Davos, Swiss – Di tengah hiruk pikuk Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) yang diselenggarakan di Davos, Swiss, pada Kamis, 22 Januari 2026, sebuah inisiatif global baru yang ambisius diluncurkan: Dewan Perdamaian (Board of Peace). Inisiatif yang digagas oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ini secara resmi diresmikan melalui sebuah seremoni penandatanganan piagam yang dihadiri oleh perwakilan dari 21 negara. Indonesia, melalui kehadiran Presiden Prabowo Subianto, turut serta menandai komitmennya terhadap upaya perdamaian internasional.
Inisiatif Global Donald Trump: Dewan Perdamaian
Donald Trump, dalam pidato pembukaannya yang disiarkan melalui media sosial Gedung Putih, menyatakan bahwa momen peluncuran Dewan Perdamaian ini merupakan hari yang telah lama ditunggu-tunggu dan direncanakan dengan matang. Ia menekankan bahwa para kepala negara yang hadir merupakan kelompok pertama yang secara resmi bergabung dalam entitas baru ini. Trump menyampaikan rasa hormatnya atas kehadiran para pemimpin dunia, yang menurutnya, merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi dirinya dan Amerika Serikat. Pidato Trump, yang berlangsung kurang lebih selama 20 menit, tidak hanya berfokus pada peluncuran Dewan Perdamaian, tetapi juga menyentuh berbagai pencapaian yang ia klaim selama masa jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat. Salah satu klaim signifikan yang diangkat adalah keberhasilannya dalam mengakhiri delapan konflik perang sejak ia menjabat pada Januari tahun sebelumnya. Lebih lanjut, Trump menguraikan visi Dewan Perdamaian untuk berkolaborasi secara sinergis dengan berbagai organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam upaya mewujudkan stabilitas global.
Setelah sambutan yang menginspirasi, acara dilanjutkan dengan penandatanganan piagam Dewan Perdamaian. Donald Trump menjadi yang pertama membubuhkan tanda tangannya, diikuti oleh para kepala negara yang hadir secara bergantian. Presiden Prabowo Subianto dari Indonesia tampak berdiri di sisi Trump, secara simbolis menunjukkan partisipasi aktif Indonesia dalam forum perdamaian ini. Momen penandatanganan ini menjadi penanda resmi bergabungnya negara-negara tersebut ke dalam Dewan Perdamaian, sebuah langkah yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap resolusi konflik dan pembangunan berkelanjutan di berbagai kawasan yang bergejolak.
Fokus pada Pembangunan Gaza dan Partisipasi Internasional
Peluncuran Dewan Perdamaian ini diselenggarakan bertepatan dengan agenda Forum Ekonomi Dunia di Davos, sebuah platform global yang mempertemukan para pemimpin bisnis, politik, dan akademisi untuk membahas isu-isu krusial dunia. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di acara ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian. Selain Presiden Indonesia, beberapa kepala negara dan perwakilan penting lainnya yang turut hadir dalam peluncuran ini antara lain Presiden Argentina Javier Milei, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan. Keberagaman perwakilan negara menunjukkan cakupan global dari inisiatif Dewan Perdamaian ini.
Salah satu tujuan utama pembentukan Dewan Perdamaian ini adalah untuk secara spesifik mengawasi dan memfasilitasi langkah-langkah pembangunan di Gaza, Palestina, pasca-konflik dengan Israel. Wilayah Gaza telah lama menjadi titik api konflik yang menimbulkan krisis kemanusiaan dan kehancuran infrastruktur. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang terstruktur untuk pemulihan dan rekonstruksi di wilayah tersebut. Sebelumnya, Israel telah secara resmi menyatakan penerimaannya atas undangan Donald Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian. Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melalui pengumuman di media sosial pada Rabu, 21 Januari 2026, mengonfirmasi penerimaan undangan tersebut, menandakan potensi kolaborasi antara Israel dan Dewan Perdamaian dalam upaya perdamaian di kawasan.
Menteri Sekretaris Negara Indonesia, Prasetyo Hadi, dalam pernyataannya dari Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis, 22 Januari 2026, menjelaskan bahwa keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian didasari oleh keinginan kuat untuk mempercepat terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan antara Palestina dan Israel. “Tujuannya adalah mempercepat proses perdamaian di Gaza,” tegas Prasetyo Hadi. Pernyataan ini menggarisbawahi prioritas Indonesia dalam upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung lama dan berdampak luas terhadap stabilitas regional serta kemanusiaan. Partisipasi Indonesia dalam Dewan Perdamaian diharapkan dapat memberikan kontribusi konstruktif dalam mencapai solusi damai yang adil dan permanen bagi masyarakat Palestina dan Israel.
Dewan Perdamaian, sebagai sebuah inisiatif baru yang dipimpin oleh Donald Trump, memiliki visi yang luas untuk mempromosikan dialog, rekonsiliasi, dan pembangunan di berbagai wilayah yang dilanda konflik. Dengan mengumpulkan para pemimpin dunia, inisiatif ini berupaya menciptakan sebuah platform kolaboratif untuk mengatasi akar permasalahan konflik dan membangun fondasi perdamaian yang lebih kokoh. Kehadiran perwakilan dari 21 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan adanya optimisme dan kesediaan komunitas internasional untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan perdamaian global yang kompleks. Langkah-langkah konkret yang akan diambil oleh Dewan Perdamaian, khususnya terkait dengan rekonstruksi Gaza dan resolusi konflik lainnya, akan menjadi sorotan utama dalam beberapa waktu mendatang.
Dewi Rina Cahyani berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

















