Dalam sebuah langkah diplomatik dan ekonomi yang strategis, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dipastikan akan memimpin delegasi penting ke Washington D.C., Amerika Serikat, pada pertengahan Februari 2026. Kunjungan yang dijadwalkan pada 19 Februari ini membawa dua agenda utama yang berpotensi signifikan bagi posisi Indonesia di kancah global: partisipasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dan penandatanganan Kesepakatan Tarif Resiprokal (Agreement on Reciprocal Tariff/ART) dengan Amerika Serikat. Misi ganda ini tidak hanya menegaskan komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia, khususnya perjuangan Palestina, tetapi juga membuka babak baru dalam hubungan perdagangan bilateral yang lebih kuat dan saling menguntungkan.
Konfirmasi kehadiran Presiden Prabowo disampaikan langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A Mulachela, yang menekankan pentingnya partisipasi Indonesia sejak awal pembentukan Dewan Perdamaian. Dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta pada Rabu, 11 Februari 2026, Nabyl menegaskan bahwa kehadiran RI 1 dalam rapat perdana BoP di Washington D.C. adalah manifestasi nyata dari komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam membentuk arah dan kerangka kerja lembaga perdamaian global ini. Keikutsertaan ini menandai ambisi Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemain kunci dalam arsitektur perdamaian internasional. Ini sejalan dengan amanat konstitusi dan sejarah panjang diplomasi Indonesia yang selalu mengedepankan perdamaian dan keadilan global.
Salah satu agenda sentral yang akan dibawa Presiden Prabowo ke KTT Dewan Perdamaian adalah perjuangan tak henti Indonesia untuk kepentingan Palestina. Nabyl secara spesifik menyebutkan bahwa Presiden akan terus menyuarakan dukungan penuh terhadap rekonstruksi Jalur Gaza yang hancur akibat konflik berkepanjangan, serta memperjuangkan hak-hak fundamental rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri. Komitmen ini selaras dengan kehendak kuat masyarakat Indonesia yang secara konsisten menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. Indonesia akan senantiasa mendorong pemulihan Gaza dan mengupayakan terwujudnya perdamaian yang adil, komprehensif, dan berkelanjutan bagi Palestina, terutama dalam kerangka solusi dua negara yang diakui secara internasional. Melalui platform Dewan Perdamaian, Indonesia berharap dapat memberikan kontribusi konkret dalam mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini, memastikan suara keadilan bagi Palestina didengar dan dipertimbangkan dalam setiap pengambilan keputusan global.
Misi Diplomatik: Memperkuat Peran Indonesia di Dewan Perdamaian Global
Partisipasi Indonesia dalam KTT perdana Dewan Perdamaian adalah sebuah tonggak sejarah. Dewan Perdamaian sendiri merupakan inisiatif global yang bertujuan untuk menggalang upaya kolektif negara-negara dalam merespons tantangan perdamaian dan keamanan dunia. Gedung Putih telah mengumumkan penyelenggaraan KTT perdana ini pada 19 Februari 2026, dan telah menghubungi sejumlah pemimpin negara anggota untuk hadir. Indonesia secara resmi menjadi anggota BoP setelah Presiden Prabowo Subianto turut menandatangani piagam pendiriannya pada acara peluncuran di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026. Keanggotaan dan partisipasi aktif ini menunjukkan pengakuan dunia terhadap peran strategis Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dengan populasi Muslim terbesar, yang memiliki kapasitas untuk menjembatani perbedaan dan mempromosikan dialog konstruktif. Dengan terlibat sejak awal, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk memengaruhi agenda, prioritas, dan mekanisme kerja Dewan Perdamaian agar lebih inklusif dan responsif terhadap isu-isu global, termasuk konflik regional dan krisis kemanusiaan.
Dewan Perdamaian diharapkan menjadi forum penting bagi para pemimpin dunia untuk berdiskusi, bernegosiasi, dan merumuskan strategi kolektif dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap perdamaian, mulai dari konflik bersenjata, terorisme, hingga tantangan keamanan non-tradisional seperti perubahan iklim dan pandemi. Peran Indonesia dalam forum ini akan sangat krusial, mengingat posisinya sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip non-blok dan diplomasi bebas aktif. Presiden Prabowo diharapkan dapat membawa perspektif negara berkembang dan suara dari kawasan Asia Tenggara, memperkaya diskusi dengan pengalaman dan solusi yang relevan dari sudut pandang yang berbeda. Ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan globalnya dan berkontribusi pada penciptaan tatanan dunia yang lebih stabil dan adil.
Diplomasi Ekonomi: Menandatangani Kesepakatan Tarif Resiprokal Indonesia-AS
Selain agenda perdamaian, kunjungan Presiden Prabowo ke Amerika Serikat juga akan diwarnai dengan penandatanganan Kesepakatan Tarif Resiprokal Indonesia-AS (Agreement on Reciprocal Tariff/ART). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam kesempatan terpisah di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 11 Februari 2026, membenarkan bahwa Presiden akan menghadiri acara pada tanggal 19 Februari, dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART. Kesepakatan ini telah memasuki tahap finalisasi dan diharapkan menjadi pendorong signifikan bagi penguatan hubungan perdagangan dan investasi antara kedua negara adidaya ini. ART merupakan instrumen penting dalam diplomasi ekonomi yang dirancang untuk menurunkan hambatan tarif, sehingga mempermudah aliran barang dan jasa antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Kesepakatan Tarif Resiprokal ini memiliki implikasi ekonomi yang luas dan mendalam. Pada intinya, ART akan menciptakan kondisi perdagangan yang lebih adil dan efisien dengan menurunkan tarif ekspor dan membuka akses pasar baru bagi produk-produk Indonesia di Amerika Serikat, dan sebaliknya. Bagi Indonesia, ini berarti peluang besar untuk meningkatkan volume ekspor komoditas unggulan, produk manufaktur, dan jasa ke pasar Amerika yang sangat besar. Sektor-sektor seperti tekstil, alas kaki, produk pertanian, perikanan, dan komoditas strategis lainnya berpotensi mendapatkan keuntungan signifikan dari penurunan tarif ini, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan menarik investasi asing langsung. Peningkatan akses pasar juga akan mendorong inovasi dan daya saing industri dalam negeri, memaksa produsen Indonesia untuk memenuhi standar kualitas dan efisiensi global.
Di sisi lain, bagi Amerika Serikat, ART akan memastikan akses yang lebih mudah ke pasar Indonesia yang berkembang pesat, serta pasokan bahan baku dan produk dari Indonesia yang penting bagi rantai pasok global mereka. Kesepakatan ini juga merupakan sinyal kuat dari komitmen kedua negara untuk memperdalam kemitraan ekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Proses finalisasi ART yang hampir rampung menunjukkan keseriusan dan kerja keras kedua belah pihak dalam mencapai kesepahaman yang saling menguntungkan. Penandatanganan ART ini diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan perdagangan, tetapi juga mempererat ikatan ekonomi dan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat, membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas di masa depan, termasuk di bidang investasi, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan. Kunjungan Presiden Prabowo ini, dengan agenda ganda perdamaian dan ekonomi, menegaskan posisi Indonesia sebagai aktor global yang semakin berpengaruh dan strategis.

















