Mantan Presiden Joko Widodo secara tegas membantah spekulasi yang beredar luas mengenai kemungkinan dirinya bergabung dalam kabinet pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Isu ini, yang telah menyita perhatian publik dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, kini mendapat klarifikasi langsung dari sosok yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode. Jokowi menyatakan preferensinya untuk kembali menetap di kota kelahirannya, Solo, Jawa Tengah, seiring dengan berakhirnya masa jabatannya sebagai kepala negara. Pernyataan ini disampaikan di tengah keramaian Stadion Manahan, Solo, seusai menyaksikan pertandingan sepak bola antara Persis Solo melawan Madura United pada Jumat, 13 Februari 2026. Dengan nada lugas, ia menegaskan posisinya sebagai warga negara biasa yang tidak lagi memegang jabatan pemerintahan, dan menegaskan niatnya untuk menikmati masa pensiun di Solo.
Dalam wawancara singkat dengan awak media di Stadion Manahan, Solo, mantan Presiden Joko Widodo secara eksplisit menyatakan, “Tidak. Saya di Solo saja.” Pernyataan ini merupakan bantahan langsung terhadap rumor yang mengaitkannya dengan posisi strategis dalam struktur pemerintahan mendatang. Lebih lanjut, beliau menambahkan, “Sekarang saya bukan pejabat pemerintahan lagi ya, ini sudah tinggal di Solo, sudah.” Penegasan ini menggarisbawahi transisi statusnya dari seorang pemimpin negara menjadi warga negara biasa yang berhak menikmati masa purna tugas. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai apakah ada permintaan resmi dari Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk masuk dalam Wantimpres, Jokowi memilih untuk tidak memberikan jawaban langsung. Ia hanya kembali mengulang penegasannya, “Sudah saya sampaikan, saya di Solo saja. Sudah itu.” Sikap ini menunjukkan konsistensinya dalam menjaga batasan dan menghindari spekulasi lebih lanjut mengenai keterlibatannya dalam urusan pemerintahan pasca-jabatan.
Riwayat Spekulasi dan Penegasan Diri
Isu mengenai potensi Jokowi menduduki kursi Dewan Pertimbangan Presiden di era pemerintahan Prabowo Subianto bukanlah hal baru. Spekulasi serupa pernah mengemuka menjelang akhir masa jabatannya sebagai Presiden RI pada tahun 2024. Pada periode tersebut, Jokowi telah berulang kali mengutarakan rencananya untuk kembali ke kampung halaman, Solo, Jawa Tengah, setelah menyelesaikan tugas kenegaraannya pada 20 Oktober 2024. Dalam sebuah kesempatan pada Kamis, 12 September 2024, saat memberikan keterangan pers di depan Istana Negara, Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur, Jokowi dengan nada santai namun tegas menyatakan, “Saya mau pulang ke Solo he-he-he. Tanggal 20 nanti pulang ke Solo, he-he-he.” Pernyataan ini, yang disampaikan di hadapan awak media, semakin memperkuat narasi bahwa prioritas utamanya pasca-pensiun adalah kembali ke kehidupan yang lebih tenang di kota kelahirannya.
Penegasan kembali mengenai kepulangannya ke Solo ini bukanlah hal yang baru diucapkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Sejak lama, Jokowi telah konsisten menyampaikan niatnya untuk kembali menetap di Solo setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Pernyataan serupa juga pernah disampaikan pada Selasa, 16 Juli 2024, di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Saat itu, ia ditanya mengenai peluangnya untuk menjadi penasihat bagi Presiden terpilih Prabowo Subianto, terutama dengan adanya wacana untuk menghidupkan kembali lembaga Dewan Pertimbangan Agung. Namun, bahkan pada kesempatan tersebut, Jokowi tetap mengarahkan jawabannya pada rencana kepulangannya ke Solo.
Menariknya, di tengah berbagai pernyataan yang konsisten tersebut, terdapat pula momen di mana Jokowi memberikan sinyal yang sedikit berbeda. Pada Selasa, 24 September 2024, saat dimintai keterangan usai peresmian injeksi Bauksit Perdana SGAR PT Borneo Alumina Indonesia di Mempawah, Kalimantan Barat, Jokowi sempat menyatakan bahwa keputusan mengenai keterlibatannya dalam Wantimpres sepenuhnya diserahkan kepada pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Dikutip dari audio yang diterima Tempo, Jokowi kala itu mengatakan, “Urusan itu urusan pemerintahan baru. Saya nggak mau komentar.” Pernyataan ini, meskipun tidak secara langsung mengkonfirmasi atau menolak, menunjukkan adanya fleksibilitas dalam pandangannya pada waktu itu, sebelum akhirnya kembali menegaskan preferensinya untuk tinggal di Solo pada kesempatan-kesempatan berikutnya.
Prioritas Purna Tugas dan Preferensi Pribadi
Keputusan mantan Presiden Joko Widodo untuk menolak tawaran bergabung dalam Dewan Pertimbangan Presiden dan memilih untuk tinggal di Solo mencerminkan sebuah preferensi pribadi yang kuat serta prioritas dalam menjalani fase purna tugasnya. Pernyataan-pernyataan beliau yang berulang kali menekankan keinginan untuk kembali ke Solo pasca-jabatan presiden bukanlah sekadar retorika, melainkan sebuah komitmen yang telah dibangun sejak lama. Hal ini sejalan dengan aspirasi banyak tokoh publik yang, setelah mengabdikan diri dalam pelayanan publik yang intens, mendambakan kehidupan yang lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk politik kenegaraan.
Keputusan ini juga dapat diinterpretasikan sebagai sebuah langkah strategis untuk memberikan ruang penuh kepada pemerintahan baru agar dapat bekerja tanpa bayang-bayang atau intervensi dari mantan presiden. Dengan menyatakan diri tidak akan bergabung dalam struktur pemerintahan, Jokowi secara implisit memberikan mandat penuh kepada Presiden Prabowo Subianto dan timnya untuk menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan visi dan misi mereka. Hal ini penting untuk memastikan stabilitas politik dan efektivitas kebijakan yang akan diambil oleh kabinet mendatang. Preferensi untuk kembali ke Solo juga dapat dilihat sebagai upaya untuk menjaga citra dan warisan politiknya, dengan tidak terlibat dalam potensi kontroversi atau kritik yang mungkin timbul dari posisinya di Wantimpres.

















