Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) menurut perhitungan kalender Masehi dijadwalkan akan mengguncang Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu, 31 Januari 2026, sebagai momentum bersejarah yang menandai satu abad dedikasi organisasi Islam terbesar di dunia ini bagi kemanusiaan. Perhelatan akbar tersebut bukan sekadar seremoni rutin tahunan, melainkan manifestasi dari visi besar “Merawat Jagat dan Membangun Peradaban” yang diusung oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf. Acara yang dijadwalkan berlangsung dari pagi hingga siang hari ini akan menjadi panggung bagi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk memberikan amanat kebangsaan di hadapan ribuan pengurus dari tingkat pusat hingga cabang, serta perwakilan lembaga dan badan otonom (Banom) NU dari seluruh penjuru tanah air guna mempertegas peran strategis kaum nahdliyin dalam menjaga stabilitas nasional dan perdamaian global di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.
Penyelenggaraan Harlah ke-100 versi Masehi ini memiliki makna simbolis yang sangat dalam bagi warga NU. Jika pada tahun 2023 lalu PBNU telah merayakan satu abad NU berdasarkan kalender Hijriah di Sidoarjo, maka peringatan pada Januari 2026 mendatang merupakan penggenapan satu abad perjalanan organisasi sejak didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Pemilihan Istora Senayan sebagai lokasi utama menunjukkan skala prioritas PBNU untuk menghadirkan resonansi yang kuat di jantung ibu kota, sekaligus memfasilitasi pertemuan akbar antara jajaran pimpinan struktural dengan para pemangku kepentingan negara. Persiapan intensif kini tengah dilakukan oleh panitia pelaksana untuk memastikan bahwa setiap aspek acara, mulai dari logistik hingga substansi materi yang akan disampaikan, mencerminkan martabat dan kebesaran Nahdlatul Ulama sebagai pilar penyangga keislaman dan kebangsaan di Indonesia.
Tema tersebut diangkat sebagai kelanjutan dari visi besar PBNU, yakni Merawat Jagat dan Membangun Peradaban. Narasi ini bukanlah slogan semata, melainkan sebuah peta jalan strategis yang dirancang untuk menjawab tantangan zaman di abad kedua NU. Dalam konteks “Merawat Jagat”, PBNU menekankan pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan harmoni ekosistem sebagai bagian dari tanggung jawab religius. Sementara itu, “Membangun Peradaban” merujuk pada upaya aktif NU dalam mereformasi wacana keislaman agar lebih adaptif terhadap nilai-nilai hak asasi manusia, demokrasi, dan perdamaian dunia. Visi ini telah dibawa oleh KH Yahya Cholil Staquf ke berbagai forum internasional, termasuk Forum Agama G20 atau R20, yang memposisikan NU sebagai aktor kunci dalam diplomasi peradaban global.
Menuju Satu Abad Masehi: Filosofi Mendalam di Balik Visi Global
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa orientasi organisasi saat ini telah bergeser dari sekadar penjagaan tradisi lokal menuju kontribusi nyata bagi tatanan dunia yang lebih adil. “Jam’iyyah ini didirikan dengan visi untuk membangun peradaban. Itu berarti bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, bukan hanya untuk kaum mu’minin, tapi juga untuk seluruh umat manusia,” ujar dia dengan nada penuh penekanan. Pernyataan ini menegaskan bahwa inklusivitas adalah ruh utama dari gerakan Nahdlatul Ulama. Di bawah kepemimpinannya, NU berupaya untuk tidak lagi terjebak dalam sekat-sekat sektarian, melainkan tampil sebagai pemberi solusi atas berbagai krisis kemanusiaan yang melanda dunia saat ini, mulai dari konflik agama hingga ketimpangan sosial ekonomi.
Implementasi dari visi universal ini terlihat dari bagaimana PBNU mengonsolidasikan seluruh elemen organisasinya. Dalam acara puncak di Istora Senayan nanti, seluruh Lembaga dan Badan Otonom (Banom) seperti GP Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, IPNU, dan IPPNU akan dilibatkan secara aktif. Keterlibatan Banom ini krusial karena mereka adalah ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan akar rumput. PBNU ingin memastikan bahwa pesan “Membangun Peradaban” ini terinternalisasi hingga ke tingkat desa melalui Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU). Meskipun acara pusat dipusatkan di Jakarta, PBNU juga memberikan keleluasaan bagi pengurus di daerah untuk menyelenggarakan peringatan secara mandiri, guna memastikan gema satu abad ini dirasakan oleh seluruh warga nahdliyin tanpa terkecuali.
Sinergi Nasional dan Kehadiran Presiden Prabowo Subianto
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam acara ini menjadi sorotan utama. Sebagai kepala negara, kehadiran beliau melambangkan pengakuan pemerintah atas kontribusi tak terhingga NU dalam sejarah kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. PBNU berharap Presiden dapat menyampaikan amanat yang mampu menyatukan visi pemerintah dengan gerak langkah NU ke depan. Hubungan antara ulama dan umaro (pemerintah) yang harmonis merupakan kunci stabilitas nasional. Dalam tabel berikut, dapat dilihat rincian rencana agenda puncak peringatan Harlah ke-100 NU di Istora Senayan:
| Agenda Utama | Keterangan | Peserta/Tamu |
|---|---|---|
| Istighosah Kubro | Doa bersama untuk keselamatan bangsa dan dunia | Ulama Sepuh & Mustasyar |
| Amanat Kebangsaan | Pidato resmi mengenai arah masa depan Indonesia | Presiden Prabowo Subianto |
| Pidato Peradaban |
Leave a Reply |


















