Perayaan hari jadi Partai Gerindra yang ke-18 pada Jumat, 6 Februari 2026, menjadi momentum krusial bagi Presiden Prabowo Subianto untuk menegaskan kembali komitmen moral dan integritas politik di hadapan jajaran elit partai. Bertempat di kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta Selatan, Prabowo menyampaikan instruksi mendalam yang menekankan pentingnya menjaga amanah rakyat, menjauhi praktik korupsi, serta memperkuat kedekatan konstitusional dengan masyarakat luas. Di tengah suasana syukuran yang berlangsung khidmat dan sederhana, pesan sang Ketua Umum ini menjadi rambu-rambu tegas bagi seluruh kader, baik yang menduduki jabatan di legislatif, eksekutif, maupun di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), guna memastikan bahwa kekuasaan yang digenggam tetap selaras dengan kepentingan publik tanpa adanya toleransi terhadap penyalahgunaan wewenang.
Acara yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 22.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran petinggi partai yang kini memegang peranan strategis dalam roda pemerintahan maupun parlemen. Terlihat hadir di lokasi antara lain Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Sekretaris Jenderal Ahmad Muzani, serta sejumlah tokoh kunci seperti Sugiono, Budisatrio Djiwandono, dan Prasetyo Hadi. Kehadiran para kader yang juga menjabat sebagai menteri dalam kabinet serta anggota Fraksi Gerindra DPR RI memberikan bobot tersendiri pada peringatan kali ini. Meskipun dirayakan tanpa kemegahan yang berlebihan, suasana di Kertanegara mencerminkan keseriusan visi politik Prabowo dalam menata masa depan partai yang kini telah menginjak usia dewasa, yakni 18 tahun, sebuah angka yang melambangkan kematangan dalam berpolitik dan tanggung jawab besar dalam mengelola negara.
Sufmi Dasco Ahmad, dalam keterangannya kepada awak media usai pertemuan tersebut, memaparkan secara rinci arahan yang diberikan oleh Prabowo Subianto. Menurut Dasco, sang Presiden mengingatkan bahwa keberhasilan partai tidak boleh membuat kader terlena atau menjauh dari akar rumput yang telah membesarkan nama Gerindra. Prabowo secara eksplisit memerintahkan seluruh kader untuk terus bekerja keras dan membangun komunikasi yang efektif dengan semua pihak tanpa memandang sekat politik. Kedekatan dengan rakyat bukan sekadar jargon kampanye, melainkan sebuah kewajiban berkelanjutan yang harus diimplementasikan dalam kebijakan-kebijakan nyata yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Pesan ini menekankan bahwa eksistensi Partai Gerindra harus dirasakan manfaatnya secara langsung oleh rakyat Indonesia sebagai pemilik kedaulatan tertinggi.
Menjaga Marwah Partai Melalui Integritas Keuangan Negara
Fokus utama dari arahan Prabowo kali ini tertuju pada isu sensitif mengenai pengelolaan keuangan negara dan pencegahan tindak pidana korupsi. Sebagai pemimpin tertinggi negara sekaligus pimpinan partai, Prabowo memberikan peringatan keras, terutama bagi mereka yang mendapatkan penugasan di sektor-sektor strategis seperti BUMN dan posisi pengambil kebijakan di pemerintahan. Kader diminta untuk selalu mawas diri dan berhati-hati dalam setiap pengambilan keputusan yang melibatkan anggaran negara. Frasa “menjaga uang rakyat” menjadi poin sentral yang ditekankan berulang kali, mengisyaratkan bahwa setiap rupiah yang dikelola harus dipertanggungjawabkan secara moral dan hukum. Prabowo menyadari bahwa integritas kader di posisi eksekutif dan legislatif adalah cerminan langsung dari wajah partai di mata publik, sehingga segala bentuk penyimpangan akan berdampak sistemik terhadap kepercayaan masyarakat.
