Di tengah konstelasi politik yang dinamis menjelang pemilihan umum, pernyataan mantan Presiden Joko Widodo yang secara tegas menyatakan kesiapannya untuk “bekerja mati-matian” demi kemenangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) telah memicu gelombang analisis dan spekulasi. Pernyataan yang dilontarkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar pada Sabtu, 31 Januari 2026, tersebut bukan hanya sekadar retorika politik biasa, melainkan sebuah sinyal kuat yang mengindikasikan pergeseran loyalitas dan strategi politik. Pertanyaannya, bagaimana reaksi partai-partai politik yang sudah mapan, seperti Partai Golkar, terhadap manuver politik yang melibatkan figur sekaliber mantan presiden ini? Apakah keterlibatan Jokowi akan serta-merta menggerus basis pemilih partai lain, atau justru menjadi katalisator bagi dinamika baru dalam lanskap politik nasional? Artikel ini akan mengupas tuntas pernyataan Jokowi, respons Partai Golkar, serta implikasi yang lebih luas bagi perpolitikan Indonesia.
Golkar Tak Gentar Hadapi Dukungan Jokowi untuk PSI
Partai Golkar, salah satu pilar utama dalam kancah perpolitikan Indonesia, secara resmi menyatakan sikapnya yang tidak merasa khawatir terhadap potensi persaingan yang timbul akibat dukungan penuh mantan Presiden Joko Widodo kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, dalam sebuah pernyataan kepada media, menginterpretasikan pidato Jokowi di Rakernas PSI sebagai sebuah bentuk motivasi yang ditujukan kepada internal partai berlambang gajah tersebut. Sarmuji berargumen bahwa pernyataan Jokowi yang bernada “mati-matian” lebih merupakan upaya untuk membangkitkan semangat dan keyakinan PSI, yang notabene masih berjuang untuk menembus ambang batas parlemen.
Lebih lanjut, Sarmuji menjelaskan bahwa Partai Golkar memiliki ceruk pasar pemilih yang cenderung berbeda dengan PSI. Perbedaan segmentasi pemilih ini, menurutnya, menjadi salah satu alasan utama mengapa Golkar tidak melihat adanya ancaman langsung terhadap basis konstituennya. “Kami tidak khawatir dengan optimisme PSI. Ceruk pasar kami cenderung berbeda,” tegas Sarmuji, menggarisbawahi keyakinan Golkar akan stabilitas dukungan pemilihnya.
Namun demikian, Partai Golkar tidak serta-merta mengabaikan dinamika politik yang ada. Sarmuji mengakui bahwa partainya tetap mempertahankan kewaspadaan dan menghindari sikap terlalu percaya diri. Ia mengemukakan sebuah pandangan bahwa tingkat optimisme yang tinggi dalam menghadapi pemilihan umum dapat diinterpretasikan dalam dua cara: pertama, kandidat atau partai tersebut memiliki kesiapan objektif dan pemahaman mendalam mengenai strategi pemenangan; atau kedua, sebaliknya, mereka justru tidak memiliki pemahaman yang memadai. Interpretasi ini menyiratkan bahwa Golkar tetap memonitor perkembangan PSI dengan cermat, sembari menganalisis potensi dan strategi yang dijalankan oleh partai tersebut.
Implikasi Pernyataan Jokowi dan Respons Partai Politik
Pernyataan Jokowi yang menyatakan bahwa “negara ini memerlukan partai politik yang bertujuan untuk kebaikan” juga menjadi sorotan. Beberapa pihak menganggap pernyataan tersebut berpotensi menyinggung partai-partai politik yang sudah lama bercokol di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Namun, dari sudut pandang Partai Golkar, pernyataan ini kembali diinterpretasikan sebagai bagian dari upaya motivasi Jokowi kepada PSI agar dapat memberikan kontribusi positif bagi perpolitikan nasional. Sarmuji menegaskan bahwa Golkar tidak mempersoalkan pernyataan tersebut, mengingat PSI membutuhkan dorongan motivasi yang besar untuk dapat meraih kursi di parlemen.
Pernyataan Jokowi yang secara eksplisit menyatakan kesanggupannya untuk “datang ke seluruh provinsi, kabupaten dan kota, bahkan tingkat kecamatan untuk membantu PSI melebarkan jaringan partai” jika diperlukan, serta kesiapannya untuk “bekerja mati-matian” seiring dengan kerja keras jajaran pengurus PSI, menandai sebuah komitmen yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa Jokowi tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga kesediaan untuk terlibat aktif dalam upaya pemenangan PSI. Kesiapan ini, menurut analisis dari beberapa pakar politik, bisa jadi mencerminkan kekhawatiran Jokowi akan masa depan politik keluarganya, di mana PSI berpotensi menjadi kendaraan politik yang strategis.
Lebih jauh, beberapa analisis mengaitkan manuver politik Jokowi ini dengan kemungkinan Golkar gagal direbut untuk dijadikan sebagai “kendaraan politik keluarga”. Dengan pernyataan tersebut, Jokowi seolah telah menutup pintu kompromi dengan partai-partai besar yang mungkin memiliki agenda berbeda, dan memilih untuk fokus membangun basis politiknya sendiri melalui PSI. Partai ini, dengan demikian, menjadi panggung utama bagi konsolidasi loyalitas politik keluarga Jokowi, sebuah strategi yang patut dicermati dampaknya dalam jangka panjang terhadap peta kekuatan politik di Indonesia.
Menariknya, pernyataan Jokowi ini juga direspons oleh Partai Golkar dengan pernyataan yang menunjukkan bahwa mereka “tidak mempersoalkan dan tidak khawatir”. Sikap ini dapat diartikan sebagai kepercayaan diri Golkar atas basis pemilihnya yang solid, atau mungkin juga sebagai strategi politik untuk tidak terpancing dalam narasi yang dapat menguntungkan PSI. Dalam konteks ini, dukungan Jokowi kepada PSI dapat dilihat sebagai upaya untuk menciptakan alternatif politik yang lebih sesuai dengan visi dan misi yang diinginkan oleh mantan presiden tersebut, sekaligus memberikan ruang bagi PSI untuk tumbuh dan berkontribusi dalam dinamika demokrasi Indonesia.

















