Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan strategis nasional yang memadukan keterbukaan terhadap kemajuan global dengan kewaspadaan diplomatik yang tajam saat meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri serta Gudang Ketahanan Pangan di Kepolisian Sektor Palmerah, Jakarta Barat, pada Jumat, 13 Februari 2026. Dalam pidato yang sarat akan pesan kedaulatan tersebut, Kepala Negara menggarisbawahi bahwa Indonesia berada di ambang kebangkitan besar yang dipicu oleh penguatan sektor domestik melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Prabowo menekankan bahwa meskipun Indonesia harus bersikap proaktif dalam menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi dari kekuatan asing, rakyat tidak boleh terjebak dalam sikap naif karena dinamika geopolitik menunjukkan bahwa tidak semua bangsa lain merasa senang melihat Indonesia tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru yang mandiri dan berdaulat.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo secara eksplisit mengklarifikasi posisinya terkait hubungan internasional agar tidak disalahartikan sebagai sentimen xenofobia atau kebencian terhadap pihak luar. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud mengajak masyarakat Indonesia untuk memusuhi, membenci, apalagi menaruh rasa takut yang berlebihan terhadap bangsa asing. Sebaliknya, ia mendorong transformasi mentalitas agar bangsa Indonesia mampu menjadi murid yang cerdas bagi kemajuan dunia. Namun, ia memberikan catatan tebal bahwa keterbukaan tersebut harus dibarengi dengan kesadaran realitas politik internasional. Menurut Prabowo, dalam pergaulan antarbangsa, kepentingan nasional adalah panglima, dan sejarah membuktikan bahwa persaingan global sering kali membuat negara lain lebih nyaman melihat Indonesia tetap berada dalam posisi ketergantungan daripada menjadi kompetitor yang tangguh.
Paradigma Hubungan Internasional: Antara Belajar dan Kewaspadaan Global
Lebih mendalam, Prabowo Subianto mengingatkan bahwa sikap “lugu” dalam diplomasi dapat merugikan masa depan bangsa. Ia menekankan pentingnya bagi setiap elemen masyarakat untuk memiliki literasi strategis dalam melihat kekuatan asing. Indonesia diminta untuk tidak sekadar menjadi penonton atau pasar bagi produk luar, melainkan pengamat yang mampu mengekstraksi kekuatan-kekuatan positif dari negara maju untuk diimplementasikan di dalam negeri. Presiden menegaskan bahwa kecurigaan yang tidak berdasar adalah penghambat kemajuan, namun kewaspadaan adalah keharusan. Pesan ini ditujukan untuk membangun karakter bangsa yang percaya diri, yang mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar tanpa harus mengorbankan identitas atau kepentingan nasionalnya demi menyenangkan pihak luar.
Kedaulatan pangan menjadi salah satu pilar utama yang disoroti dalam pidato tersebut sebagai manifestasi dari sikap tidak naif terhadap asing. Prabowo meyakini bahwa ketergantungan pada impor pangan adalah bentuk kerentanan yang harus segera diakhiri. Dengan memiliki ketahanan pangan yang kuat, Indonesia tidak akan mudah ditekan oleh fluktuasi kebijakan global atau kepentingan politik negara lain. Ia juga menyampaikan sebuah pesan provokatif namun patriotik, di mana ia bertekad untuk memberikan “kejutan” bagi pihak-pihak, baik di dalam maupun luar negeri, yang selama ini meragukan kapasitas Indonesia atau bahkan mengharapkan negara ini tetap terpuruk. Keberhasilan program-program strategis pemerintah akan menjadi jawaban sekaligus kekecewaan bagi mereka yang ingin melihat Indonesia terus berada dalam bayang-bayang kegagalan.
Transformasi Ekonomi Konstitusional Melalui Program Makan Bergizi Gratis
Beralih ke sektor ekonomi domestik, Presiden Prabowo mengklaim bahwa proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program bantuan sosial biasa, melainkan sebuah rekayasa ekonomi yang berakar pada filosofi para pendiri bangsa. Ia menyatakan bahwa sistem ekonomi yang sedang dibangun saat ini adalah ekonomi yang sesuai dengan mandat Undang-Undang Dasar 1945, yang mengutamakan kesejahteraan rakyat banyak dan keadilan sosial. MBG dianggap sebagai katalisator yang akan menggerakkan roda ekonomi dari tingkat paling bawah, menciptakan ekosistem di mana sirkulasi uang dan sumber daya tetap berputar di dalam negeri, memperkuat daya beli masyarakat, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
Dampak nyata dari program MBG ini mulai dirasakan secara signifikan oleh para petani kecil di berbagai daerah. Prabowo mengungkapkan laporan yang diterimanya mengenai perubahan drastis dalam rantai pasok hasil pertanian. Jika sebelumnya para petani sering kali dihantui ketidakpastian mengenai siapa yang akan menyerap hasil panen mereka—yang sering kali berujung pada kerugian akibat harga yang anjlok—kini skema MBG memberikan jaminan pasar yang stabil. Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di berbagai wilayah berfungsi sebagai pembeli siaga (off-taker) yang memastikan setiap bulir padi, sayuran, dan hasil ternak petani lokal terserap dengan harga yang layak. Hal ini menciptakan kepastian penghasilan yang selama ini menjadi impian para produsen pangan di tingkat akar rumput.
Fenomena menarik yang disoroti Presiden adalah terjadinya kompetisi sehat di tingkat ladang, di mana produksi sayur-mayur petani kini sudah dipesan bahkan sebelum masa panen tiba. Hal ini membuktikan bahwa integrasi antara kebijakan pemenuhan gizi nasional dengan penguatan sektor pertanian dapat menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi pedesaan. Dengan jaminan pasar yang diberikan oleh pemerintah melalui SPPG, para petani kini memiliki motivasi lebih untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil tani mereka. Prabowo menegaskan bahwa inilah jalan yang benar menuju kemandirian ekonomi, di mana bangsa Indonesia mampu memberi makan rakyatnya sendiri dari tanahnya sendiri, tanpa harus terus-menerus menoleh pada bantuan atau kebijakan luar negeri yang sering kali mengikat.
Sebagai penutup dari rangkaian arahannya, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap fokus pada tujuan besar nasional dan tidak terdistraksi oleh upaya-upaya yang ingin melemahkan semangat persatuan. Ia menekankan bahwa keberhasilan Indonesia untuk “berdikari” atau berdiri di atas kaki sendiri adalah kunci utama untuk mendapatkan penghormatan di mata dunia. Dengan belajar dari kekuatan asing tanpa kehilangan jati diri, serta memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui program-program yang pro-rakyat, Indonesia diprediksi akan bertransformasi menjadi kekuatan yang tidak hanya disegani secara politik, tetapi juga mandiri secara pangan dan ekonomi, sekaligus membuktikan bahwa visi besar para pendiri bangsa dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan keberanian politik.

















