Dalam lanskap kebebasan berekspresi yang dinamis di Indonesia, sebuah interaksi yang menarik antara komika ternama Pandji Pragiwaksono dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah menarik perhatian publik. Kejadian ini bermula dari materi stand-up comedy Pandji yang bertajuk “Mens Rea”, yang kemudian menuai berbagai respons, termasuk laporan ke pihak berwajib. Namun, di tengah potensi polemik, justru muncul perspektif baru dari orang nomor dua di Indonesia. Pandji Pragiwaksono, usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada Jumat, 6 Februari 2026, mengungkapkan pandangannya mengenai sikap Gibran yang dinilainya sebagai contoh positif dalam menanggapi sebuah lelucon atau *joke*. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya cara pejabat publik merespons kritik dan ekspresi seni, serta menegaskan prinsip kebebasan berpendapat di negara demokrasi.
Pandji Pragiwaksono Apresiasi Sikap Gibran: Contoh Kedewasaan dalam Menanggapi Humor
Pandji Pragiwaksono memberikan apresiasi mendalam terhadap respons Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait materi stand-up comedy-nya yang berjudul “Mens Rea”. Pernyataan Gibran yang menekankan bahwa Indonesia sebagai negara demokratis menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berekspresi bagi seluruh warga negara, termasuk para pemuda dan seniman seperti Pandji, dinilai sebagai sebuah indikasi yang sangat baik. Pandji secara spesifik memuji Gibran sebagai teladan bagaimana seharusnya seorang pejabat publik menyikapi sebuah candaan atau *joke*. Ia berpendapat bahwa sebuah lelucon tidak sepatutnya ditanggapi secara berlebihan hingga berujung pada timbulnya permasalahan baru yang kompleks. Sikap ini, menurut Pandji, menunjukkan kedewasaan dalam memahami esensi komedi dan batasan-batasannya dalam konteks sosial dan hukum.
“Saya rasa Wakil Presiden Gibran jadi contoh bahwa gimana baiknya menangkap sebuah joke, gimana baiknya memproses sebuah joke. Sebuah joke itu tidak perlu ditanggapi terlalu serius dan tidak perlu sampai menciptakan permasalahan,” ungkap Pandji dengan nada optimis usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Pernyataan ini bukan hanya sekadar pujian, melainkan sebuah refleksi atas pemahaman Pandji mengenai dinamika interaksi antara seniman, publik, dan pemangku kebijakan. Ia melihat bahwa respons Gibran merupakan sebuah cerminan dari prinsip demokrasi yang mengedepankan dialog dan pemahaman, alih-alih konfrontasi.
Proses Hukum Berjalan, Pandji Tetap Menghormati Mekanisme yang Ada
Menyinggung mengenai kasus hukum yang tengah menjeratnya terkait materi stand-up comedy “Mens Rea”, Pandji Pragiwaksono menegaskan sikapnya untuk tetap mengikuti seluruh proses yang sedang berjalan. Ia tidak ingin berspekulasi terlalu jauh mengenai kemungkinan kasus ini akan berlanjut hingga ke persidangan atau tidak. Baginya, yang terpenting adalah menjalani setiap tahapan hukum dengan patuh dan menghormati setiap mekanisme yang ada. Sikap ini menunjukkan profesionalisme dan keseriusan Pandji dalam menghadapi situasi tersebut, serta keyakinannya pada sistem peradilan yang berlaku.
“Saya sih inginnya jalanin aja prosesnya,” ujar Pandji, mengindikasikan bahwa fokusnya saat ini adalah pada kelancaran proses hukum itu sendiri. Pernyataan ini juga dapat diartikan sebagai bentuk penyerahan diri pada proses, tanpa mencoba untuk memanipulasi atau memprediksi hasil akhir. Pandji secara implisit menyampaikan bahwa ia percaya pada keadilan dan proses hukum yang transparan. Meskipun demikian, ia juga membuka diri terhadap kemungkinan dialog.
Keterbukaan untuk Dialog: Jalan Damai dalam Penyelesaian Masalah
Lebih lanjut, Pandji Pragiwaksono menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam dialog jika memang ada tawaran atau ajakan untuk berdiskusi guna menyelesaikan persoalan yang muncul. Ia menegaskan bahwa dirinya akan dengan senang hati menerima dan mengikuti mekanisme dialog tersebut. Keterbukaan ini menunjukkan bahwa Pandji tidak menutup pintu komunikasi dan justru mencari solusi damai melalui perundingan. Ini merupakan aspek penting dalam penyelesaian konflik, di mana kedua belah pihak dapat saling bertukar pandangan dan mencari titik temu tanpa harus melalui jalur hukum yang panjang dan berpotensi menimbulkan gesekan lebih lanjut.
“Kalau misalkan ada ajakan dialog, dengan senang hati saya akan jalanin,” pungkas Pandji, menutup pernyataannya dengan nada yang menunjukkan sikap kooperatif dan keinginan untuk mencapai resolusi yang konstruktif. Sikap ini selaras dengan semangat demokrasi yang mengutamakan musyawarah mufakat dalam setiap penyelesaian masalah. Dukungan yang diberikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang melihat materi komedi sebagai bagian dari ekspresi anak muda dan menekankan pentingnya kebebasan berekspresi, semakin memperkuat pandangan Pandji bahwa dialog dan pemahaman adalah kunci dalam menghadapi perbedaan pendapat.
Dukungan dari Gibran ini, seperti yang diberitakan, menyatakan bahwa masukan dari generasi muda sangat bermanfaat bagi pembangunan bangsa, selama tetap menghormati norma, nilai-nilai lokal, budaya, dan agama. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah, melalui Wakil Presiden, tidak melihat ekspresi seni seperti stand-up comedy sebagai ancaman, melainkan sebagai kontribusi yang dapat membangun, asalkan tetap berada dalam koridor yang dihormati bersama. Pandji Pragiwaksono, sebagai figur publik, tampaknya memahami dan menghargai nuansa ini, dan responsnya mencerminkan hal tersebut.

















