Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi mengakhiri rangkaian kunjungan kerja luar negerinya yang intensif dengan mendarat kembali di tanah air pada Sabtu sore, 24 Januari 2026. Pesawat kepresidenan menyentuh landasan pacu Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, setelah menempuh perjalanan panjang dari benua Eropa. Kepulangan ini menandai selesainya misi diplomasi maraton selama sepekan terakhir yang mencakup tiga negara strategis, yakni Inggris, Swiss, dan Prancis. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni diplomatik biasa, melainkan sebuah langkah taktis dalam memosisikan Indonesia di tengah konstelasi geopolitik dan ekonomi global yang kian dinamis di awal tahun 2026.
Setibanya di bandara, suasana penyambutan berlangsung dengan protokol kenegaraan yang sangat ketat namun penuh dengan aura keberhasilan. Sejumlah pejabat tinggi negara tampak berbaris di apron bandara untuk menyambut kepulangan sang kepala negara. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, jajaran tokoh penting yang hadir meliputi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra. Tak ketinggalan, Kepala Sekretaris Pribadi Presiden, Rizky Irmansyah, turut mendampingi dalam prosesi penyambutan tersebut, mencerminkan soliditas kabinet dalam mendukung agenda luar negeri presiden.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, melalui pernyataan resminya di media sosial, menegaskan bahwa lawatan lima hari ini membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi awal. Dalam takarir unggahan di akun Instagram @sekretariat.kabinet, Teddy menggarisbawahi bahwa Presiden tidak hanya membawa pulang komitmen politik, tetapi juga “oleh-oleh” konkret yang akan berdampak langsung pada akselerasi ekonomi nasional. Keberhasilan ini diklasifikasikan ke dalam enam capaian utama yang mencakup sektor investasi, industri maritim, pendidikan, hingga peran aktif Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia di kawasan konflik yang paling krusial saat ini.
Diplomasi Ekonomi dan Investasi Masif dari Britania Raya
Capaian pertama yang menjadi sorotan utama adalah komitmen investasi fantastis dari Inggris. Dalam pertemuan tingkat tinggi di London, Presiden Prabowo berhasil mengamankan kesepakatan investasi senilai £ 4 miliar atau setara dengan kurang lebih Rp 90 triliun. Angka ini merupakan salah satu komitmen investasi terbesar dari Inggris untuk Indonesia dalam satu dekade terakhir. Investasi ini diproyeksikan akan mengalir ke berbagai sektor fundamental, mulai dari transisi energi hijau hingga pengembangan infrastruktur digital yang menjadi tulang punggung ekonomi masa depan Indonesia. Langkah ini mempertegas posisi Inggris sebagai mitra pembangunan ekonomi yang vital bagi visi Indonesia Emas.
Selain investasi modal, sektor industri maritim mendapatkan suntikan tenaga yang luar biasa melalui kesepakatan pembangunan 1.582 kapal ikan. Hal yang paling signifikan dari poin kedua ini adalah komitmen bahwa seluruh kapal tersebut akan diproduksi sepenuhnya di dalam negeri. Proyek raksasa ini diperkirakan akan menciptakan multiplier effect yang sangat luas, terutama dalam penyerapan tenaga kerja yang diprediksi mencapai 600.000 orang. Dengan memproduksi kapal secara mandiri, Indonesia tidak hanya memperkuat kedaulatan maritimnya, tetapi juga membangkitkan industri galangan kapal nasional yang mampu bersaing di level internasional, sekaligus menyediakan lapangan kerja masif bagi masyarakat pesisir dan teknisi lokal.
Sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia juga menjadi pilar ketiga dalam keberhasilan kunjungan ke Inggris. Pemerintah Indonesia berhasil menjalin kerja sama strategis dengan 24 universitas terbaik di Inggris Raya. Fokus utama dari kolaborasi akademik ini adalah pada bidang kedokteran serta Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Kerja sama ini mencakup pertukaran riset, beasiswa tingkat lanjut, hingga pembukaan program-program spesialis yang selama ini masih terbatas di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai strategi jangka panjang untuk memastikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kompetensi global dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan tantangan kesehatan di masa depan.
