Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, secara mengejutkan memberikan desakan diplomatik yang signifikan dengan meminta Andrew Mountbatten-Windsor, yang sebelumnya dikenal sebagai Pangeran Andrew, untuk segera memberikan kesaksian di hadapan Kongres Amerika Serikat terkait hubungan kontroversialnya dengan mendiang terpidana kasus kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Langkah berani ini diambil Starmer di tengah mencuatnya jutaan dokumen baru yang dirilis oleh Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat pada awal Februari 2026, yang mengungkap detail lebih mendalam mengenai jaringan predator seksual Epstein. Dalam pernyataannya di sela-sela KTT G20 di Johannesburg, Starmer menegaskan bahwa transparansi hukum dan keadilan bagi para korban harus menjadi prioritas utama di atas kepentingan personal maupun status sosial, menandai babak baru dalam tekanan global terhadap adik Raja Charles III tersebut untuk mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam lingkaran sosial Epstein yang gelap.
Eskalasi Tekanan Diplomatik: Sir Keir Starmer dan Tuntutan Transparansi Global
Pernyataan Sir Keir Starmer yang dilansir oleh berbagai media internasional, termasuk The Guardian, mencerminkan pergeseran sikap pemerintah Inggris yang kini lebih terbuka dalam mendorong akuntabilitas anggota keluarga kerajaan di hadapan hukum internasional. Starmer menyatakan bahwa siapa pun yang memiliki informasi relevan, sekecil apa pun itu, memiliki kewajiban moral untuk bekerja sama dengan penyelidik dan legislator di Amerika Serikat. Penegasan ini disampaikan Starmer sebagai respons langsung atas kegaduhan publik yang dipicu oleh pengungkapan dokumen-dokumen internal Departemen Kehakiman AS yang menunjukkan bahwa hubungan antara Andrew dan Epstein jauh lebih intens dan berlangsung lebih lama daripada yang diakui sebelumnya. Starmer menekankan bahwa fokus utama dari seluruh proses hukum ini bukanlah pada sensasi media, melainkan pada pemenuhan rasa keadilan bagi Epstein’s victims (para korban Epstein) yang telah menderita selama puluhan tahun akibat eksploitasi sistematis.
Meskipun Starmer secara eksplisit mengakui batasan hukumnya sebagai kepala pemerintahan Inggris—di mana ia tidak memiliki wewenang yuridis untuk memaksa seorang warga negara Inggris hadir dalam persidangan atau komite di luar negeri—seruannya membawa beban politik dan moral yang sangat berat. Secara hukum, yurisdiksi Amerika Serikat memang tidak dapat menjangkau warga negara non-AS untuk hadir secara paksa dalam sesi Kongres tanpa adanya perjanjian ekstradisi yang spesifik untuk kasus tersebut. Namun, dengan memberikan pernyataan publik di forum internasional seperti G20, Starmer secara efektif mengisolasi Andrew secara politis, memberikan sinyal bahwa pemerintah Inggris tidak akan memberikan perlindungan diplomatik atau tameng politik bagi sang mantan pangeran jika ia terus menghindari permintaan kesaksian dari Washington.
Andrew Mountbatten-Windsor sendiri telah berada dalam posisi yang sangat terjepit sejak akhir tahun 2025, ketika gelar militer dan perlindungan kerajaan serta tugas-tugas resminya dicabut secara permanen oleh pihak istana. Munculnya jutaan dokumen baru dari Departemen Kehakiman AS, yang mencakup ribuan email, foto digital, dan catatan pesan singkat, memberikan bukti tak terbantahkan mengenai interaksi berkelanjutan Andrew dengan Epstein, bahkan setelah Epstein dijatuhi hukuman pada tahun 2008 atas kasus serupa. Dokumen-dokumen ini tidak hanya memperlihatkan hubungan personal, tetapi juga menunjukkan bagaimana fasilitas negara, seperti undangan ke Istana Buckingham dan acara makan malam eksklusif yang dihadiri oleh lingkaran dalam Andrew, digunakan untuk menjamu figur-figur yang kini diketahui terlibat dalam jaringan kriminal Epstein. House Oversight Committee di Kongres AS telah mengirimkan surat resmi yang meminta Andrew untuk melakukan “transcribed interview” atau wawancara tertulis yang direkam secara resmi, sebuah langkah hukum yang hingga kini belum mendapatkan respons positif dari pihak Andrew.
Bukti-Bukti Baru: Undangan ke Buckingham Palace dan Dokumentasi Visual yang Meresahkan
Tekanan terhadap Andrew tidak hanya bersumber dari retorika politik, tetapi juga didorong oleh kemarahan publik yang meluas baik di Inggris maupun di Amerika Serikat. Banyak pihak melihat bahwa sikap diam atau penolakan Andrew untuk bersaksi merupakan bentuk penghinaan terhadap proses hukum dan upaya pencarian kebenaran. Komite Kongres AS, sebagaimana dilaporkan oleh BBC, menyatakan bahwa meskipun mereka dapat terus melanjutkan penyelidikan tanpa kehadiran Andrew, kesaksian langsung darinya sangat krusial untuk memetakan bagaimana figur-figur berpengaruh di tingkat global memberikan legitimasi sosial kepada Epstein. Dengan memahami peran dan pengetahuan Andrew, para penyelidik berharap dapat mengungkap bagaimana jaringan ini beroperasi di tingkat elit dan memastikan bahwa tidak ada lagi individu yang dapat bersembunyi di balik status sosial mereka untuk menghindari konsekuensi hukum.
