Sebuah era baru dalam hubungan diplomatik dan keamanan antara Indonesia dan Australia resmi terjalin. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, secara historis menandatangani Traktat Keamanan Bersama, yang dijuluki Treaty of Jakarta 2026, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 6 Februari 2026. Kesepakatan monumental ini tidak hanya memperkuat ikatan pertahanan yang telah terjalin puluhan tahun, tetapi juga membuka cakrawala baru dalam kerja sama strategis di berbagai sektor krusial, termasuk ekonomi, pendidikan, dan ketahanan pangan, dengan tujuan utama menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Traktat Keamanan Bersama: Pilar Baru Kemitraan Strategis
Penandatanganan Treaty of Jakarta 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto dan PM Anthony Albanese menandai sebuah tonggak sejarah penting dalam hubungan bilateral Indonesia-Australia. Traktat ini merupakan evolusi dan penguatan signifikan dari kerja sama keamanan dan pertahanan yang telah terjalin selama beberapa dekade, berakar pada kesepakatan fundamental antara pemerintahan Paul Keating dan Presiden Soeharto tiga dekade lalu. Lebih dari sekadar perjanjian pertahanan, Treaty of Jakarta menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, sekaligus memperkokoh Treaty of Lombok yang telah ada. Perjanjian ini dirancang untuk tidak hanya menjaga keamanan nasional masing-masing negara, tetapi juga berkontribusi secara aktif terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik yang dinamis.
Dalam pidato pasca-pertemuan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perjanjian ini mencerminkan komitmen teguh Indonesia terhadap prinsip bertetangga baik dan kebijakan luar negeri yang bebas aktif. Ini menunjukkan kesiapan Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga tatanan regional yang aman dan stabil. Sementara itu, PM Anthony Albanese menilai traktat ini sebagai penguatan yang signifikan, membuka peluang baru dalam kolaborasi pertahanan dan keamanan yang telah terjalin erat. Penandatanganan ini secara efektif memperluas cakupan dan kedalaman kerja sama, menciptakan kerangka kerja yang lebih komprehensif untuk menghadapi tantangan keamanan global dan regional di masa depan.
Ekonomi dan Pangan: Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan
Di luar ranah keamanan dan pertahanan, pertemuan antara kedua pemimpin negara ini juga menghasilkan kesepakatan strategis di sektor ekonomi, khususnya terkait ketahanan pangan dan investasi pada sumber daya mineral kritis. Presiden Prabowo Subianto secara proaktif mengundang Australia untuk menjajaki peluang usaha patungan atau joint venture (JV) di sektor pertanian. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari upaya Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, sebuah aspek vital dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi negara. Dengan memanfaatkan keahlian dan sumber daya dari kedua negara, diharapkan dapat tercipta sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo membuka pintu lebar bagi investasi Australia di sektor hilirisasi mineral kritis Indonesia, yang mencakup komoditas strategis seperti nikel, tembaga, bauksit, dan emas. Sektor ini memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan nilai tambah bagi Indonesia. Sebaliknya, Presiden Prabowo juga mendorong perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menjajaki peluang investasi di sektor pertambangan mineral kritis Australia, menciptakan simbiosis mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak. Pernyataan dari Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang siap bekerja sama dengan mitra di Australia untuk menjajaki peluang co-investment dan berbagai bentuk kemitraan lainnya, menggarisbawahi keseriusan kedua negara dalam mewujudkan sinergi ekonomi ini.
Kesepakatan ini juga mencakup penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Australia dan Danantara. PM Albanese menjelaskan bahwa kerja sama ini akan menjadi katalisator dalam peningkatan kolaborasi dan pertukaran informasi antara lembaga-lembaga pemerintah Australia dan Danantara, yang pada gilirannya akan memfasilitasi identifikasi peluang peningkatan investasi dua arah. Hal ini menunjukkan adanya komitmen konkret untuk memfasilitasi aliran investasi dan mempererat hubungan ekonomi antara kedua negara.
Pendidikan dan Sumber Daya Manusia: Investasi Jangka Panjang
Bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia juga menjadi fokus penting dalam pertemuan tingkat tinggi ini. Presiden Prabowo Subianto mengundang Australia untuk berpartisipasi aktif dalam peningkatan kapasitas guru dan tenaga pengajar di Indonesia melalui program pelatihan. Selain itu, dibahas pula kemungkinan penempatan tenaga pendidik Indonesia di universitas dan sekolah baru yang sedang dibangun oleh pemerintah Indonesia, sebuah inisiatif yang menunjukkan visi jangka panjang dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas.
Presiden Prabowo juga mengapresiasi dukungan Australia melalui program beasiswa bergengsi, Australia Awards Garuda Scholarship, yang telah memberikan kesempatan bagi banyak pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di Australia. Lebih jauh lagi, diusulkan adanya perluasan perjanjian pengakuan timbal balik untuk sertifikasi profesi. Tujuannya adalah agar para profesional Indonesia yang memiliki kualifikasi dan sertifikasi yang diakui dapat berkontribusi secara lebih luas dan efektif bagi perekonomian Australia. Hal ini mencerminkan pengakuan atas kualitas sumber daya manusia Indonesia yang kompeten dan siap memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di pasar global, termasuk di Australia.
Penguatan Kapasitas Pertahanan: Pertukaran dan Latihan Bersama
Di sektor pertahanan, Treaty of Jakarta 2026 membuka babak baru dengan inisiatif-inisiatif konkret yang disepakati oleh kedua pemimpin. PM Anthony Albanese menawarkan penempatan perwira senior Indonesia di Angkatan Pertahanan Australia. Langkah ini merupakan refleksi dari penguatan kepercayaan dan kemitraan strategis antara kedua negara, memungkinkan pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang mendalam di tingkat operasional dan strategis militer.
Selain itu, disepakati pula pengembangan fasilitas pelatihan pertahanan bersama dan penyelenggaraan latihan gabungan yang lebih intensif. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas, profesionalisme, dan kesiapan tempur angkatan bersenjata kedua negara dalam menghadapi berbagai skenario keamanan. Perluasan pertukaran pendidikan militer juga menjadi bagian integral dari kesepakatan ini, yang akan memfasilitasi pemahaman lintas budaya dan doktrin militer, serta membangun jaringan profesional yang kuat di antara perwira muda dari kedua negara. Keseluruhan inisiatif ini menegaskan komitmen Australia dan Indonesia untuk membangun kapasitas pertahanan yang lebih kuat dan terintegrasi, demi menjaga stabilitas regional.

