Prabowonomics dan Peran Strategis Indonesia dalam Perdamaian Global
Memasuki destinasi kedua di Swiss, Presiden Prabowo Subianto mencatatkan prestasi diplomatik yang sangat prestisius di kancah internasional. Indonesia secara resmi bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace, sebuah inisiatif global yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bergabungnya Indonesia dalam dewan ini merupakan pengakuan dunia atas posisi Indonesia sebagai negara non-blok yang aktif dalam menjaga stabilitas kawasan. Teddy Indra Wijaya menyebutkan bahwa ini adalah langkah konkret Indonesia untuk terlibat langsung dalam upaya pemulihan konflik di Gaza, Palestina. Kehadiran Indonesia dalam dewan ini diharapkan mampu memberikan perspektif kemanusiaan yang lebih dalam dan mempercepat proses perdamaian yang saat ini tengah menunjukkan progres signifikan.
Di Swiss pula, tepatnya pada perhelatan World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Presiden Prabowo memperkenalkan konsep ekonomi yang kini dikenal dengan istilah ‘Prabowonomics’. Di hadapan audiens yang terdiri dari 65 kepala negara dan lebih dari 1.000 pimpinan perusahaan multinasional terbesar di dunia, Prabowo memaparkan visi ekonomi yang menitikberatkan pada kemandirian nasional, ketahanan pangan, dan hilirisasi industri yang inklusif. Konsep ini mendapatkan perhatian luas dari para CEO global karena menawarkan stabilitas dan kepastian hukum bagi investor, sembari tetap menjaga kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat kecil. Paparan ini memosisikan Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai pemimpin pemikiran ekonomi di negara-negara berkembang.
Kunjungan terakhir di Prancis menutup rangkaian lawatan dengan penguatan kerja sama strategis yang mendalam. Presiden Prabowo memenuhi undangan jamuan santap malam eksklusif dari Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée pada Jumat malam, 23 Januari 2026. Pertemuan ini bukan sekadar jamuan sosial, melainkan forum diskusi tingkat tinggi mengenai kerja sama di berbagai sektor strategis, termasuk pertahanan, teknologi kedirgantaraan, dan energi terbarukan. Hubungan antara Jakarta dan Paris kian erat, dengan komitmen kedua negara untuk meningkatkan volume perdagangan dan kolaborasi teknologi yang akan memperkuat posisi tawar Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Kronologi Perjalanan Diplomasi Maraton Januari 2026
Rangkaian perjalanan luar negeri ini dimulai ketika Presiden Prabowo bertolak dari Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma pada Ahad, 18 Januari 2026. London menjadi perhentian pertama, di mana agenda kepresidenan sangat padat, mulai dari audiensi dengan Raja Charles III di Istana Buckingham hingga pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Di Inggris, Presiden juga meluangkan waktu untuk berdialog dengan para pimpinan universitas top, memastikan bahwa komitmen pendidikan yang dicanangkan memiliki landasan operasional yang kuat untuk segera diimplementasikan di tanah air.
Setelah menyelesaikan agenda di Inggris, Presiden melanjutkan penerbangan menuju Swiss untuk menghadiri World Economic Forum. Pada Kamis, 22 Januari 2026, Presiden memberikan pidato khusus atau special address yang menjadi salah satu sesi paling dinantikan dalam forum tersebut. Di sela-sela kesibukan WEF, Presiden juga menghadiri peluncuran resmi Dewan Perdamaian, yang menandai keterlibatan aktif Indonesia dalam arsitektur perdamaian dunia yang baru. Setiap langkah diplomasi di Swiss dirancang untuk memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang stabil secara politik dan menjanjikan secara ekonomi.
Perjalanan diakhiri di Prancis, di mana pertemuan dengan Presiden Emmanuel Macron menjadi puncak dari diplomasi personal yang dibangun oleh Presiden Prabowo. Keberhasilan membawa pulang komitmen-komitmen besar ini diharapkan dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Dengan total investasi triliunan rupiah, penciptaan ratusan ribu lapangan kerja, dan penguatan sektor pendidikan serta posisi politik di kancah internasional, kunjungan kerja ini dinilai sebagai salah satu pencapaian paling produktif dalam awal tahun pemerintahan. Kini, publik menanti implementasi nyata dari setiap poin kesepakatan yang telah ditandatangani demi kemajuan Indonesia ke depan.


















