Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), secara resmi mematahkan spekulasi politik yang menyebutkan dirinya akan kembali masuk ke lingkaran kekuasaan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah hiruk-pikuk isu reshuffle kabinet dan penataan ulang struktur lembaga penasihat presiden, Jokowi menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi warga biasa dan menikmati masa purnatugas di kota kelahirannya. Penegasan ini disampaikan langsung oleh Jokowi saat menyaksikan pertandingan sepak bola antara Persis Solo melawan Madura United di Stadion Manahan, Solo, pada Jumat (13/2/2026) sore. Dengan gaya santai namun lugas, ia menyatakan bahwa dirinya kini bukan lagi bagian dari pejabat pemerintahan dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di Solo, sekaligus mengakhiri perdebatan panjang mengenai peran politiknya pasca-lengser dari kursi kepresidenan.
Isu mengenai penunjukan Jokowi sebagai Wantimpres sebenarnya telah berkembang liar di ruang publik dalam beberapa pekan terakhir. Kabar ini semakin menguat seiring dengan munculnya narasi mengenai perlunya kesinambungan kebijakan antara pemerintahan lama dan baru. Namun, dalam kesempatan tersebut, Jokowi secara konsisten mengulang kalimat yang sama untuk menjawab cecaran pertanyaan media. “Nggak lah, saya di Solo saja. Di Solo saja,” tegasnya dengan nada bicara yang tenang. Ia memberikan isyarat kuat bahwa hasrat politiknya untuk menduduki jabatan struktural telah usai. Menurutnya, status sebagai mantan pejabat memberikan kebebasan bagi dirinya untuk kembali ke akar dan berinteraksi langsung dengan masyarakat tanpa sekat protokoler yang kaku seperti saat masih menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia.
Dinamika Isu Wantimpres dan Penegasan Status Purnatugas
Penolakan halus namun tegas dari Jokowi ini muncul di tengah hasil survei yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya masih menginginkan dirinya berkontribusi dalam pemerintahan. Berdasarkan data referensi tambahan, terdapat sekitar 80,5 persen masyarakat yang setuju jika Jokowi menjabat sebagai Ketua Wantimpres. Angka yang sangat tinggi ini mencerminkan tingkat kepercayaan publik terhadap pengalaman dan visi politik Jokowi yang dianggap masih relevan untuk mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Kendati demikian, Jokowi memilih untuk tidak tergiur oleh angka-angka popularitas tersebut. Ia menegaskan bahwa pembicaraan mengenai posisi tersebut memang sempat menjadi diskusi di berbagai kalangan, namun ia telah menyampaikan sikap resminya secara langsung kepada Presiden Prabowo.
Jokowi mengaku telah menjalin komunikasi dengan Presiden Prabowo Subianto terkait aspirasi pribadinya untuk tetap tinggal di Solo. “Sudah saya sampaikan, saya di Solo saja,” ungkapnya sambil tersenyum tipis. Meskipun ia enggan merinci kapan dan di mana pembicaraan spesifik mengenai tawaran Wantimpres itu terjadi, sikap tertutupnya justru memperkuat kesan bahwa ia ingin menjaga privasi komunikasinya dengan sang suksesor. Di sisi lain, Tim Cek Fakta dari berbagai media nasional, termasuk Kompas.com, sebelumnya juga telah mengategorikan narasi bergabungnya Jokowi ke Wantimpres sebagai informasi yang tidak akurat atau hoaks. Hal ini sejalan dengan pernyataan Jokowi yang berulang kali menekankan bahwa dirinya sudah “pulang kampung” dan tidak lagi memiliki ambisi untuk kembali ke istana dalam kapasitas jabatan apa pun.
