Dalam sebuah perhelatan politik yang mengguncang lanskap Belanda, Rob Jetten, seorang figur progresif dari Partai D66, secara mengejutkan telah menorehkan sejarah baru. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, Jetten berhasil mentransformasi partainya dari posisi kelima menjadi kekuatan dominan di kancah politik nasional. Puncaknya, pada Senin, 23 Februari, pria berusia 38 tahun ini dilantik sebagai Perdana Menteri Belanda termuda sepanjang sejarah negara tersebut, sekaligus mencatat rekor sebagai pemimpin Belanda pertama yang secara terbuka mengakui dirinya sebagai seorang gay. Perjalanan karier Jetten yang fenomenal ini, yang diwarnai optimisme dan tantangan, kini menempatkannya di garda terdepan dalam memimpin pemerintahan minoritas yang berhaluan kanan-tengah, berkolaborasi dengan Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) serta Aliansi Demokrat Kristen (CDA). Situasi pemerintahan minoritas ini mengharuskan setiap reformasi besar harus melalui negosiasi suara demi suara di kedua majelis parlemen, sebuah ujian berat bagi kepemimpinan Jetten yang baru saja mengemban amanah.
Kenaikan Rob Jetten ke tampuk kekuasaan adalah sebuah narasi yang sarat dengan optimisme dan resonansi publik. Selama kampanye pemilihan umum Belanda pada Oktober 2025, Jetten menjadi magnet perhatian media massa, mengungguli para pesaing politiknya. Senyumannya yang tulus dan pesan-pesan optimis yang disampaikannya berhasil menyentuh hati para pemilih, menciptakan kontras yang mencolok dengan gaya kampanye lawan-lawannya. Hampir setiap malam selama periode kampanye, wajah Jetten menghiasi layar televisi, sebuah strategi komunikasi yang efektif untuk menjangkau khalayak luas. Bahkan, ia turut berpartisipasi dalam sebuah acara televisi bertajuk “Orang Terpintar,” yang rekaman acaranya telah dilakukan beberapa bulan sebelum kampanye berlangsung. Namun, pencapaian terbesarnya dalam kampanye adalah keberhasilannya merangkum visi positifnya dalam slogan yang terinspirasi oleh Barack Obama, yaitu “Het kan wel,” yang berarti “Ya, kita bisa.” Slogan ini menjadi penanda semangat kolektif dan keyakinan akan kemampuan untuk mewujudkan perubahan.
Jejak Perdana Menteri Gay Pertama
Selain memecahkan rekor usia, Rob Jetten juga mencetak sejarah sebagai Perdana Menteri Belanda pertama yang secara terbuka mengidentifikasi diri sebagai seorang gay. Sejak usia muda, Jetten telah menunjukkan minat yang mendalam pada dunia politik. Tumbuh di sebuah kota kecil di provinsi Brabant selatan, ia telah berani mengungkapkan orientasi seksualnya di usia yang relatif muda. Meskipun Jetten tidak menjadikan kehidupan pribadinya sebagai sorotan utama dalam identitas politiknya, ia pernah secara vokal menyuarakan pentingnya kesetaraan dan keberanian. Lima tahun lalu, Jetten mengunggah sebuah video yang menampilkan dirinya membacakan daftar panjang pesan-pesan homofobik yang diterimanya melalui ponsel. Tindakan ini dilakukannya sebagai bentuk solidaritas dan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya Hari Internasional Melawan Homofobia, Transfobia, dan Bifobia. Saat ini, Jetten telah bertunangan dengan Nicolás Keenan, seorang pemain hoki asal Argentina, dan keduanya berencana untuk melangsungkan pernikahan pada tahun ini. Pengakuan publik atas orientasi seksualnya ini menjadi simbol kemajuan dan inklusivitas di Belanda.
Jetten merupakan salah satu anggota awal dari partai D66, sebuah partai sentris yang mengusung ideologi progresif dan liberal. Potensi Jetten telah lama dikenali oleh para pemimpin partai. Setelah meniti karier selama beberapa tahun di jaringan kereta api Belanda, ProRail, Jetten terpilih sebagai anggota parlemen pada tahun 2017. Ia juga sempat mengemban beberapa posisi kepemimpinan sebelum akhirnya menjabat sebagai Menteri Iklim di bawah pemerintahan Perdana Menteri Mark Rutte (2010-2024), yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal NATO. Namun, perjalanan karier politik Jetten tidak selalu mulus dan tanpa hambatan. Pengalaman-pengalaman ini tampaknya telah membentuk ketahanan dan determinasi yang membawanya ke posisi saat ini.