Detail yang terungkap dalam berkas terbaru yang dirilis pada Jumat, 30 Januari 2026, benar-benar mengguncang publik. Salah satu temuan yang paling kontroversial adalah dokumentasi visual yang menunjukkan Andrew dalam posisi yang sangat kompromistis, termasuk foto yang memperlihatkan dirinya sedang berjongkok di atas seorang wanita yang terbaring di lantai dalam sebuah pertemuan sosial yang diduga difasilitasi oleh Epstein. Lebih jauh lagi, kumpulan email yang disita menunjukkan fakta yang sangat ironis: Andrew secara resmi mengundang Jeffrey Epstein ke Istana Buckingham pada September 2010. Hal ini terjadi tepat dua tahun setelah Epstein secara resmi dinyatakan bersalah oleh pengadilan Amerika Serikat karena terbukti membujuk gadis-gadis di bawah umur, bahkan semuda 14 tahun, untuk melakukan tindakan seksual. Fakta bahwa seorang terpidana kejahatan seksual terhadap anak-anak mendapatkan akses ke jantung monarki Inggris melalui Andrew menjadi poin utama yang memicu kemarahan publik dan memperkuat tuntutan agar ia segera memberikan penjelasan di bawah sumpah.
Keterkaitan Andrew dengan Epstein yang terus terungkap ini telah menciptakan krisis reputasi yang mendalam bagi institusi monarki Inggris di bawah kepemimpinan Raja Charles III. Meskipun pihak istana telah berupaya menjaga jarak dengan mencabut gelar-gelar Andrew, hubungan personal masa lalu ini terus menghantui narasi publik tentang integritas keluarga kerajaan. Para analis politik berpendapat bahwa selama Andrew tidak memberikan klarifikasi yang transparan di hadapan otoritas hukum AS, spekulasi dan sentimen negatif akan terus membayangi monarki, yang pada akhirnya dapat mengancam stabilitas dukungan publik terhadap institusi tersebut di era modern.
Respons Publik Inggris terhadap Andrew Mountbatten-Windsor dan Sarah Ferguson
Reaksi masyarakat Inggris terhadap seruan Perdana Menteri Keir Starmer menunjukkan adanya konsensus bahwa akuntabilitas tidak boleh mengenal kasta. Diskusi di berbagai platform media sosial dan kolom opini media arus utama menunjukkan bahwa masyarakat merasa muak dengan kesan adanya impunitas hukum bagi mereka yang memiliki koneksi kerajaan. Pencabutan gelar “Pangeran” dan tugas-tugas publik yang dilakukan sebelumnya kini dianggap hanya sebagai langkah kosmetik jika tidak diikuti dengan keterbukaan penuh dalam proses hukum di Amerika Serikat. Publik menuntut agar Andrew tidak lagi bersembunyi di balik dinding-dinding kastil dan bersedia menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit dari para legislator Amerika yang mewakili kepentingan para korban.
Selain Andrew, sorotan publik kini juga mulai meluas ke arah Sarah Ferguson, mantan istri Andrew yang tetap memiliki hubungan dekat dengannya. Beberapa laporan media dan dokumen yang bocor menunjukkan bahwa Ferguson juga pernah memiliki keterkaitan sosial dengan lingkaran Epstein di masa lalu. Meskipun Sarah Ferguson tidak pernah menghadapi dakwaan hukum secara resmi dan secara konsisten membantah terlibat dalam aktivitas ilegal apa pun, namanya yang muncul dalam beberapa konteks sosial terkait Epstein telah memicu tuntutan transparansi yang lebih besar. Media tabloid Inggris dan pengamat kerajaan menyoroti bagaimana hubungan sosial di tingkat elit ini sering kali menjadi sangat kabur, dan publik kini mendesak agar semua pihak yang pernah berada dalam lingkaran tersebut memberikan kesaksian demi membersihkan nama institusi monarki dari bayang-bayang skandal Epstein.
Pada akhirnya, desakan dari Sir Keir Starmer ini menempatkan Andrew Mountbatten-Windsor pada persimpangan jalan yang menentukan. Apakah ia akan terus memilih jalan perlawanan pasif yang berisiko semakin merusak citra dirinya dan keluarganya, atau ia akan memilih untuk memenuhi seruan moral sang Perdana Menteri dengan bersaksi di Kongres AS? Bagi para korban Jeffrey Epstein, kesaksian Andrew bukan sekadar formalitas hukum, melainkan sebuah pengakuan atas kebenaran yang selama ini terkubur di bawah lapisan kekuasaan dan pengaruh. Di tengah tekanan yang semakin memuncak dari kedua sisi Atlantik, tuntutan akan keadilan tampaknya tidak akan mereda sampai setiap detail dari hubungan gelap ini terungkap sepenuhnya ke permukaan.

















