatan dalam proses administrasi dan teknis, serta menunjukkan urgensi pemerintah dalam memperkuat armada laut.

















