Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) baru-baru ini mengakhiri serangkaian kegiatan strategis yang mencakup penyelesaian Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas), penyaluran bantuan kemanusiaan bernilai miliaran rupiah untuk korban bencana alam, serta pembukaan pasar murah yang berlokasi di halaman kantor HKTI Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Inisiatif multi-aspek ini tidak hanya menunjukkan komitmen HKTI dalam merespons krisis kemanusiaan tetapi juga menegaskan perannya sebagai mitra pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan pangan dan kesejahteraan masyarakat, terutama menjelang bulan suci Ramadan. Kegiatan ini secara komprehensif menjawab kebutuhan mendesak masyarakat, mulai dari bantuan darurat hingga upaya rehabilitasi jangka panjang, sekaligus memperkuat fondasi organisasi dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
HKTI Salurkan Bantuan Kemanusiaan Bernilai Miliaran Rupiah untuk Korban Bencana
Dalam upaya meringankan beban saudara-saudara yang terdampak musibah, HKTI melalui program unggulannya, “HKTI Peduli,” telah menyalurkan bantuan kemanusiaan dengan total nilai melebihi Rp 1 miliar. Bantuan ini secara spesifik ditujukan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Dana dan barang bantuan yang terkumpul merupakan hasil swadaya dari para pengurus HKTI serta dukungan kuat dari berbagai mitra strategis yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Proses penyaluran bantuan ini dilakukan secara terorganisir dari kantor pusat HKTI di Ragunan, Jakarta Selatan, menggunakan sepuluh unit truk yang terbagi rata. Masing-masing kabupaten penerima manfaat mendapatkan alokasi bantuan senilai kurang lebih Rp 500 juta, memastikan distribusi yang merata dan memadai untuk kebutuhan mendesak.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, Bapak Sudaryono, secara resmi menyampaikan harapan agar bantuan yang disalurkan ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meringankan beban penderitaan para korban bencana. Beliau menekankan bahwa bentuk kepedulian ini adalah manifestasi nyata dari komitmen HKTI sebagai bagian integral dari masyarakat yang peduli dan responsif terhadap situasi darurat. Lebih lanjut, Sudaryono menjelaskan bahwa bantuan tahap awal yang diberikan mencakup kebutuhan pokok dan darurat seperti pangan dan selimut. Namun, peran HKTI tidak berhenti pada bantuan kedaruratan semata. Organisasi ini juga berkomitmen untuk terlibat aktif dalam program rehabilitasi pasca-bencana. Salah satu fokus utama dalam program rehabilitasi adalah inisiatif penanaman kembali tanaman keras seperti kopi, durian, dan kelengkeng. Penanaman ini akan dilakukan secara terintegrasi di sela-sela tanaman hortikultura yang sudah ada milik para petani. Strategi ini dirancang secara cermat untuk mencegah terulangnya kembali bencana banjir dan longsor yang kerap kali disebabkan oleh kondisi geografis tanah miring tanpa tutupan vegetasi yang memadai, sekaligus memberikan sumber pendapatan jangka panjang bagi petani.
Bapak Sudaryono juga tidak lupa menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak, baik internal maupun eksternal, yang telah berkontribusi secara aktif dalam penggalangan dana dan logistik bantuan. Beliau menegaskan bahwa solidaritas dan kepedulian yang ditunjukkan adalah wujud nyata kontribusi HKTI dalam membangun komunitas yang lebih kuat dan saling mendukung. Kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat dan mitra strategis menjadi kunci utama dalam upaya bersama mengurangi penderitaan sesama.
Rapimnas HKTI: Konsolidasi Organisasi dan Penguatan Peran Strategis
Selain agenda kemanusiaan, penyelesaian Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) menjadi agenda krusial lainnya yang diselenggarakan oleh HKTI. Kegiatan ini menandai konsolidasi internal organisasi dan penguatan arah strategis HKTI ke depan. Rapimnas ini menjadi forum penting bagi para pengurus untuk mengevaluasi kinerja, merumuskan kebijakan baru, serta menyelaraskan program kerja organisasi dengan kebutuhan pembangunan pertanian nasional. Keberhasilan HKTI dalam menyelenggarakan Rapimnas ini juga mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan dalam tubuh organisasi. Diketahui bahwa HKTI kini telah kembali kepada statusnya yang tunggal, tidak lagi mengalami dualisme kepengurusan, dan menegaskan kembali peran historisnya sebagai mitra strategis pemerintah sejak didirikan pada era 70-an di bawah kepemimpinan Bapak Arto. Penguatan struktur organisasi ini menjadi fondasi penting bagi HKTI untuk menjalankan mandatnya secara lebih efektif.
Dalam konteks penguatan peran, penting untuk dicatat bahwa banyak pengurus HKTI yang memiliki rekam jejak dan posisi penting dalam struktur pemerintahan. Salah satu figur terkemuka yang merupakan bagian dari HKTI adalah Presiden terpilih Bapak Prabowo Subianto, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina. Kehadiran tokoh-tokoh strategis ini memperkuat kapasitas HKTI dalam menjembatani aspirasi petani dengan kebijakan pemerintah. Bapak Sudaryono menjelaskan lebih lanjut mengenai posisi HKTI dalam ekosistem pertanian nasional. Beliau menegaskan bahwa HKTI berperan sebagai lembaga pelengkap, bukan pengganti, dari berbagai institusi pertanian yang sudah ada. Peran ini mencakup penyuluh pertanian, dinas pertanian di berbagai tingkatan, serta berbagai asosiasi lain yang bergerak di sektor pertanian. HKTI memposisikan diri sebagai perpanjangan tangan pemerintah di lapangan, berfungsi sebagai “mata, telinga, jembatan, dan corong” bagi pemerintah pusat. Tujuannya adalah untuk menyalurkan informasi, mengidentifikasi permasalahan di tingkat akar rumput, dan memberikan dukungan penuh untuk mewujudkan program-program unggulan pemerintah, terutama dalam mencapai swasembada pangan yang menjadi visi utama Presiden.
Pasar Murah Jelang Ramadan: Menjaga Ketersediaan Pangan Terjangkau
Sebagai bagian integral dari upaya menjadi mitra pemerintah dalam penyediaan pangan yang terjangkau bagi masyarakat, HKTI juga menggelar kegiatan pasar murah. Inisiatif ini memiliki makna strategis yang mendalam, terutama karena dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriyah. Pelaksanaan pasar murah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan yang memadai dan harga yang stabil, sesuai dengan anjuran dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan menyediakan akses terhadap bahan pangan pokok dengan harga yang lebih terjangkau, HKTI turut berkontribusi dalam meringankan beban pengeluaran rumah tangga masyarakat, khususnya menjelang dan selama bulan puasa yang seringkali diiringi dengan peningkatan permintaan.
Kegiatan pasar murah ini tidak hanya bersifat transaksional, tetapi juga mencerminkan komitmen HKTI untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan solusi nyata terhadap tantangan ekonomi yang dihadapi. Dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak dan memanfaatkan jaringan yang dimiliki, HKTI berupaya memastikan bahwa bahan-bahan pangan yang dijual benar-benar berkualitas dan harganya kompetitif. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa HKTI tidak hanya fokus pada isu-isu pertanian di tingkat hulu, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap daya beli dan kesejahteraan konsumen di tingkat hilir. Dengan demikian, HKTI menunjukkan perannya yang komprehensif dalam rantai pasok pangan nasional, dari produksi hingga konsumsi.

