Lebih lanjut, Dasco mengungkapkan bahwa Prabowo menaruh perhatian khusus pada perilaku kader yang menjabat di berbagai tingkatan. Instruksi untuk “mawas diri” bukan sekadar imbauan etis, melainkan perintah operasional agar kader tidak terjerumus dalam perbuatan tercela yang dapat merusak citra institusi. Dalam konteks ini, Prabowo mengingatkan bahwa kekuasaan adalah alat untuk mengabdi, bukan sarana untuk memperkaya diri atau kelompok. Para kader yang berada di BUMN, misalnya, diharapkan mampu menunjukkan profesionalisme tinggi dan transparansi dalam mengelola aset negara, mengingat sektor ini sering kali menjadi sorotan publik terkait tata kelola dan potensi kebocoran anggaran.
Tanpa Kompromi: Sanksi Tegas dan Penghapusan Hak Istimewa
Salah satu poin paling tajam dalam pidato arahan Prabowo adalah pernyataan mengenai konsekuensi hukum bagi kader yang melanggar aturan. Prabowo Subianto menyatakan dengan tegas bahwa Partai Gerindra tidak akan memberikan perlindungan hukum atau perlakuan khusus bagi kader yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Kebijakan “zero tolerance” atau nol toleransi ini dimaksudkan untuk memutus rantai impunitas yang seringkali terjadi dalam lingkaran politik. Dasco menyebutkan bahwa Prabowo tidak akan segan-segan membiarkan proses hukum berjalan apa adanya tanpa intervensi partai jika ada kader yang melakukan perbuatan tercela. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa Partai Gerindra tetap menjadi institusi yang bersih dan berwibawa di mata hukum.
Pernyataan ini juga berfungsi sebagai mekanisme penyaringan internal bagi partai. Dengan menegaskan bahwa tidak akan ada pembelaan bagi koruptor, Prabowo mengirimkan sinyal kuat kepada seluruh anggota bahwa loyalitas kepada partai harus dibarengi dengan ketaatan mutlak pada hukum negara. Hal ini juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap agenda pemberantasan korupsi yang menjadi salah satu pilar utama kepemimpinan Prabowo di tingkat nasional. Partai Gerindra ingin memposisikan diri sebagai pelopor dalam penegakan disiplin kader, di mana kepentingan negara harus selalu diletakkan di atas kepentingan personal maupun kelompok di dalam internal partai.
Sebagai partai yang kini berada di puncak kekuasaan, Gerindra menghadapi tantangan besar untuk menjaga soliditas internal sekaligus memenuhi ekspektasi publik yang sangat tinggi. Peringatan di HUT ke-18 ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah restrukturisasi moral bagi seluruh mesin partai dari tingkat pusat hingga daerah. Dengan menginstruksikan kader untuk tetap rendah hati dan terus membangun partai dengan cara-cara yang elegan, Prabowo ingin memastikan bahwa Gerindra tetap relevan dan dicintai rakyat dalam jangka panjang. Komunikasi politik yang baik dengan berbagai elemen bangsa juga ditekankan agar stabilitas nasional tetap terjaga, memungkinkan pemerintah untuk fokus pada program-program pembangunan yang telah direncanakan secara matang.
Penekanan pada aspek mawas diri dan kehati-hatian dalam bertindak mencerminkan filosofi kepemimpinan Prabowo yang mengutamakan disiplin dan loyalitas terhadap negara. Dengan usia 18 tahun, Gerindra diharapkan mampu menunjukkan teladan dalam tata kelola partai politik yang modern namun tetap memiliki jiwa kerakyatan yang kuat. Arahan tegas mengenai perlindungan uang rakyat ini sekaligus menjadi pesan kepada publik bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo, akuntabilitas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Melalui langkah-langkah preventif dan sanksi yang jelas, Partai Gerindra berupaya mewujudkan visi besar Indonesia yang lebih bersih, transparan, dan sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat.

















