Dalam sebuah pertemuan diplomatik tingkat tinggi yang menandai penguatan signifikan hubungan bilateral, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Kamis (12/2) menerima kunjungan delegasi penting dari Republik Islam Pakistan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Pertemuan strategis ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah penegasan kembali komitmen kedua negara untuk mempererat ikatan historis dan memperluas cakupan kerja sama di berbagai sektor vital, mulai dari pertahanan hingga diplomasi global. Kehadiran sejumlah pejabat tinggi Pakistan, termasuk Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Pakistan, Air Chief Marshal Zaheer Ahmed Babar Sidh, menggarisbawahi bobot dan urgensi diskusi yang berpusat pada penguatan kemitraan strategis yang telah terjalin erat.
Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, dalam keterangan persnya usai pertemuan, secara mendalam menyoroti fondasi historis yang kokoh sebagai landasan utama hubungan kedua negara. Ia menegaskan bahwa ikatan persaudaraan antara Pakistan dan Indonesia telah terjalin bahkan jauh sebelum kemerdekaan masing-masing. Pernyataan ini merujuk pada solidaritas yang telah terbentuk sejak masa perjuangan kemerdekaan, di mana kedua bangsa saling mendukung dalam menghadapi tantangan kolonialisme dan membangun identitas nasional. Hubungan ini tidak hanya sebatas dukungan politik, tetapi juga mencakup pertukaran budaya dan ideologi yang telah membentuk persepsi dan apresiasi timbal balik yang mendalam. Keterikatan emosional dan historis ini menjadi modal sosial yang tak ternilai dalam menavigasi kompleksitas diplomasi modern dan memperkuat kerja sama di masa kini.
Memperkuat Kemitraan Strategis dan Pertahanan
Dubes Zahid Hafeez Chaudhri juga menyoroti bagaimana kerja sama antara Indonesia dan Pakistan telah mengalami penguatan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, mencakup spektrum yang luas dari sektor-sektor strategis. Penguatan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan merupakan hasil dari serangkaian inisiatif diplomatik dan kunjungan tingkat tinggi. Salah satu momentum krusial yang ia sebutkan adalah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan pada bulan sebelumnya. Kunjungan tersebut, yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan produktivitas, telah menjadi “titik balik signifikan” dalam hubungan bilateral yang memang sudah sangat baik. Kunjungan ini membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut dalam bidang perdagangan, investasi, pendidikan, kebudayaan, dan, yang paling menonjol, kerja sama pertahanan. Pembicaraan yang terjalin selama kunjungan tersebut telah menetapkan peta jalan yang jelas untuk memperdalam kemitraan, mengidentifikasi area-area baru untuk kolaborasi, dan mempercepat implementasi proyek-proyek bersama yang saling menguntungkan.
Dalam konteks kerja sama pertahanan, Pakistan telah lama menjadi mitra penting bagi Indonesia. Dubes Zahid secara eksplisit menyebutkan bahwa Pakistan telah aktif melatih perwira-perwira Angkatan Bersenjata Indonesia, sebuah program yang telah berjalan dan akan terus ditingkatkan di masa mendatang. Program pelatihan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari pendidikan militer umum, taktik dan strategi, hingga pelatihan khusus dalam teknologi pertahanan dan operasi gabungan. Pertukaran pengetahuan dan keahlian ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme perwira TNI, tetapi juga untuk membangun interoperabilitas antara angkatan bersenjata kedua negara. Peningkatan kolaborasi sektor pertahanan bilateral ini diharapkan dapat mencakup latihan militer bersama, pertukaran intelijen, pengembangan teknologi pertahanan bersama, serta pengadaan peralatan militer. Kemitraan semacam ini sangat vital dalam menghadapi tantangan keamanan regional dan global yang semakin kompleks, serta dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan.
Peran Krusial dalam Kolaborasi Dunia Islam dan KTT D8
Lebih jauh, Dubes Zahid Hafeez Chaudhri menggarisbawahi peran strategis Indonesia dan Pakistan dalam konteks geopolitik global, khususnya dalam kerja sama dunia Islam. Kedua negara, yang secara kolektif merepresentasikan lebih dari seperempat populasi Muslim dunia, memikul tanggung jawab besar dalam mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di antara negara-negara Muslim dan di seluruh dunia. Kolaborasi mereka sangat penting untuk menyuarakan kepentingan dan aspirasi umat Islam di forum-forum internasional, menanggulangi isu-isu sensitif, serta mempromosikan citra Islam yang moderat dan toleran. Sinergi antara Jakarta dan Islamabad dapat menjadi kekuatan pendorong dalam mengatasi tantangan bersama seperti ekstremisme, kemiskinan, dan kesenjangan sosial, serta dalam memajukan agenda pembangunan berkelanjutan di negara-negara Muslim. Potensi kolaborasi ini melampaui batas-batas tradisional, mencakup diplomasi budaya, dialog antaragama, dan inisiatif kemanusiaan.
Selain isu pertahanan dan kolaborasi dunia Islam, Pakistan juga menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung Indonesia dalam penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Developing Eight (KTT D8) yang akan datang. KTT D8 adalah sebuah platform kerja sama ekonomi yang terdiri dari delapan negara berkembang mayoritas Muslim, yaitu Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Organisasi ini bertujuan untuk memperkuat posisi ekonomi negara-negara anggotanya dalam ekonomi global, mendiversifikasi dan menciptakan peluang baru dalam hubungan perdagangan, serta meningkatkan partisipasi dalam pengambilan keputusan internasional. Dukungan Pakistan terhadap KTT D8 yang diselenggarakan di Indonesia menunjukkan komitmen kuat kedua negara untuk memperkuat organisasi ini sebagai motor penggerak kerja sama Selatan-Selatan. Keberhasilan KTT ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan-kesepakatan konkret yang akan mempercepat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan volume perdagangan antar-anggota, dan mengatasi isu-isu pembangunan yang mendesak, sehingga memperkuat peran D8 sebagai entitas yang relevan dan berpengaruh di panggung global.
Secara keseluruhan, pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan delegasi Pakistan di Istana Merdeka menegaskan kembali vitalitas dan dinamisme hubungan bilateral kedua negara. Dari ikatan historis yang mendalam hingga kerja sama strategis di berbagai sektor, termasuk pertahanan dan diplomasi global, Indonesia dan Pakistan terus membangun kemitraan yang kuat dan saling menguntungkan. Komitmen untuk meningkatkan kolaborasi, baik dalam skala bilateral maupun dalam forum multilateral seperti D8, tidak hanya akan memperkuat posisi kedua negara di kancah internasional, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas dan kemajuan regional serta global. Masa depan hubungan Indonesia-Pakistan tampak cerah, dengan potensi besar untuk terus berkembang dan memberikan dampak positif yang signifikan bagi kedua bangsa dan komunitas internasional.

















