- Diplomasi Global: Mendampingi Presiden dalam pertemuan bilateral di London terkait kerja sama sektor kelautan dan perikanan berkelanjutan.
- Forum Ekonomi Dunia (WEF): Menghadiri rangkaian sidang di Davos untuk mempromosikan kebijakan ekonomi biru Indonesia di mata investor global.
- Manajemen Krisis: Memantau secara real-time proses pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dari luar negeri, yang melibatkan koordinasi lintas zona waktu.
- Tanggung Jawab Moral: Memastikan seluruh hak keluarga korban terpenuhi dan mempersiapkan upacara penghormatan secara layak segera setelah mendarat di tanah air.
Trenggono menegaskan bahwa sebagai “komandan” di KKP, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk selalu hadir di tengah pasukannya, baik dalam kondisi suka maupun duka. Menjadi inspektur upacara bagi para stafnya yang gugur dianggapnya sebagai wujud pendampingan terakhir yang tidak bisa didelegasikan, meskipun tubuhnya sendiri sudah memberikan sinyal peringatan untuk beristirahat.
Tragedi ATR 42-500: Penghormatan Terakhir bagi Para Pahlawan Kelautan
Upacara yang berujung pada insiden pingsannya Menteri Trenggono tersebut sejatinya digelar untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tiga personel terbaik KKP yang gugur dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500. Ketiga korban tersebut adalah Alm. Ferry Irawan, Alm. Yoga Naufal, dan Capt. Andy Dahananto. Mereka dinyatakan gugur saat menjalankan tugas kedinasan dalam sebuah penerbangan yang berakhir tragis di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau di Sulawesi Selatan. Kehilangan ini menjadi pukulan telak bagi keluarga besar Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengingat dedikasi yang telah diberikan oleh para korban selama masa pengabdian mereka.
Kronologi Penemuan dan Operasi SAR Gabungan
Pesawat ATR 42-500 tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak sejak tanggal 17 Januari 2026. Sejak saat itu, Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Basarnas, dan relawan, melakukan operasi pencarian intensif di medan yang sangat berat. Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, sebuah wilayah yang dikenal dengan topografi hutan lebat dan tebing-tebing curam yang sering diselimuti kabut tebal.
| Tanggal | Peristiwa Penting |
|---|---|
| 17 Januari 2026 | Pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak di wilayah Sulawesi Selatan. |
| 18-21 Januari 2026 | Operasi SAR gabungan dikerahkan melalui jalur udara dan darat di medan ekstrem. |
| 22 Januari 2026 | Prajurit TNI dan Tim SAR menemukan titik koordinat jatuh dan mengevakuasi enam korban. |
| 23 Januari 2026 | Proses identifikasi jenazah dilakukan secara mendalam di rumah sakit setempat. |
| 25 Januari 2026 | Upacara penghormatan dan penyerahan jenazah kepada keluarga di Jakarta. |
Berdasarkan siaran pers resmi dari Markas Besar TNI, penemuan para korban pada Kamis, 22 Januari 2026, merupakan hasil dari kerja keras tanpa henti tim SAR di lapangan selama lima hari berturut-turut. Kondisi bangkai pesawat yang hancur di lereng gunung menunjukkan betapa dahsyatnya benturan yang terjadi. Keberhasilan evakuasi ini setidaknya memberikan kepastian bagi pihak keluarga, meskipun harus diterima dengan duka yang mendalam. Menteri Trenggono, meski saat itu berada di London dan Davos, dilaporkan terus memantau setiap perkembangan dari jam ke jam, menunjukkan keterikatan emosional yang kuat antara pimpinan dan bawahan yang tengah berjuang di lapangan.
Kini, setelah insiden di Auditorium Madidihang, fokus utama kementerian selain melanjutkan tugas-tugas administratif adalah memastikan pemulihan total bagi Menteri Sakti Wahyu Trenggono. Di sisi lain, KKP juga berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait prosedur keselamatan penerbangan internal guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Semangat pengabdian yang ditunjukkan oleh Trenggono, hingga jatuh pingsan demi menghormati anak buahnya, menjadi catatan tersendiri mengenai dedikasi seorang pejabat publik di tengah badai krisis dan kedukaan nasional.


