Kehadiran di Stadion Manahan: Simbol Kedekatan dengan Rakyat
Kehadiran Jokowi di Stadion Manahan sore itu seolah menjadi bukti nyata dari ucapannya yang ingin menikmati masa pensiun dengan cara yang sederhana. Datang sekitar pukul 15.30 WIB dengan menggunakan mobil pribadi Toyota Alphard hitam bernomor polisi B 2470 ZZR, Jokowi tampil dengan gaya ikoniknya: kemeja putih lengan panjang yang digulung, celana panjang hitam, sepatu hitam, dan sebuah topi putih. Tidak ada iring-iringan besar layaknya kunjungan kerja presiden, namun pengamanan tetap dilakukan secara proporsional oleh pihak kepolisian dan TNI. Kedatangannya disambut hangat oleh Direktur Persis Solo sekaligus Ketua Panitia Pelaksana (Panpel), Ginda Ferachtriawan, serta jajaran petinggi Polresta Solo termasuk Kapolresta Kombes Catur Cahyono Wibowo.
Selama pertandingan berlangsung, Jokowi tampak menikmati jalannya laga dari tribun VVIP. Ia hanya didampingi oleh beberapa ajudan dan pihak manajemen klub, tanpa adanya pejabat kementerian atau tokoh politik nasional yang biasanya mendampingi. Aktivitas menonton bola ini bukanlah yang pertama kali dilakukan Jokowi sejak purnatugas; beberapa pekan sebelumnya, ia juga terpantau hadir saat Persis Solo menjamu Borneo FC Samarinda. Rutinitas ini memperlihatkan sisi humanis Jokowi yang kini lebih fokus pada hobi dan dukungan terhadap kemajuan olahraga di daerahnya, sekaligus mempertegas bahwa Solo adalah tempat di mana ia merasa paling nyaman dan berdaulat atas waktu pribadinya sendiri.
Prosedur Keamanan Ketat dan Manajemen Pertandingan
Meskipun status Jokowi adalah warga sipil, kehadirannya di tempat umum tetap memicu penerapan standar keamanan yang tinggi, terutama dalam pertandingan skala besar seperti Super League 2025/2026. Aparat keamanan gabungan yang terdiri dari 478 personel TNI-Polri dikerahkan untuk memastikan kondusivitas di dalam dan di luar Stadion Manahan. Kabagops Polresta Solo, Kompol Wahyu Nugroho, menjelaskan bahwa pola pengamanan dibagi menjadi tiga ring utama dengan fokus pada pemeriksaan identitas calon penonton. Hal ini dilakukan bukan hanya karena kehadiran mantan presiden, tetapi juga untuk memitigasi risiko gesekan antar suporter, mengingat adanya regulasi ketat mengenai kehadiran suporter tamu.
Pihak kepolisian melakukan filterisasi ketat di pintu-pintu masuk Kota Solo dan area stadion. Berdasarkan kesepakatan dengan Panitia Pelaksana, penonton dengan identitas domisili Jawa Timur dilarang masuk guna menghindari kedatangan suporter Madura United secara ilegal. Langkah preventif ini mencakup pengecekan barang bawaan yang dilarang seperti:
- Flare dan kembang api yang dapat mengganggu jalannya pertandingan.
- Minuman keras (miras) untuk mencegah tindakan anarkis di tribun.
- Korek api dan senjata tajam sebagai standar prosedur keselamatan internasional.
- Atribut suporter tamu yang dapat memicu provokasi di area pendukung tuan rumah.
Secara keseluruhan, sikap Jokowi yang memilih untuk menjauh dari hiruk-piruk kekuasaan di Jakarta dan menetap di Solo memberikan pesan politik yang kuat tentang etika purnatugas. Dengan menolak posisi strategis seperti Wantimpres, ia memberikan ruang seluas-luasnya bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk bekerja secara mandiri tanpa bayang-bayang figur pemimpin sebelumnya. Keputusannya untuk lebih sering muncul di stadion sepak bola daripada di forum-forum politik formal menjadi penanda bahwa babak baru kehidupan Joko Widodo sebagai “Wong Solo” telah benar-benar dimulai, jauh dari gemerlap kekuasaan istana namun tetap dekat di hati masyarakat yang merindukan sosoknya.

