‘Jetten si Robot’ dan Bayang-bayang Stabilitas
Meskipun memiliki ambisi besar, karier Jetten sempat diwarnai kritik. Seorang kolega di parlemen pernah mengeluhkan sikapnya yang dianggap “keras kepala” dalam menangani isu iklim. Ambisinya sebagai menteri sempat terganjal oleh lonjakan harga energi yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina. Lebih lanjut, kampanye D66 yang dipimpin Jetten pada tahun 2023 tidak membuahkan hasil yang signifikan, hanya berhasil meraih sembilan kursi di parlemen. Beberapa kritikus bahkan menjulukinya “Jetten si Robot” karena dianggap kurang luwes dan membosankan dalam beberapa penampilannya di media massa. Julukan ini sempat menjadi sorotan ketika seorang jurnalis menyuarakan ketidakpercayaannya atas kemenangan Jetten dengan seruan, “Jetten si Robot akan menjadi perdana menteri!” Namun, Jetten sendiri menanggapinya dengan senyum lebar, mengakui bahwa dalam politik, hal-hal yang tak terduga bisa saja terjadi. Di sisi lain, para pendukungnya melihat Jetten sebagai sosok yang mirip dengan Mark Rutte versi muda. Perbandingan ini sangat relevan mengingat stabilitas yang identik dengan era pemerintahan Rutte. Keduanya dikenal memiliki sikap yang ceria, pragmatis, dan dikenal sebagai politisi yang sangat pekerja keras. Namun, rekan partai Jetten, Roy Kramer, menyoroti perbedaan halus di antara keduanya, menyatakan bahwa “Rutte sangat banyak bicara, Jetten sedikit lebih pendiam.” Perbedaan gaya ini mungkin akan membentuk corak kepemimpinannya yang unik.
Dalam pemilihan umum Oktober 2025, Jetten dihadapkan pada persaingan ketat dengan Geert Wilders, seorang politisi anti-Islam yang kontroversial. Pertarungan ini menjadi salah satu momen krusial dalam menentukan arah politik Belanda ke depan.
Tantangan Besar dan Momen Canggung
Sebagai Perdana Menteri, Rob Jetten dihadapkan pada tantangan yang monumental. Salah satu isu paling mendesak yang harus diatasi adalah krisis perumahan yang melanda Belanda, dengan defisit mencapai sekitar 400.000 unit rumah. Jetten memiliki visi ambisius untuk membangun sepuluh kota baru, sebuah proyek yang menunjukkan keinginannya untuk melakukan terobosan signifikan. Ia seringkali mengeluhkan kurangnya pencapaian besar yang mengesankan dari pemerintah Belanda dalam satu hingga dua dekade terakhir. Dengan janji-janji besar yang telah diutarakan, Jetten kini berada di bawah tekanan untuk mewujudkan aspirasinya. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada ketahanan politik yang tak tergoyahkan, sebuah kualitas yang memungkinkan Mark Rutte bertahan selama empat periode pemerintahan. Namun, perjalanan Jetten tidak luput dari momen-momen canggung. Selama kampanye, ia pernah membuat lelucon yang dianggap problematis mengenai Putri Mahkota Amalia di hadapan sekitar 2.000 mahasiswa di Rotterdam. “Saya pikir cara terbaik untuk mempromosikan dinas militer adalah dengan berlatih bersama Putri Mahkota. Saya yakin lebih dari beberapa dari Anda akan tertarik,” ujar Jetten saat itu. Komentar tersebut segera menuai reaksi dari moderator debat yang menyebutnya sebagai “komentar seksis.” Meskipun Jetten kemudian mengakui bahwa komentarnya tidak pantas, insiden tersebut tampaknya tidak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap elektabilitasnya.
Pada tanggal 23 Februari lalu, Rob Jetten secara resmi dilantik sebagai Perdana Menteri oleh Raja Willem-Alexander di Istana Huis ten Bosch, Den Haag. Momen ini menandai babak baru dalam karier politiknya dan sejarah Belanda. Melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) sebelum upacara pelantikan, Jetten mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini, menyatakan, “Bangga melakukan ini bersama. Menuju tahap baru, dengan tanggung jawab besar dan, yang terpenting, dengan janji bersama untuk bekerja untuk semua orang di Belanda. Tidak terpaku pada apa yang salah, tetapi membangun apa yang dapat diperbaiki. Itu membutuhkan keberanian dan kolaborasi.” Di Belanda, orientasi seksual Jetten nyaris tidak menjadi isu sentral dalam kampanye, sebuah indikasi kuat mengenai tingkat kesetaraan dan penerimaan di negara tersebut. Namun, secara global, Jetten menjadi bagian dari kelompok kecil pemimpin negara yang secara terbuka mengakui identitas seksual mereka sebagai gay. Bagi banyak orang di dunia, di mana pengakuan identitas seksual masih dapat membawa risiko nyata, melihat seorang pria gay menduduki jabatan tertinggi sebagai perdana menteri merupakan sebuah momen penting yang mampu mendobrak batasan gender dan norma sosial. Setelah pelantikannya, Jetten mengunggah foto resmi di Instagram dengan pesan yang penuh semangat, “Mari kita mulai bekerja.”

















